PetikHasil.id, CIAMIS — Di tengah gempuran ayam broiler yang cepat panen dan ayam kampung yang sudah akrab di lidah, ada satu nama yang pelan-pelan kembali disebut di warung, kandang, dan ruang-ruang diskusi peternak ayam Sentul. Unggas khas dari Ciamis, Jawa Barat, ini dikenal berkarakter pertumbuhannya lebih cepat dibanding ayam kampung biasa, dengan cita rasa daging yang khas. Di balik kebangkitannya, ada seorang perempuan yang memilih jalan panjang Qonny Ilma Nafianti, pemilik Komapifarm (Qomafi Farm), yang menyebut ayam Sentul bukan sekadar komoditas, melainkan warisan genetik yang harus dijaga bersama.
“Ayam Sentul itu kebanggaan orang Ciamis. Genetik asli ini harus kita jaga,” kata Qonny, kepada Petik Hasil. Kalimatnya terdengar sederhana, tapi di baliknya ada tahun-tahun belajar, percobaan yang gagal, dan pasar yang tumbuh lebih cepat daripada kandang-kandang yang siap memenuhinya.
Warisan yang Hidup di Banyak Rumpun
Nama “Sentul” bukan satu rupa. Di kandang-kandang pembibit, para peternak menyebut Sentul Geni, Omas, Batu, Jambe, Lebu, dengan pejantan yang dikenal sebagai Pituin (JP) hingga Sulangi. Keragaman ini bukan sekadar variasi warna dan corak; ia adalah jejak genetika yang menyimpan ketahanan, karakter pertumbuhan, dan selera pasar. Qonny melihatnya sebagai modal kultural dan ekonomi sekaligus. “Kalau kita bisa menjaga rumpun-rumpunnya tetap sehat sambil membuktikan performa di lapangan, orang akan percaya lagi pada unggas lokal,” ujarnya.
Dari Pahit ke Paham, Pelajaran Pakan yang Mahal
Kisah Qonny bukan kisah combong tanpa luka. Di masa-masa awal, ia mengakui pakan menjadi batu uji paling berat. “Kita pernah pakai daun singkong. Ternyata, setelah hujan lalu panas, kandungan sianida naik. Dua ribu ekor jadi biru semua.” Dalam satu kalimat, terselip rugi, cemas, dan pelajaran yang membentuk cara berpikirnya kini: pakan harus ilmiah sekaligus dekat dengan sumber daya sekitar.
Dari situ, Qonny berbalik arah. Ia meracik pendekatan pakan hayati menggabungkan pakan pabrikan sebagai konsentrat seperlunya, lalu memaksimalkan limbah pertanian, hijauan pakan ternak, dan sisa dapur yang difermentasi. Di pembibitan, komposisi diatur agar induk betina tidak “jenuh lemak” yang bisa menurunkan kualitas telur. Di pembesaran, bahan lokal seperti dedak, keong sawah, rucah ikan, dan hijauan fermentasi dimanfaatkan untuk menjaga biaya pakan tetap ringan namun pertumbuhan stabil. Prinsipnya jelas: efisien dengan ilmu, hemat tanpa mengorbankan performa.
“Biaya pakan di unggas bisa makan 70–80%,” Qonny mengingatkan. “Dengan pakan hayati, kami mengejar angka biaya jauh lebih rendah. Targetnya sekitar 20% dari total biaya, sambil tetap menjaga produktivitas.” Ia tidak menyebutnya keajaiban; ia menyebutnya disiplin fermentasi yang benar, proporsi yang tepat, dan evaluasi rutin.
Pasar Berlari Lebih Cepat
Uniknya, hambatan Komapifarm hari ini bukan lagi soal “jual ke mana”, melainkan bagaimana mengejar permintaan yang datang lebih cepat daripada produksi. Qonny menyebut permintaan DOC (day-old chick) untuk ayam Sentul mendekati 10.000 ekor per minggu, sementara kemampuan produksi bersama mitra baru di kisaran 5.100-5.500 ekor. Jurang itu terlihat jelas saat pasar pedaging meminta kontrak rutin untuk wilayah Jakarta dan Cikarang. “Hambatannya bukan pasar, tapi kapasitas. Kita belum bisa konsisten memenuhi kuota harian sesuai standar industri,” katanya.
Berita Lainya: 5 Jenis Ayam Sentul Asli Jawa Barat yang Perlu Kamu Tahu | Tips Budidaya Ayam Sentul ala Qonny Ilma Nafianti: Dari Pakan Hayati Hingga Kemitraan
Konsistensi itulah kata yang terus ia ulang. Di peternakan rakyat, panen jarang serentak; kandang A panen hari ini, kandang B pekan depan, kandang C menyusul. Untuk pasar modern yang menuntut volume dan jadwal tetap, ritme seperti ini menuntut organisasi yang lebih rapi.
Satu Suara Melawan Harga yang Ditekan
Di sinilah Fosil Pas (Forum Silaturahmi Peternak Ayam Sentul) memainkan peran. Forum yang kini beranggotakan lebih dari 160 peternak itu lahir dari kebutuhan sederhana: berkumpul, menyusun jadwal, dan menjual bersama. Qonny menyebutnya “payung” yang menahan gerimis dan panas mengurangi jeratan broker, menata standar, membagi informasi, dan saling menguatkan ketika harga coba-coba ditekan.
“Kita tidak mau jalan sendiri-sendiri. Kalau pasarnya besar, masuknya harus bareng. Jadwal panen disusun, pembagian order jelas, dan mutu dijaga,” ujarnya. Pola ini memang tidak menyelesaikan semua soal seketika, tetapi ia meratakan pijakan peternak kecil punya suara, pembeli mendapat kepastian, dan reputasi ayam Sentul terjaga.
