Petikhasil.id, BANDUNG — Bisnis kopi modern di Indonesia belum menunjukkan tanda melambat. Di banyak kota, kedai baru terus bermunculan, menu makin beragam, dan kopi semakin akrab sebagai bagian dari gaya hidup harian. Di tengah arus itu, Fore Coffee menjadi salah satu nama yang paling menonjol sepanjang 2025. Berdasarkan siaran pers perusahaan yang kemudian dikutip sejumlah media bisnis, Fore membukukan pendapatan sekitar Rp1,5 triliun pada 2025, laba bersih Rp90,13 miliar, dan memiliki 316 gerai aktif hingga akhir tahun.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa pasar kopi siap minum masih sangat kuat. Namun, bagi sektor pertanian, pertanyaan pentingnya bukan hanya soal berapa banyak gerai dibuka atau seberapa besar laba dicetak. Yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan di hilir benar-benar ikut memperbaiki posisi petani di hulu, atau justru hanya mempertebal geliat konsumsi di kota.
Baca Lainya: Dari Hulu ke Hilir: Kopi Bunar Bangun Rantai Nilai, Tembus Pasar Internasional | Regenerasi Petani: Kelas Kebun Tiap 2 Minggu, Targetnya Anak Muda Kembali ke Ladang
Kopi modern tumbuh cepat di kota
Dari sisi bisnis, kinerja Fore memang mencerminkan ekspansi yang agresif. Jaringan gerainya tumbuh dari 231 gerai pada akhir 2024 menjadi 316 gerai pada akhir 2025. Perusahaan juga menambah lini usaha lewat Fore Donut, yang mulai diperkenalkan pada 2025. Secara korporasi, ini menandakan satu hal sederhana: kopi masih menjadi pasar yang sangat menjanjikan di Indonesia, terutama di tengah budaya nongkrong, kerja fleksibel, dan konsumsi minuman siap saji yang terus berkembang.
Tetapi pertumbuhan seperti ini juga perlu dibaca dengan hati-hati. Ketika perusahaan menyampaikan hasil keuangan yang baik, narasinya mudah sekali terdengar seperti kabar kemenangan tunggal. Padahal, kopi bukan hanya soal gerai yang ramai dan penjualan yang naik. Ia adalah hasil bumi yang memulai hidupnya jauh sebelum sampai ke mesin espresso, yakni di kebun, di lereng, dan di tangan petani yang menunggu panen dengan risiko yang tidak kecil.
Jawa Barat punya kebun kopi, bukan hanya pasar kopi
Jawa Barat sering dibaca sebagai pasar kopi yang hidup, tetapi sesungguhnya provinsi ini juga penting di sisi produksi. Data BPS Jawa Barat menunjukkan produksi kopi di Jawa Barat mencapai 25.561,71 ton pada 2024. Itu berarti setiap geliat kopi di kota-kota Jawa Barat seharusnya juga mengingatkan kita pada kenyataan bahwa kopi bukan hanya komoditas gaya hidup, melainkan hasil pertanian yang menopang banyak rumah tangga di tingkat desa.
Masalahnya, hubungan antara kedai kopi modern dan petani tidak selalu lurus. Ledakan konsumsi di kota belum otomatis menjamin kesejahteraan di kebun. UGM dalam laporan terbarunya bahkan menegaskan bahwa pertumbuhan kedai kopi belum signifikan meningkatkan produktivitas maupun kesejahteraan petani. Penyebabnya berlapis, mulai dari produktivitas kebun yang rendah, kualitas biji yang tidak selalu konsisten, hingga praktik penjualan hasil panen yang masih bergantung pada tengkulak.
Di sinilah optimisme industri kopi perlu ditahan sejenak. Kenaikan konsumsi memang penting. Ekspansi gerai juga bisa menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap kopi lokal tetap terbuka. Tetapi tanpa perbaikan yang serius di tingkat budidaya, pascapanen, dan posisi tawar petani, keuntungan terbesar bisa berhenti di tengah rantai pasok dan tidak pernah benar-benar sampai ke hulu.
Jarak dari cangkir ke kebun masih panjang
Kopi sering tampak sederhana di meja konsumen. Ia hadir rapi dalam gelas, diberi nama menu yang menarik, lalu selesai sebagai pengalaman rasa. Padahal, jalan menuju satu cangkir kopi cukup panjang. Ada perawatan kebun yang memakan waktu tahunan, ada panen yang sangat dipengaruhi cuaca, ada proses sortir dan pengeringan, lalu ada persoalan mutu yang menentukan harga. Semua itu bekerja jauh dari sorotan etalase kedai.
UGM mencatat bahwa hanya sekitar 75 persen areal perkebunan kopi di Indonesia yang saat ini dapat diarahkan untuk peningkatan produktivitas, sementara sekitar 10 persen lahan masih dalam kondisi rusak. Di saat yang sama, kualitas biji kopi juga dinilai cenderung berfluktuasi. Artinya, persoalan utama di sektor kopi Indonesia bukan sekadar menjual lebih banyak minuman, tetapi bagaimana menjaga mutu dan produktivitas dari hulunya.
Kalau dibaca dari sudut pandang Petik Hasil, maka cerita tentang Fore tidak cukup ditempatkan sebagai berita perusahaan yang sedang bertumbuh. Cerita ini lebih tepat dibaca sebagai potret tentang kuatnya industri hilir kopi Indonesia, sekaligus pengingat bahwa rantai pasoknya masih menyimpan pekerjaan rumah besar. Bisnis bisa bertambah cepat, tetapi pertanian tidak pernah bergerak secepat itu. Tanaman kopi perlu waktu. Petani perlu kepastian. Dan kualitas tidak lahir dari ekspansi gerai saja.
Pertumbuhan yang sehat harus terasa sampai hulu
Tidak ada yang salah dengan perusahaan kopi yang berkembang. Justru pasar yang hidup bisa membuka kesempatan lebih besar bagi kopi lokal untuk terserap. Namun pertumbuhan yang sehat seharusnya tidak berhenti pada jumlah outlet, omzet, atau margin laba. Ia seharusnya juga bisa dibaca dari hal yang lebih sunyi: apakah petani makin kuat, apakah mutu kebun makin baik, dan apakah nilai tambah makin banyak tinggal di desa.
Itulah sebabnya, berita tentang kinerja Fore sebaiknya tidak dibawa sebagai selebrasi tunggal. Lebih adil bila ia diposisikan sebagai cermin bahwa industri kopi Indonesia memang sedang besar, tetapi belum otomatis seimbang. Di satu sisi ada kota yang menikmati ragam minuman kopi modern. Di sisi lain, ada kebun yang masih berjuang dengan produktivitas, kualitas, dan harga jual yang belum selalu ramah.
Baca Lainya: Dari Hulu ke Hilir: Kopi Bunar Bangun Rantai Nilai, Tembus Pasar Internasional | Regenerasi Petani: Kelas Kebun Tiap 2 Minggu, Targetnya Anak Muda Kembali ke Ladang
Pada akhirnya, secangkir kopi tidak pernah berdiri sendiri. Di dalamnya ada pasar, ada tren, ada bisnis, tetapi juga ada kebun dan tangan-tangan petani yang bekerja lebih dulu. Kalau industri kopi modern ingin disebut tumbuh matang, maka ukuran keberhasilannya tidak cukup berhenti di kasir. Ia baru benar-benar utuh ketika denyut pertumbuhan itu ikut terasa sampai ke lereng tempat kopi ditanam. (PtrA)






