PetikHasil.id, KABUPATEN BANDUNG BARAT — Di lereng utara Bandung, bumi menyimpan rahasia yang tak kasat mata: garis panjang yang membelah daratan, menandai tempat di mana tanah bisa bergeser kapan saja. Itulah Sesar Lembang, patahan aktif yang membentang sekitar 29 kilometer dari Padalarang hingga Cimenyan. Ia tidak hanya menjadi catatan geologi, tapi juga bagian dari kehidupan ribuan petani yang setiap hari menggantungkan hidupnya di atas tanah yang rawan bergerak.
Bagi masyarakat Lembang, Parongpong, Cisarua, dan sekitarnya, Sesar Lembang bukan sekadar ancaman alam, melainkan kondisi yang sudah lama mereka terima sebagai bagian dari hidup. Di tengah potensi gempa yang bisa mencapai magnitudo 6,5 hingga 7 menurut Badan Geologi, para petani tetap menanam, memupuk, dan memanen dengan ritme yang sama seperti generasi sebelumnya.
Mereka tahu, lahan di kaki gunung ini memang subur. Tanah vulkanik dari Gunung Tangkuban Parahu menciptakan ekosistem yang ideal bagi sayuran, bunga, dan buah-buahan. Tapi di balik kesuburan itu, ada ketegangan abadi antara rezeki dan risiko.
Bumi Bergerak, Petani Bertahan
Bandung Barat dikenal sebagai salah satu sentra hortikultura terbesar di Jawa Barat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat luas panen sayuran di kabupaten ini mencapai lebih dari 7.000 hektare dengan produksi dominan di kecamatan-kecamatan sekitar jalur sesar. Komoditas seperti kol, wortel, selada, brokoli, dan kentang menjadi tumpuan ekonomi ribuan rumah tangga tani.
Nilai produksi hortikultura Bandung Barat bahkan menyumbang lebih dari 12 persen pasokan sayuran untuk wilayah metropolitan Bandung Raya. Namun posisi geografis yang strategis itu juga berarti bahwa sebagian besar pertanian mereka berdiri di atas tanah yang aktif secara tektonik. Sesar Lembang bekerja dalam diam. Ia tidak selalu berguncang, tetapi aktivitas kecil di bawah tanah bisa memengaruhi aliran air, memicu retakan mikro, atau mengubah struktur tanah di permukaan. Petani di kawasan ini, seperti Dedi (47) dari Desa Cikidang, tahu benar efeknya.
“Kalau ada gempa kecil, biasanya parit irigasi kami ada yang geser. Air bocor, tanah longsor sedikit. Tapi mau bagaimana lagi, ini tempat hidup kami,” ujarnya kepada Petik Hasil saat ditemui di lahan seluas setengah hektare miliknya.
Fenomena ini menjelaskan mengapa pertanian di wilayah sesar membutuhkan pendekatan yang lebih cermat dibanding dataran biasa. Lahan yang terus bergerak menuntut sistem irigasi fleksibel dan konstruksi yang tahan terhadap retakan. Para petani setempat sering memperbaiki saluran air secara gotong royong karena sadar bahwa stabilitas tanah tak pernah pasti.
Dalam skala yang lebih luas, Dinas Pertanian Bandung Barat sudah mulai memperkenalkan konsep pertanian tangguh bencana program yang mengedukasi petani tentang cara memperkuat pematang, membangun rumah tanam ringan, dan menanam tanaman konservasi di pinggir lereng.
Namun, Sesar Lembang tidak hanya membawa risiko. Ia juga memberi berkah tersembunyi. Aktivitas geologi di masa lalu menciptakan tanah andosol yang gembur dan kaya unsur hara, sangat cocok untuk tanaman hortikultura bernilai tinggi. Tak heran, kawasan Lembang dan sekitarnya menjadi pemasok utama sayur segar ke pasar-pasar besar di Jakarta, Bekasi, dan Cirebon.