Menjahit Hulu ke Hilir
Qomafi farm memilih tidak berhenti di satu titik. Selain telur konsumsi dan DOC, mereka menangani calon indukan pedaging, bibit produktif, ayam karkas, bahkan olahan siap masak seperti ayam goreng dan frozen food. Strateginya sederhana: nilai tambah. Jika hanya menjual bahan mentah, margin tipis dan daya tawar lemah. Dengan produk olahan, peternak punya cerita, kemasan, dan alasan untuk bertemu pasar yang lebih luas.
Di farm utama, Qonny hanya memelihara sekitar 1.000 ekor. Selebihnya, lebih dari 9.000 ekor tersebar di kandang-kandang mitra. Polanya mirip jaring pusat kecil yang kuat, disambung banyak simpul yang tumbuh bersama. “Saya tidak mau untung sendirian. Mitra harus maju,” katanya. Itulah mengapa sebaran kemitraan tidak berhenti di Ciamis: Bandung, Karawang, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur ikut terkoneksi.
Kandang yang Terkoneksi Dunia
Ada satu “kandang” yang kadang lebih ramai daripada kandang ayam: media sosial. Qonny menggunakannya bukan sekadar etalase, melainkan kelas terbuka. Ia mengunggah tutorial dan cerita harian tentang pakan, masa bruding, penyekatan DOC, hingga evaluasi bobot. Di kolom komentar, peternak dari banyak daerah bertanya, menautkan video, mengirimkan foto kandang mereka sendiri.
“Dengan sosial media, kita bisa punya market sendiri tanpa perantara,” kata Qonny. Lebih dari itu, sosial media memberinya tol yang memperpendek jarak: ia bisa mengawal mitra dari jauh, meminta rekaman kandang, memberi catatan pakan, dan menilai kesiapan panen. Di era ketika gawai ada di setiap saku, keterbukaan informasi menjadi modal produksi.
Ilmu yang Membumi
Kekuatan model Qonny bukan semata pada angka ia ada pada cara belajar. Masalah datang, ia cari sebab; solusi ditemukan, ia standarkan; standar diuji, ia buka ke mitra dan publik. Dari pengalaman pahit daun singkong, lahir kehati-hatian membaca cuaca dan waktu panen hijauan. Dari biaya pakan yang mencekik, lahir fermentasi yang rapi dan integrasi limbah pertanian. Dari pasar yang meminta volume, lahir jadwal panen dan kerja rupa-rupa: DOC, bibit, karkas, olahan.
Ayam Sentul, di tangannya, tidak hanya menjadi label lokal di kardus. Ia menjelma ekosistem kecil yang berdenyut: petani talas di kampung kini menjual bonggol dan batang sebagai bahan pakan; pasar yang biasanya membuang sisa sayuran kini melihat nilai; peternak mitra belajar mengukur bobot dan FCR tanpa kehilangan sentuhan kearifan kandang.
Pasar Ada, Kualitas Menentukan
Di balik optimisme, Qonny tidak menutup mata. “Kualitas tetap menentukan.” DOC harus seragam, pakan harus bersih dari kontaminan, dan manajemen kandang ventilasi, kepadatan, kebersihan tidak boleh ditawar. Di pembibitan, bobot induk betina harus dijaga di kisaran 1,6–1,7 kilogram saat masa produktif agar kualitas telur stabil. Di pembesaran, komposisi pakan dibedakan untuk pedaging dan bibit, karena tujuan produksinya tidak sama.
Ia tidak menyebutnya rumit; ia menyebutnya telaten. Sebab ketelatenan, di peternakan rakyat, adalah teknologi yang paling murah dan paling sering diabaikan.
Menjaga Nama yang Mewariskan Nilai
Ada satu hal yang paling ia takutkan: anak cucu kita tak lagi mengenal ayam Sentul. “Kalau orang Ciamis bilang, hayam karuhun ini harus dilestarikan. Ulah nepi ka urang poho kana purwadaksi,” katanya dalam bahasa Sunda. Di kalimat itu, ada identitas yang lebih dalam dari sekadar performa daging dan laju pertumbuhan. Ada rasa memiliki yang membuat sebuah produk lokal bisa bertahan, bahkan berkembang, di pasar yang terus menguji.
Qonny tidak sedang romantik ia pragmatis. Sentul harus tampil di pasar modern, di rak-rak dingin, di daftar menu, dan di keranjang belanja daring. Ia juga harus adil bagi peternak harga yang pantas, kontrak yang jelas, dan ruang belajar yang aman dari tipu daya. Ia harus menjadi cerita tentang perempuan yang memilih kandang ketika teman-temannya memilih kantor; tentang forum yang menyatukan suara kecil menjadi gema; tentang ayam lokal yang tidak kalah oleh mesin, justru menang karena manusia.
Dari Ciamis untuk Meja Makan Indonesia
Kebangkitan ayam Sentul tidak terjadi dalam semalam. Ia lahir dari rasa ingin tahu yang tidak capek, kegagalan yang diakui, dan kolaborasi yang dibangun. Di Ciamis, nama yang dulu sering hanya disebut di lomba atau pameran, kini kembali hadir dalam ritme produksi: telur yang menetas di mesin, DOC yang disortir, pakan yang difermentasi, video yang diunggah, order yang dibagi rata, dan truk yang berangkat ke kota.
“Ulah kumeok samemeh dipacok,” Qonny menutup percakapan jangan menyerah sebelum berjuang. Kalimat itu terasa pas untuk apa yang ia bangun: warisan yang dijaga, pasar yang ditata, dan masa depan yang dirancang agar ayam Sentul tidak sekadar jadi cerita lama, melainkan rasa yang kembali akrab di meja makan Indonesia. (Vry)






