Petikhasil.id, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan potensi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% mencapai 16,55 juta ton sepanjang Januari-Desember 2025.
Untuk diketahui, Jagung pipilan kering adalah biji jagung yang telah dipisahkan dari tongkolnya melalui proses pemipilan dan kemudian dikeringkan hingga kadar air rendah, biasanya sekitar 14-15%, untuk meningkatkan daya tahan simpan dan mencegah pembusukan.
Proses ini membuatnya lebih tahan lama dibandingkan jagung basah, sehingga cocok untuk penyimpanan jangka panjang hingga hitungan tahun dengan pengelolaan yang tepat.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan produksi jagung pipilan kering kadara air 14% itu meningkat 1,41 juta ton atau 9,34% dibandingkan dengan Januari-Desember 2024.
Peningkatan produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sepanjang 2025 utamanya disumbang oleh peningkatan produksi pada subround I (Januari-April 2025) yang naik 19,77% dari periode yang sama tahun lalu menjadi 6,01 juta ton.
Secara terperinci, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sepanjang Januari-Desember 2025 itu terdiri dari 1,24 juta ton pada Januari 2025, 1,86 juta ton pada Februari, 1,63 juta ton pada Maret, dan 1,27 juta ton pada April 2025.
Kemudian, sebanyak 989.190 ton pada Mei 2025, 1,55 juta ton pada Juni 2025, 1,47 juta ton pada Juli 2025, dan 1,39 juta ton pada Agustus 2025. Berikutnya, 1,34 juta ton pada September 2025, 1,23 juta ton pada Oktober 2025, 1,37 juta ton pada November 2025, dan 1,17 juta ton pada Desember 2025.
Baca Laainya: Bulog Salurkan 3.695 Ton Jagung SPHP untuk Tekan Harga Pakan Peternak | Jagung Jadi Pilar Ketahanan Pangan Indonesia
Data BPS menunjukkan, setidaknya ada sepuluh sentra produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sepanjang Januari-Desember 2025, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Gorontalo, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan.
Lebih lanjut, potensi produksi jagung pipilan kering ini sejalan dengan luas panen yang diperkirakan seluas 2,79 juta hektare, atau naik 9,40% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Dengan demikian, BPS mencatat potensi luas panen jagung pipilan sepanjang Januari—Desember 2025 diperkirakan seluas 2,79 juta hektare atau naik 9,40% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu seluas 2,55 juta hektare.
“Potensi luas panen ini sudah termasuk tanaman jagung yang akan dipanen bukan untuk dipipil, misalnya yang dipanen muda atau dipanen untuk hijauan pakan ternak,” kata Pudji dalam Rilis BPS, dikutip Kamis (6/11/2025).
Meski begitu, Pudji menjelaskan angka potensi tersebut masih dapat berubah tergantung pada kondisi petanaman jagung sepanjang September—November tahun ini, yakni mulai dari serangan hama atau organisme pengganggu tanaman, kemudian banjir, kekeringan, dan waktu pelaksanaan panen oleh petani.***






