Petikhasil.id, CIREBON — Di tengah ladang jagung dan pematang sawah yang menguning, Ken Farm berdiri seperti laboratorium hidup. Kandang broiler modernnya memanjang, lengkap dengan kipas besar, cooling pad, dan panel digital yang tak pernah tidur. Namun teknologi itu hanya separuh cerita. Separuh lainnya adalah tangan-tangan manusia yang bekerja setiap hari, memastikan ribuan ayam tumbuh dalam kondisi yang sempurna.
Di tempat inilah, perjalanan protein sebagian warga Jawa Barat bermula. Dari daging ayam goreng di warung pinggir jalan hingga bakso di kantin sekolah, semuanya bisa jadi bermula dari kandang sunyi ini. “Ayam sekarang bukan makanan mewah. Semua orang butuh,” ujar pemilik Ken Farm kepada Petik Hasil. Pernyataannya bukan sekadar observasi ini adalah kenyataan yang mendorong pertanian, perdagangan, dan ekonomi desa bergerak setiap hari.
Teknologi Tinggi yang Tetap Bergantung pada Naluri
Kandang close house di Ken Farm mengatur suhu, cahaya, dan udara. Temptron dan Vento memastikan kipas bekerja dalam ritme, menjaga suhu tetap stabil bahkan dalam puncak musim panas. Air mengalir melalui dosatron, mencampur vitamin tanpa campur tangan tangan manusia. Tetapi meski mesin dapat memberi angka pasti, ayam tidak hidup dari angka. Ayam hidup dari kenyamanan.
Ayam kecil, misalnya, biasanya membutuhkan suhu 33 derajat. Namun jika ayam terlihat malas makan, bergerombol terlalu rapat, atau terlihat megap-megap, peternak harus menurunkan suhu. Standar hanyalah panduan. Keputusan akhir selalu datang dari kepekaan peternak membaca perilaku hewan. Di sinilah teknologi dan intuisi berpadu.
Pada usia 20-an hari, konsumsi pakan meningkat drastis. Satu kandang menghabiskan sekitar sembilan ton pakan per hari. Jika lima kandang beroperasi penuh, angka itu melonjak menjadi 45 ton dalam sehari. Angka yang menggambarkan betapa besar volume logistik pangan yang digerakkan peternakan broiler modern seperti Ken Farm.
Ruang Sunyi yang Penuh Risiko
Dari luar, kandang nampak damai. Namun di dalamnya, dunia broiler adalah dunia dengan batas waktu sangat ketat. Listrik tidak boleh padam lebih dari lima menit. Cooling pad tidak boleh terlambat turun. Sekam tidak boleh lembap terlalu lama. Ayam tidak boleh padat berlebihan. Dan cuaca tidak boleh berubah tiba-tiba tanpa persiapan.
Ken Farm pernah merasakan pahitnya kegagalan. Dalam satu siklus, listrik padam dan genset terlambat hidup. Dalam hitungan menit, suhu melonjak dan ribuan ayam kolaps. Pada siklus lain, banjir datang ketika hujan turun sepanjang malam. Air merembes ke dalam kandang dan menenggelamkan ribuan ekor.
Berita Lainya: Lima Menit Mati Listrik, Satu Kandang Ayam Bisa Rontok Total | Dari Bisnis Pestisida ke Peternakan Ayam, Perjalanan Ken Farm Cirebon yang Inspiratif
Risiko juga datang dari pasar. Ada masa ketika harga ayam jatuh ke titik terendah. Ayam yang seharusnya dipanen pada umur 35–40 hari terpaksa ditahan hingga 67 hari. Pada umur itu, ayam tidak lagi efisien makan. Pakan habis, bobot stagnan, dan pekerja harus bekerja lebih keras.
“Di peternakan, kita tidak hanya menghadapi hewan. Kita menghadapi cuaca, harga, mesin, dan waktu,” kata pemilik Ken Farm.
Rantai Panjang yang Menghidupi Banyak Orang
Ken Farm mempekerjakan sekitar 30 pekerja tetap, belum termasuk tenaga panen dan pekerja harian yang datang ketika siklus masuk masa sibuk. Setiap orang memiliki peran: mandor mengatur ritme kandang, teknisi memeriksa mesin, pekerja kandang menabur sekam dan memantau perilaku ayam, dan pekerja panen memilah ayam yang siap diangkut.
Dari Ken Farm, ayam-ayam itu akan bergerak ke rumah potong, kemudian toko frozen food, lalu warung, restoran, hingga pasar tradisional. Setiap titik di rantai itu menghidupi seseorang. Setiap ayam yang keluar dari kandang ini adalah rezeki yang berjalan.
Di desa sekitar Ken Farm, perputaran ekonomi terasa jelas. Warung makan ramai karena pekerja butuh makan setiap hari. Penjual sayur laku karena keluarga pekerja kandang berbelanja. Tukang servis genset mendapat pekerjaan rutin. Petani jagung mendapat pasar yang stabil. Broiler bukan sekadar bisnis hewan, melainkan mesin ekonomi yang menyentuh banyak lini.
Kandang Modern sebagai Ruang Belajar
Banyak anak muda datang ke Ken Farm untuk belajar. Mereka ingin melihat langsung bagaimana kandang otomatis bekerja, bagaimana suhu diatur, bagaimana bobot dihitung, hingga bagaimana biosekuriti diterapkan. Semua itu tidak mereka temukan di buku pelajaran sekolah.
Pemilik Ken Farm selalu mengatakan hal yang sama: teknologi hanya alat. Yang paling penting adalah karakter. Peternak yang baik harus mau bangun pagi, mau masuk kandang setiap hari, mau menghadapi bau, mau menerima risiko. Peternakan adalah kerja nyata, bukan bisnis yang bisa dikelola dari jauh.
“Orang bisa tiru kandang saya, tapi tidak bisa tiru pengalaman saya,” ujarnya tersenyum.
Dan dari setiap siklus ayam yang berhasil, Ken Farm selalu mencoba memperbaiki diri mencari cara agar ayam lebih nyaman, agar pekerja lebih aman, dan agar desa di sekitar tetap memiliki sumber kehidupan yang stabil. (Vry)






