Situ Aksan yang Hilang, Ketika Bandung Kehilangan Nafas Ekonomi Airnya

Petikhasil.id, BANDUNG — Bandung yang dulu dikenal sebagai kota taman kini justru kesulitan menjaga sisa ruang hijaunya. Di tengah kepadatan bangunan dan jalan yang terus melebar, nama Situ Aksan muncul kembali dalam ingatan warga lama sebagai simbol kehilangan. Dulu danau ini menjadi sumber air, tempat hidupnya ikan, serta tumpuan ekonomi kecil bagi masyarakat sekitar Pagarsih. Kini, bekas danau itu telah berubah menjadi permukiman padat, menandai pergeseran wajah ekonomi Bandung dari berbasis air dan pertanian menuju beton dan konsumsi.

Di masa jayanya pada era 1950-an hingga 1970-an, Situ Aksan menjadi tempat wisata air yang ramai dikunjungi warga. Anak-anak bermain di tepi danau, para pedagang menjajakan gorengan dan es puter, sementara para nelayan kecil mengais rezeki dari hasil tangkapan ikan di permukaan air yang jernih. Aktivitas sederhana itu membentuk ekosistem ekonomi rakyat yang tak terlihat di angka statistik, namun sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Air menjadi penghubung antara mata pencaharian, hiburan, dan keberlanjutan lingkungan.

Ketika Ekonomi Rakyat Tumbuh dari Air

Dalam catatan lama pemerintah kota, air Situ Aksan juga dimanfaatkan untuk kebutuhan harian warga sekitar. Sebagian kecil bahkan memanfaatkannya untuk mengairi kebun sayur, tanaman hias, dan sawah mini yang masih tersisa di pinggiran danau. Bandung kala itu masih memiliki karakter semi-agraris; sektor pertanian belum sepenuhnya hilang meski kota mulai tumbuh pesat dengan industri tekstil dan jasa.

Kisah warga di sekitar Situ Aksan memperlihatkan bahwa air bukan sekadar sumber kehidupan biologis, tetapi juga ekonomi. Banyak keluarga menggantungkan hidup pada aktivitas di sekitar danau mulai dari menyewakan perahu, menjual makanan, hingga memelihara ikan hias. Ekonomi berbasis air ini berjalan alami tanpa konsep modern seperti ekonomi hijau atau urban farming yang kini populer. Mereka hidup selaras dengan alam karena memang itu bagian dari keseharian.

Ketika sore datang, suasana di Situ Aksan kerap menyerupai pasar kecil yang hidup di atas air. Anak-anak berenang, remaja duduk di tepian memandangi matahari terbenam, sementara ibu-ibu menjemur pakaian di atas papan kayu yang menjorok ke danau. Perekonomian lokal berdenyut lewat hal-hal sederhana yang berpijak pada keseimbangan manusia menghormati air, dan air memberi kehidupan balik pada manusia.

Bandung Kehilangan Ruang Air, Kehilangan Arah Ekonomi Hijau

Namun wajah Bandung berubah cepat. Memasuki dekade 1980-an, tekanan kebutuhan lahan perkotaan semakin besar. Pertumbuhan penduduk yang pesat membuat kawasan sekitar Pagarsih berubah fungsi menjadi pemukiman padat. Lahan di sekitar Situ Aksan tak lagi dianggap bernilai sebagai sumber air, melainkan sebagai lahan potensial untuk rumah dan bangunan baru. Airnya perlahan mengering, sebagian ditimbun untuk dijadikan permukaan darat. Dalam beberapa tahun saja, danau yang dulu menjadi kebanggaan warga Bandung itu hilang tanpa jejak yang jelas.

Berita Lainya: Dari Rawa Papua ke Pabrik Gula Jawa | Generasi Kedua Pembudidaya Ikan Saguling, Bertahan di Tengah Cuaca dan Regulasi yang Tak Menentu

Hilangnya Situ Aksan tidak hanya soal lingkungan. Dampak sosial ekonominya terasa langsung bagi masyarakat sekitar. Warga yang dulu bergantung pada wisata air dan aktivitas ekonomi kecil kehilangan sumber penghasilan. Lingkungan yang sebelumnya sejuk berubah menjadi kawasan padat dengan drainase buruk. Ironisnya, daerah sekitar Pagarsih kemudian dikenal sebagai salah satu titik langganan banjir di Bandung. Air yang dulu memberi kehidupan kini seolah “balas dendam” karena kehilangan tempat bernaung.

Urbanisasi dan konversi lahan yang terjadi di Situ Aksan mencerminkan perubahan ekonomi kota secara lebih luas. Bandung beralih dari ekonomi berbasis alam menuju ekonomi berbasis konsumsi dan jasa. Ruang hijau dan air kehilangan nilainya di mata perencanaan kota modern, padahal keduanya menyimpan potensi ekonomi yang tak kalah besar jika dikelola berkelanjutan.

Pelajaran untuk Masa Depan Bandung

Bagi kota seperti Bandung yang dulunya dikenal sejuk dan hijau, hilangnya Situ Aksan merupakan simbol perubahan arah pembangunan yang kurang berpihak pada keseimbangan ekologis. Jika ditilik dari kacamata ekonomi, ruang air seperti danau memiliki fungsi ganda: menjadi sumber daya alam sekaligus infrastruktur ekonomi hijau.

Di banyak kota dunia, danau perkotaan kini kembali dipulihkan bukan semata karena keindahan, tapi karena nilainya dalam menjaga kualitas udara, mengatur iklim mikro, dan menopang aktivitas ekonomi kreatif di sekitarnya. Situ Aksan seharusnya bisa menjadi contoh ekonomi air berkelanjutan di tengah kota. Bayangkan jika danau itu tetap dipertahankan, mungkin hari ini kawasan Pagarsih menjadi destinasi wisata air kecil yang menghidupkan UMKM lokal, tempat anak muda berkumpul, atau bahkan laboratorium urban farming air seperti hidroponik dan aquaponik.

Kini, saat kita berjalan di kawasan Pagarsih atau Jalan Suryani, tak ada lagi riak air yang menenangkan. Namun di balik deretan rumah padat dan gang sempit, ada kisah lama yang terus berbisik tentang air yang dulu memberi kehidupan, dan tentang kota yang lupa menjaga sumber dayanya sendiri.

Situ Aksan mungkin telah hilang, tetapi pelajarannya tetap abadi bahwa ekonomi dan alam seharusnya berjalan berdampingan, bukan saling menenggelamkan. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *