Petikhasil.id, CIREBON – Minat masyarakat terhadap usaha peternakan ayam broiler terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik potensi keuntungan yang besar, banyak peternak pemula justru mengalami kegagalan di awal usaha. Pemilik Ken Farm Cirebon, Satrio Wicaksono, mengungkap tiga kesalahan utama yang paling sering dilakukan pemula hingga menyebabkan kerugian besar.
Menurut Satrio, sebagian besar kegagalan terjadi bukan karena modal yang kurang, tetapi karena peternak tidak memahami karakter ayam dan tidak menjalankan manajemen kandang secara disiplin.
“Banyak orang bisa bangun kandang, tapi tidak bisa mengurus ayam. Ayam itu sensitif. Salah sedikit saja bisa membuat satu siklus gagal,” kata Satrio saat ditemui di peternakannya di Cirebon.
1. Tidak Memahami Kenyamanan Ayam
Kesalahan pertama yang paling sering membuat ayam tidak tumbuh optimal adalah ketidakmampuan peternak membaca kenyamanan ayam di kandang. Satrio menegaskan bahwa kenyamanan ayam merupakan faktor utama untuk mencapai bobot ideal sesuai target.
Ia mengatakan bahwa standar teknis dari integrator memang penting, namun kondisi lapangan harus disesuaikan dengan perilaku ayam setiap hari.
“Standar bukan patokan mutlak. Kita harus lihat ayamnya. Kalau ayam bergerombol, artinya kedinginan. Kalau menyebar ke pinggir kandang, itu kepanasan,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengaturan suhu pada DOC (ayam baru datang). Meskipun standar sistem menyarankan suhu sekitar 33 derajat, kondisi tersebut tetap perlu disesuaikan dengan respons ayam.
“Kalau terlihat pengap, kipas harus dinaikkan. Kalau terlalu dingin, heater harus ditambah. Peternak tidak boleh hanya mengandalkan angka di panel,” katanya.
Konsekuensi dari ketidaktahuan ini:
- Pertumbuhan ayam tidak merata
- Konsumsi pakan menurun
- Risiko penyakit meningkat
- Ayam stres dan mudah mati
Menurut Satrio, kemampuan membaca perilaku ayam merupakan bagian dari “seni” dalam beternak yang hanya bisa dikuasai melalui pengamatan langsung setiap hari.
Baca lainnya:
2. Terlalu Mengandalkan Kemitraan Tanpa Pengawasan
Kesalahan kedua adalah peternak menyerahkan seluruh pekerjaan kepada integrator atau anak kandang tanpa pengawasan pemilik. Satrio menyebut hal ini sebagai kesalahan fatal.
“Semua peternak pemula menyerahkan semuanya ke kemitraan. Dikiranya kalau ikut kemitraan selesai semua urusan. Padahal ayam itu berubah setiap jam, bukan setiap minggu,” ucapnya.
Dalam kemitraan, integrator memang menyediakan DOC, pakan, obat, dan standar operasional. Namun pemilik tetap wajib memahami:
- Cara pemberian pakan per umur
- Teknik mengontrol ventilasi
- Penanganan penyakit sejak gejala awal
- Kebersihan dan kelembaban sekam
- Jadwal vaksin dan vitamin
Jika semua hanya diserahkan pada pekerja kandang, peluang terjadinya kelalaian semakin besar.
“Peternak harus turun langsung. Tidak boleh hanya menerima laporan. Harus lihat sendiri kondisi kandang,” kata Satrio.
Menurutnya, banyak kasus kegagalan terjadi karena pemilik tidak memahami teknis budidaya, sehingga tidak bisa mengambil keputusan cepat ketika ada masalah.
3. Tidak Mampu Mengendalikan Kebocoran Operasional
Kesalahan ketiga adalah kebocoran operasional, yang menurut Satrio merupakan masalah paling sering menimbulkan kerugian besar. Ia menegaskan bahwa pengawasan internal menjadi hal paling sulit bagi peternak pemula.
“Kebocoran itu banyak bentuknya. Pakan tidak sesuai laporan, vitamin tidak diberikan, ayam mati tidak dilaporkan, bahkan ada yang menjual ayam di belakang pemilik,” ujarnya.
Ia menyebut, dalam bisnis peternakan, peluang terjadinya kecurangan sangat besar jika pemilik tidak disiplin dalam melakukan pengecekan.
Beberapa bentuk kebocoran operasional:
- Pencurian pakan secara bertahap
- Penggunaan obat dan vitamin tidak sesuai takaran
- Stok pakan dilaporkan berbeda dengan realita
- Penjualan ayam kecil tanpa sepengetahuan pemilik
- Manipulasi angka kematian ayam
“Peternak yang tidak hadir di lapangan pasti akan mengalami kebocoran. Manajemen harus diperketat. Pakan harus ditimbang setiap hari, kandang harus diaudit,” tegasnya.
Pesan untuk Peternak Pemula
Dengan pengalaman panjang menangani ratusan ribu ekor ayam, Satrio memberikan pesan untuk anak muda yang ingin memulai bisnis ayam broiler.
“Harus sabar, harus siap gagal, dan jangan menyerahkan semuanya ke orang lain. Peternak harus ikut kerja, bukan hanya mengawasi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa rezeki dalam peternakan sangat bergantung pada usaha pemilik.
“Kamu bisa meniru strategi saya, tapi tidak bisa meniru takdir Tuhan. Rezeki tidak mungkin tertukar,” kata Satrio.






