Saat Upwelling Datang Ribuan Ikan Mati, Tantangan Alam di Waduk Saguling

Petikhasil.id, BANDUNG BARAT – Bagi para pembudidaya ikan di Waduk Saguling, fenomena upwelling adalah momok tahunan yang selalu menghantui. Dalam semalam, ribuan ekor ikan bisa mengambang di permukaan air, mati mendadak tanpa sempat diselamatkan. Peristiwa ini bukan hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tapi juga menjadi ujian berat bagi para petani ikan yang menggantungkan hidupnya dari perairan buatan terbesar di Jawa Barat itu.

Fenomena Alam yang Mengintai di Musim Hujan

Upwelling, atau pembalikan massa air, terjadi ketika air dingin dari dasar waduk naik ke permukaan dan membawa serta endapan gas beracun seperti amonia, hidrogen sulfida, dan metana. Proses ini biasanya terjadi secara tiba-tiba, terutama saat perubahan cuaca ekstrem misalnya, setelah hujan deras disertai angin kencang.

“Kalau sudah muncul bau belerang dari air, itu tanda bahaya. Dalam beberapa jam, ikan bisa langsung megap-megap dan mati,” kata Dian (40), pembudidaya ikan generasi kedua di wilayah Saguling, Bandung Barat.

Menurutnya, tanda-tanda upwelling bisa muncul kapan saja antara bulan November hingga Februari, saat curah hujan tinggi dan suhu air di permukaan waduk turun drastis.

Baca lainnya: Generasi Kedua Pembudidaya Ikan Saguling, Bertahan di Tengah Cuaca dan Regulasi yang Tak Menentu

Ribuan Ikan Mati dalam Semalam

Bagi pembudidaya, upwelling bukan sekadar fenomena ilmiah tapi bencana ekonomi. Dalam satu kejadian, kerugian bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung jumlah keramba jaring apung (KJA) yang terkena dampak.

Dian menceritakan salah satu peristiwa terparah yang pernah ia alami. “Tahun 2019, saya kehilangan hampir 4 ton ikan dalam satu malam. Air berubah warna, ikan semua mengapung. Tidak sempat diambil, semua busuk,” ujarnya mengenang.

Bau menyengat dari bangkai ikan saat itu bahkan tercium hingga ke perkampungan sekitar. Banyak pembudidaya lain mengalami hal serupa, membuat suasana di kawasan Waduk Saguling saat itu penuh keputusasaan.

“Rasanya seperti kerja keras berbulan-bulan hilang begitu saja. Modal pakan, waktu, tenaga — semua habis,” tambahnya.

Pemerintah dan Pembudidaya Berusaha Mencegah

Untuk mengantisipasi kerugian akibat upwelling, para pembudidaya kini mulai lebih proaktif memantau kualitas air. Beberapa di antaranya memasang alat sederhana untuk mengukur suhu dan kadar oksigen terlarut (DO meter).

Selain itu, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Barat rutin memberikan peringatan dini berdasarkan kondisi cuaca dan hasil pengamatan lapangan. Namun, tantangannya adalah luasnya wilayah Waduk Saguling yang mencapai ribuan hektar, sehingga tidak semua lokasi bisa dipantau secara real-time.

“Kami sudah sering dapat sosialisasi. Sekarang kalau cuaca ekstrem, kami segera turunkan jaring lebih dalam, atau hentikan pemberian pakan sementara,” ujar Dian.

Menurutnya, salah satu kesalahan umum pembudidaya baru adalah tetap memberi pakan meski ikan terlihat tidak aktif. Padahal, sisa pakan bisa memperparah kondisi air dan mempercepat proses pembusukan organik yang memicu upwelling.

Strategi Bertahan, Dari Pengaturan Kedalaman Hingga Rotasi Kolam

Menghadapi ancaman yang tak bisa dihindari, pembudidaya di Saguling kini menerapkan sejumlah strategi mitigasi. Salah satunya adalah menyesuaikan kedalaman jaring apung agar ikan bisa mencari lapisan air yang paling aman.

