Petikhasil.id, Cirebon – Banyak orang berpikir beternak ayam broiler hanyalah soal memberi pakan dan menunggu waktu panen. Namun bagi Satrio Wicaksono, pemilik Ken Farm Cirebon, bisnis ini adalah seni yang menuntut ketelitian, intuisi, dan pemahaman mendalam terhadap perilaku ayam.
“Peternakan itu bukan hanya pekerjaan rutin. Di dalam budidaya itu adalah suatu seni menurut saya,” kata Satrio saat ditemui di peternakannya. “Tidak sama satu siklus dengan siklus yang lain.”
Pandangan itu bukan tanpa alasan. Setelah hampir satu dekade mengelola ribuan ayam broiler dalam satu siklus, ia memahami bahwa faktor kenyamanan ayam adalah kunci pertumbuhan yang optimal. Dalam industri yang sensitif terhadap waktu, kesalahan kecil dapat berdampak besar pada hasil akhir panen.
Baca lainnya: Bisnis Olahan Durian, Dari Kue Kering Sampai Es Lumer, Ini Ide Usaha yang Laku Sepanjang Tahun
Memahami “Bahasa” Ayam untuk Pertumbuhan Optimal
Menurut Satrio, kenyamanan ayam adalah nomor satu. Walau teknologi kandang seperti closed house telah membantu mengatur suhu dan ventilasi, tetap diperlukan pengamatan visual setiap hari. “Intinya di dalam ternak broiler ini membuat ayam itu senyaman mungkin,” ujarnya.
Ia memberi contoh saat ayam kecil. Standar sistem mungkin mengatur suhu di 33 derajat, tetapi jika ayam terlihat terlalu padat atau tampak terengah-engah, artinya suhu harus diturunkan.
“Walaupun standar itu jalan, kita sedikit modifikasi melihat dari keadaan ayam. Kita harus tahu ayam itu aktif atau enggak, mau makan atau enggak,” jelasnya. Dengan kata lain, peternak harus belajar membaca perilaku ayam, bukan hanya mengikuti angka pada sistem.
Panen Bukan Sekadar Waktu, Tapi Strategi
Seni beternak juga menyangkut strategi panen yang tepat. Ayam broiler memiliki umur ideal panen pada 35–38 hari. Setelah itu, pertumbuhan ayam tidak lagi efisien pakan terbuang lebih banyak, tetapi bobot tidak naik signifikan.
“Sudah waktunya dibuka, ya mulai kita panen perlahan-lahan. Jangan dipaksa, jangan ditahan-tahan,” kata Satrio mengingatkan.
Ia menyebut idealnya 60 persen populasi panen lebih awal, sisanya dilakukan bertahap. Ini untuk menghindari kepadatan yang memicu stres dan perebutan pakan. “Kalau padat, ayam rebutan makan. Pertumbuhan tidak akan merata,” ujarnya.
Seni Manajemen dan Biosekuriti
Selain mengatur kenyamanan ayam, peternak harus menjaga lingkungan kandang tetap higienis dan aman dari penyakit. Prosedur ketat diterapkan Ken Farm untuk setiap aktivitas di dalam dan luar kandang. “Setiap orang keluar masuk harus disemprot. Mau itu karyawan atau orang bongkar muat,” kata Satrio.
Ia menempatkan sekam sebagai faktor paling menentukan keberhasilan. Sekam basah bukan hanya membuat ayam tidak nyaman, tetapi juga menjadi sumber penyakit pernapasan dan pencernaan. “Sekam itu 70 persen keberhasilan ayam,” tegasnya.
Baca lainnya: Mitos dan Fakta Ikan Mas: Antara Keberuntungan, Larangan, dan Kenyataan Ilmiah
Tidak Semua Bisa Diserahkan Kepada Pekerja
Menurut Satrio, kesalahan terbesar pemula yaitu mempercayakan seluruh pekerjaan kepada anak kandang tanpa pengawasan. Ia menilai pemilik harus tetap turun langsung untuk memastikan kondisi ayam sesuai standar.
“Silakan yang muda mulai bangun, tapi jangan semuanya diserahkan ke anak kandang. Harus tahu bagaimana strategi panen dan siklusnya,” tuturnya. Kesadaran akan risiko perlu dimiliki sejak awal, karena kegagalan satu hari bisa berarti kerugian banyak siklus.
“Ayam itu gagal satu hari panen saja bisa menyebabkan gagal satu siklus,” katanya.
Mental dan Sabar: Senjata Terakhir Peternak
Selain manajemen, Satrio menekankan pentingnya mental kuat. “Harus banyak sabar, harus siap kuat. Harus mau masuk kandang setiap hari,” ujarnya. Peternak harus siap menghadapi perubahan cuaca, fluktuasi harga pasar, hingga ancaman penyakit. Semua harus dihadapi dengan optimisme dan kerja keras.
“Yang pasti jangan pernah menyerah terhadap kegagalan. Semangat terus. Insya Allah nanti akan ada waktunya kita menikmati hasilnya,” ucap Satrio meyakinkan.
Seni, Ilmu, dan Takdir Berjalan Bersama
Meski banyak ilmu yang dapat dipelajari dari pengalaman sesama peternak, Satrio percaya setiap orang punya rezekinya sendiri. “You can follow my strategy, but you can’t copy my destiny,” ujarnya dalam pesan penutup. “Rezeki itu tidak mungkin tertukar.”