Beberapa kelompok tani bahkan sudah menembus pasar ekspor lewat produk organik, dengan dukungan Dinas Pertanian dan Badan Ketahanan Pangan Jawa Barat. Nilai ekspor sayuran organik Bandung Barat pada 2023 mencapai Rp 482 juta, sebagian besar berasal dari komoditas brokoli dan selada yang tumbuh di lahan-lahan berlereng.
Menanam di Antara Risiko dan Harapan
Meski demikian, hubungan antara alam dan manusia di kawasan ini selalu dalam ketegangan seimbang. Para petani bekerja di antara potensi dan ancaman, beradaptasi dengan setiap perubahan kecil yang terjadi. Di Kampung Jayagiri misalnya, beberapa petani menggunakan sistem terasering yang diperkuat batu kali dan bambu untuk mengantisipasi erosi akibat guncangan tanah.
Sementara di Parongpong, peternak sapi perah belajar dari pengalaman gempa kecil pada 2019 mereka kini membangun kandang dengan pondasi fleksibel dan rangka baja ringan agar tidak mudah roboh bila tanah bergeser.
Berita Lainya: Potensi Besar Alpukat di Indonesia dan Tantangan Petani Lokal | Pasar Minggu Punclut Wajah Sehari Ekonomi Rakyat Bandung
Sektor pertanian di Bandung Barat tidak hanya menyerap tenaga kerja, tetapi juga menjadi denyut ekonomi utama. BPS mencatat lebih dari 38 persen penduduk usia kerja di kabupaten ini masih menggantungkan pendapatan pada kegiatan pertanian, baik langsung maupun tidak langsung.
Artinya, setiap gangguan pada lahan sekecil apa pun dapat berdampak pada stabilitas ekonomi keluarga. Itulah sebabnya, konsep mitigasi tidak bisa hanya berbentuk peta risiko, melainkan harus menjadi bagian dari perencanaan ekonomi wilayah.
Di sisi lain, Sesar Lembang juga membuka peluang baru: wisata edukasi dan agrogeowisata. Beberapa lokasi seperti Gunung Batu dan kawasan Cikole kini tidak hanya menjadi objek wisata alam, tetapi juga sarana belajar tentang hubungan antara geologi dan pertanian. Lahan-lahan sayur yang berundak berpadu dengan latar tebing patahan menciptakan pemandangan yang unik sekaligus menjadi pengingat bahwa keindahan dan bahaya sering berjalan berdampingan di tanah Priangan.

Menurut penelitian Badan Geologi pada 2022, sebagian besar segmen Sesar Lembang masih aktif dengan pergerakan tahunan yang terukur dalam milimeter. Meski demikian, pola pemanfaatan lahan di sekitarnya cenderung meningkat. Pertumbuhan permukiman dan ekspansi pertanian di lereng utara Bandung menuntut perhatian khusus agar tidak menambah beban ekologi yang sudah ada. Para ahli mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kapasitas daya dukung geologis wilayah. Di titik inilah, peran petani menjadi sangat krusial bukan hanya sebagai produsen pangan, tetapi juga penjaga lanskap yang rapuh.
Setiap pagi di Lembang, kabut masih turun di antara petak-petak kol yang basah oleh embun. Truk kecil naik-turun membawa hasil panen ke kota. Di balik pemandangan itu, bumi di bawah mereka terus bergeser perlahan. Namun bagi para petani, hidup memang tidak pernah sepenuhnya tenang. Mereka belajar berdamai dengan tanah yang bergerak, menanam dengan sabar, dan menuai dengan rasa syukur.
Karena bagi mereka, pertanian bukan hanya tentang bertahan dari bencana, tetapi tentang menumbuhkan harapan di atas tanah yang hidup. Di atas sesar yang bisa mengguncang kapan saja, tumbuh keteguhan yang justru menegaskan satu hal bahwa di Bandung Barat, tanah tidak hanya memberi makan, tetapi juga mengajarkan keberanian. (Vry)