“Kami belajar dari pengalaman. Sekarang tiap jaring tidak boleh lebih dari enam meter. Kalau terlalu dalam, ikan bisa kekurangan oksigen,” jelas Dian.

Selain itu, pembudidaya juga melakukan rotasi lokasi budidaya, yaitu memindahkan sebagian KJA ke area yang arus airnya lebih lancar atau lebih jauh dari titik upwelling.

Langkah-langkah sederhana seperti mengurangi kepadatan tebar benih, membersihkan sisa pakan, dan menggunakan probiotik alami juga terbukti membantu menjaga kualitas air.

Baca lainnya: Dari Empat Kolam ke Enam Puluh Empat KJA: Kisah Perjuangan Pembudidaya Ikan di Waduk Saguling

Kerugian Ekonomi dan Dampak Sosial

Kerugian akibat upwelling tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga berdampak ke rantai ekonomi lokal. Pengepul kehilangan pasokan ikan, pedagang pasar tidak mendapat suplai, dan masyarakat sekitar kehilangan mata pencaharian sementara.

“Kalau satu kawasan kena, semua berhenti. Tidak ada yang berani panen atau jual ikan karena takut harga anjlok,” kata Edi, pengepul ikan di kawasan Cililin.

Ia menuturkan, setiap kali terjadi kematian massal ikan, harga ikan mas bisa anjlok hingga Rp15.000 per kilogram, separuh dari harga normal. Akibatnya, banyak pembudidaya memilih membuang ikan daripada menjual rugi.

Tak jarang, situasi ini juga memunculkan masalah lingkungan baru. Bangkai ikan yang tidak segera dibersihkan dapat mencemari waduk dan menurunkan kualitas air secara signifikan.

Waduk Saguling Butuh Zonasi dan Pemantauan Terpadu

Menurut para ahli lingkungan dari Universitas Padjadjaran, solusi jangka panjang untuk mencegah kerugian akibat upwelling bukan hanya pada pembudidaya, tapi juga pada pengelolaan waduk secara menyeluruh.

“Waduk Saguling sudah mengalami eutrofikasi, yaitu penumpukan zat organik dari limbah rumah tangga, pertanian, dan pakan ikan. Kalau ini tidak dikendalikan, fenomena upwelling akan makin sering terjadi,” ujar Dr. Nita Lestari, dosen Fakultas Perikanan Unpad.

Ia menyarankan adanya zonasi budidaya yang jelas serta batas maksimum jumlah KJA agar kualitas air tetap terjaga. Selain itu, penerapan teknologi seperti aerator sistem tenaga surya bisa membantu menambah kadar oksigen di air dan mencegah kematian massal ikan.

Bertahan atau Berubah

Meski sudah memahami risiko, banyak pembudidaya tetap memilih bertahan di Waduk Saguling. Alasan utamanya sederhana: mereka tidak punya alternatif mata pencaharian lain.

“Sudah dari dulu hidup kami di sini. Mau pindah ke darat, nggak punya lahan. Mau kerja lain, susah juga,” ujar Dian dengan nada pasrah namun tegas.

Ia berharap ada program adaptasi berbasis teknologi, bukan larangan total. “Kalau memang mau dibatasi, ya dibimbing juga bagaimana cara budidaya yang ramah lingkungan tapi tetap bisa hidup,” tambahnya.

Harapan Baru dari Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah mulai menggandeng perguruan tinggi dan lembaga riset untuk melakukan pendampingan teknis. Salah satu programnya adalah “Saguling Smart Aquaculture”, yang mengajarkan penggunaan sensor kualitas air dan aplikasi digital untuk memantau kondisi waduk secara langsung.

“Dulu semua manual, sekarang kami bisa tahu kondisi air lewat HP. Jadi bisa antisipasi lebih cepat,” kata Dian sambil menunjukkan aplikasi yang digunakan kelompoknya.

Meski masih dalam tahap awal, program ini memberi harapan baru bagi pembudidaya ikan Saguling untuk bisa beradaptasi dengan perubahan iklim dan kondisi lingkungan yang makin kompleks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *