Serbuk Kayu Jadi Rupiah, Perjalanan Petani Jamur di Pangalengan Mengubah Limbah Jadi Sumber Penghasilan

Petikhasil.id, PANGALENGAN – Limbah sering kali dipandang sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Namun di tangan orang yang tepat, limbah justru bisa berubah menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Hal inilah yang dilakukan Dadan Gunawan, petani jamur asal Kampung Cilaki, Desa Sukaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang berhasil mengubah serbuk kayu menjadi rupiah melalui usaha budidaya jamur.

Berawal dari usaha kecil dan penuh keterbatasan, Dadan kini mampu menghasilkan omset puluhan juta rupiah per bulan. Perjalanan tersebut tidak instan, penuh tantangan, dan sarat pembelajaran, terutama tentang bagaimana memanfaatkan limbah sebagai bahan baku utama.

Pangalengan dan Potensi Budidaya Jamur

Pangalengan dikenal sebagai daerah pertanian dan peternakan. Kondisi alam yang sejuk dan lembab membuat wilayah ini cocok untuk berbagai komoditas, termasuk jamur. Namun, tidak semua orang berani menekuni budidaya jamur karena dianggap memiliki tingkat kegagalan yang tinggi.

Bagi Dadan, justru tantangan itu menjadi peluang. Ia melihat budidaya jamur sebagai usaha yang relatif stabil karena tidak bergantung langsung pada cuaca ekstrem seperti hujan atau panas berlebihan.

“Jamur itu butuh ketelatenan. Kalau sudah tahu ilmunya, hasilnya bisa konsisten,” kata Dadan.

Belajar Bertahap dari Baglog Jadi

Langkah awal yang diambil Dadan tergolong aman. Ia tidak langsung membuat baglog sendiri, melainkan membeli baglog dari produsen lain. Dari situ, ia belajar mengenali karakter jamur, cara menjaga kelembaban, mengontrol suhu, hingga membaca tanda-tanda jamur siap panen.

Menurutnya, banyak pemula gagal karena terlalu terburu-buru ingin memproduksi sendiri tanpa memahami dasar perawatan.

Setelah cukup memahami proses budidaya, barulah ia memulai produksi baglog secara mandiri dengan skala kecil.

Baca lainnya: Dari Modal Rp200 Juta Hampir Habis hingga Omset Puluhan Juta: Kisah Dadan Gunawan, Petani Jamur Pangalengan

Serbuk Kayu sebagai Media Tanam Utama

Dalam budidaya jamur tiram dan jamur kuping, serbuk gergaji kayu menjadi bahan utama media tanam. Serbuk kayu yang digunakan merupakan limbah dari penggergajian yang dicampur dengan bekatul dan kapur.

Proses pembuatan baglog dilakukan melalui beberapa tahapan penting, mulai dari:

  • Pencampuran bahan media
  • Pengemasan ke dalam plastik baglog
  • Proses sterilisasi selama 4–6 jam
  • Inokulasi bibit jamur
  • Inkubasi hingga miselium tumbuh

Jika seluruh proses dilakukan dengan benar dan steril, media tanam akan ditumbuhi miselium secara merata dan siap masuk ke kumbung produksi.

Tantangan Kontaminasi dan Hama

Meski berbahan limbah, media tanam jamur harus benar-benar steril. Sedikit saja kelalaian dapat menyebabkan kontaminasi oleh jamur liar atau bakteri. Dadan pernah mengalami masa-masa sulit akibat kontaminasi yang tinggi, terutama pada jamur tiram coklat yang lebih rentan terhadap penyakit.

Selain itu, hama seperti lalat dan nyamuk juga menjadi ancaman serius karena dapat merusak miselium jamur.

Untuk mengatasi hal tersebut, Dadan menerapkan berbagai langkah pencegahan, seperti menaburkan kapur di lantai kumbung dan memasang perangkap hama agar siklus hidup hama terputus.

Ketika Limbah Hampir Tak Bernilai Jadi Masalah Besar

Tantangan tidak berhenti di situ. Seiring berkembangnya usaha, Dadan justru menghadapi masalah baru, yakni kelangkaan serbuk kayu. Limbah kayu yang sebelumnya mudah didapat kini menjadi rebutan karena meningkatnya kebutuhan industri.

Kondisi ini sempat mengancam keberlanjutan produksi baglog. Tanpa bahan baku utama, usaha jamur bisa berhenti total.

Inovasi: Mengolah Kayu Sendiri dan Sekam Kopi

Menghadapi kondisi tersebut, Dadan memilih tidak bergantung sepenuhnya pada pemasok. Ia berinovasi dengan membuat mesin penghancur kayu sendiri untuk mengolah kayu menjadi serbuk gergaji.

Selain itu, ia juga memanfaatkan sekam kopi sebagai bahan campuran media tanam. Inovasi ini terbukti efektif. Hasil panen jamur tetap stabil dan kualitasnya tidak jauh berbeda dengan media konvensional.

“Yang penting komposisi dan proses sterilisasi tetap dijaga,” ujarnya.

Langkah ini tidak hanya mengatasi kelangkaan bahan baku, tetapi juga memperluas pemanfaatan limbah pertanian lain.

Bangkit dari Kegagalan Tahun 2022

Tahun 2022 menjadi masa paling berat. Modal besar yang ditanamkan hampir habis akibat tingginya kegagalan produksi. Pada masa itu, baglog yang terkontaminasi belum berani didaur ulang, sehingga kerugian semakin besar.

Namun dari kegagalan tersebut, Dadan menemukan solusi baru dengan mendaur ulang baglog untuk budidaya jamur kuping. Tingkat keberhasilannya mencapai sekitar 95 persen, dan sejak saat itu jamur kuping menjadi salah satu komoditas andalan.

Produksi dan Nilai Ekonomi Limbah

Saat ini, Dadan mengelola sekitar 80 ribu baglog jamur. Dari limbah serbuk kayu dan bahan campuran lainnya, ia mampu menghasilkan:

  • Jamur tiram putih: 100–200 kg per hari
  • Jamur tiram coklat: 10–50 kg per hari
  • Jamur kuping: panen serempak hingga 300 kg per periode

Pendapatan hariannya bisa mencapai Rp4–5 juta, dengan omset bulanan sekitar Rp50–70 juta (kotor).

Semua itu berawal dari limbah yang sebelumnya tidak bernilai tinggi.

Baca lainnya: Hampir Gulung Tikar, Petani Jamur Pangalengan Bangkit dengan Inovasi Daur Ulang Baglog

Dampak Sosial di Lingkungan Sekitar

Usaha ini juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar. Proses produksi melibatkan ibu-ibu setempat, mulai dari pencampuran media hingga pembibitan. Selain itu, Dadan juga membuka peluang kemitraan bagi warga yang ingin membeli baglog dan membudidayakan jamur secara mandiri.

Limbah sebagai Peluang Usaha Berkelanjutan

Kisah Dadan Gunawan menunjukkan bahwa limbah tidak selalu identik dengan masalah. Dengan pengetahuan, inovasi, dan konsistensi, limbah seperti serbuk kayu justru bisa menjadi fondasi usaha yang berkelanjutan.

Dari Pangalengan, Dadan membuktikan bahwa serbuk kayu bisa berubah menjadi rupiah, bahkan menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Sebuah pelajaran penting bahwa peluang usaha sering kali tersembunyi di balik sesuatu yang dianggap tidak bernilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *