Sirsak Bukan dari Belanda Tapi Jadi Buah Sejuta Khasiat

PetikHasil.id, BANDUNG — Namanya sirsak, tapi di banyak daerah dulu ia lebih sering dipanggil “nangka Belanda”. Julukan yang sempat membingungkan, karena seolah buah ini lahir dari tangan petani Eropa. Padahal, kisah sirsak dimulai bukan di tanah Belanda, melainkan di hutan tropis Amerika Latin tempat pohon ini tumbuh liar sebelum akhirnya berkelana menyeberangi samudra dan berakar di tanah Nusantara.

Dari Karibia ke Nusantara

Sirsak (Annona muricata) berasal dari wilayah Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), bangsa Spanyol dan Belanda membawa biji sirsak ke Asia Tenggara pada abad ke-17. Di Hindia Belanda, tanaman ini cepat beradaptasi dengan iklim tropis lembap, terutama di Batavia, Ambon, dan Surabaya, sehingga muncul sebutan “nangka Belanda”.

Nama “nangka” muncul karena kulitnya berduri lembut menyerupai buah nangka, meski ukuran dan teksturnya jauh berbeda. Sedangkan kata “Belanda” melekat karena kolonialis Eropa-lah yang memperkenalkannya. Dari situ, sirsak menyebar ke berbagai daerah dari pesisir Lampung, lereng Gunung Slamet, hingga tanah subur Bali dan Sulawesi Selatan.

Kini, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS, 2024), tanaman sirsak tumbuh di lebih dari 27 provinsi, dengan sentra utama di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Produktivitas rata-rata mencapai 340 ribu ton per tahun, angka yang terus meningkat seiring tren pangan fungsional dan herbal alami.

Buah Asam-Manis yang Serbaguna

Daging buah sirsak berwarna putih, lembut, dan berair. Rasanya asam-manis, segar, dan sedikit beraroma tropis yang khas. Di banyak desa, sirsak jadi buah serbaguna: bisa dimakan langsung, dijadikan jus, diolah jadi selai, sirup, atau bahkan dodol khas lebaran.

Selain nilai kulinernya, sirsak punya nilai medis yang panjang. Riset dari National Center for Biotechnology Information (NCBI) menunjukkan, ekstrak daun dan buah sirsak mengandung annonacin dan acetogenin, dua senyawa bioaktif dengan sifat antioksidan dan antikanker.

Penelitian oleh Universidad de los Andes, Kolombia (2021) menemukan bahwa ekstrak daun sirsak mampu menghambat pertumbuhan beberapa jenis sel kanker dalam uji laboratorium.

Namun, para peneliti menegaskan manfaat tersebut belum bisa menggantikan pengobatan medis dan masih membutuhkan uji klinis lebih lanjut. “Sirsak memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan suplemen alami,” tulis tim peneliti dalam jurnal Food Science and Nutrition (2021), “tapi penggunaannya harus dengan pengawasan medis.”

Sumber Nutrisi dari Pekarangan

Berdasarkan penelitian Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro, 2022), 100 gram daging buah sirsak mengandung:

  • Vitamin C: 30 mg
  • Kalium: 278 mg
  • Serat: 3,3 gram
  • Energi: hanya 66 kalori
  • Air: 81%

Kombinasi ini menjadikan sirsak buah yang menyehatkan sekaligus rendah kalori. Vitamin C membantu memperkuat sistem imun dan mempercepat penyembuhan luka, sedangkan seratnya memperlancar pencernaan. Kandungan kalium dan magnesium juga menjaga tekanan darah tetap stabil.

“Sirsak itu gampang ditanam, buahnya cepat panen,” ujar Rohman (47), petani sirsak asal Ciamis, Jawa Barat, saat dihubungi Petik Hasil. “Satu pohon umur tiga tahun bisa berbuah dua kali setahun, hasilnya bisa sampai 50 kilogram. Kalau musim kemarau, harga bisa dua kali lipat.”

Di tingkat petani, harga sirsak segar berkisar Rp7.000–10.000 per kilogram, sementara produk olahan seperti selai dan teh daun sirsak bernilai lebih tinggi. Data Dinas Pertanian Jawa Barat (2024) mencatat kenaikan permintaan bibit sirsak hingga 15% dalam dua tahun terakhir, terutama untuk pekarangan dan kebun kecil di kawasan agrowisata.

Manfaat Kesehatan yang Didukung Riset

Sirsak bukan sekadar buah penawar dahaga. Ia juga menyimpan banyak manfaat kesehatan yang sudah dibuktikan lewat studi ilmiah:

  1. Menjaga sistem imun tubuh
    Vitamin C tinggi membantu melawan infeksi dan mempercepat pemulihan luka.
    (Journal of Nutrition & Food Science, 2022)
  2. Menurunkan tekanan darah dan kolesterol
    Kandungan kalium dan serat larut menjaga elastisitas pembuluh darah dan mengurangi kadar LDL.
    (Asian Pacific Journal of Tropical Medicine, 2021)
  3. Melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit
    Seratnya memperbaiki metabolisme dan menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
  4. Efek antiradang dan antimikroba alami
    Senyawa tanin dan alkaloid dalam daun dan kulit batangnya membantu mengurangi peradangan ringan.
  5. Potensi antikanker alami
    Acetogenin bekerja menghambat pertumbuhan sel abnormal, meski efektivitas klinisnya masih diteliti.

Dengan segala keunggulan itu, tak heran jika sirsak kini dilirik industri herbal dan nutraceutical sebagai bahan baku functional food yang bernilai ekonomi tinggi.

Naik Kelas Bersama UMKM dan Petani Muda

Dulu, sirsak sering dianggap buah “kampung” tumbuh liar di pekarangan tanpa nilai jual besar. Namun kini, wajahnya berubah. Di Blitar dan Karanganyar, kelompok tani muda berkolaborasi dengan UMKM untuk memproduksi sirsak smoothie, frozen pulp, dan teh daun sirsak kemasan modern. Produk mereka kini dipasarkan lewat e-commerce dan pameran pertanian nasional.

Data dari Pusat Inovasi Agroindustri Kementerian Pertanian (2023) menunjukkan bahwa nilai tambah produk olahan sirsak bisa meningkat hingga 300% dibandingkan penjualan buah segar. Sirsak yang dulu hanya dinikmati di meja makan kini bisa bersaing di pasar ekspor Asia dan Eropa yang tengah tren terhadap pangan alami.

“Kami jual teh daun sirsak kering ke Singapura dan Hong Kong,” ujar Luh Ayu (32), petani sirsak dari Tabanan, Bali. “Pasarnya bagus, karena orang luar negeri mulai suka produk herbal tropis. Sekarang kami lagi belajar packaging dan sertifikasi halal.”

Peluang Ekonomi yang Terbuka Lebar

Harga daun sirsak kering di pasaran daring mencapai Rp80.000–100.000 per kilogram, terutama untuk bahan herbal ekspor. Sementara itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat bahwa ekspor produk herbal Indonesia meningkat 12,4% pada 2023, dengan kontribusi sirsak mencapai 4% dari total volume ekspor bahan herbal tropis.

Selain untuk konsumsi, sirsak juga dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik alami karena kandungan antioksidannya. Menurut laporan BRIN (2024), ekstrak daun sirsak tengah dikembangkan sebagai bahan aktif untuk serum kulit alami dalam proyek riset bersama Universitas Gadjah Mada.

Buah Masa Depan dari Pekarangan

Sirsak adalah contoh nyata bagaimana tanaman yang dulu dianggap “biasa” bisa menjadi sumber pendapatan dan kebanggaan baru bagi petani lokal. Ia mudah tumbuh, tahan di berbagai jenis tanah, dan berbuah cepat menjadikannya cocok untuk model pertanian rumah tangga dan agroedukasi.

Dari pekarangan sederhana di Ciamis hingga kebun modern di Bali, sirsak telah melewati perjalanan panjang: dari buah kolonial ke ikon agribisnis tropis. Lebih dari sekadar buah, sirsak adalah simbol ketahanan dan kemandirian bukti bahwa kearifan lokal masih bisa beradaptasi dengan ekonomi modern.

“Yang penting jangan remehkan tanaman di halaman sendiri,” kata Rohman menutup percakapan. “Kalau dirawat sungguh-sungguh, hasilnya bisa jadi masa depan.”

Natural-based food

Di tengah meningkatnya minat dunia terhadap produk natural-based food, sirsak punya posisi strategis. Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemasok bahan baku herbal tropis, dan sirsak bisa jadi salah satu ikon ekspor non-migas baru.

Pemerintah daerah yang berfokus pada hilirisasi produk pertanian perlu memberi dukungan dalam bentuk pelatihan pengemasan, sertifikasi halal, dan promosi ekspor.

Berita Lainya: Dari Buah Liar ke Bisnis Kreatif: Mengubah Ciplukan Jadi Produk Bernilai Tinggi | Terong Belanda Bukan dari Belanda Tapi Justru Subur di Tanah Tropis

Selain itu, regenerasi petani muda yang sudah mulai tertarik pada komoditas ini menjadi sinyal positif. Dengan digitalisasi pemasaran dan kolaborasi riset antara petani–kampus–industri, sirsak bisa naik kelas: dari buah pekarangan menjadi komoditas masa depan.

Dari sebutan “nangka Belanda” yang dulu diwariskan masa kolonial, sirsak kini tumbuh sebagai simbol baru ketekunan petani Indonesia. Ia bukan buah impor, melainkan cermin betapa kaya dan tangguhnya tanah tropis negeri ini.

Di tangan para petani muda, sirsak bukan hanya buah tapi kisah bagaimana kesederhanaan bisa berbuah kemakmuran. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *