Strategi Jual Langsung Alpukat Hass Pangalengan Lepas dari Tengkulak dan Tembus Medan

Petikhasil.id, PANGALENGAN – Di tengah fluktuasi harga hortikultura, Perkebunan Asta Alam di Pangalengan memilih jalur berbeda. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak. Alpukat Hass yang dipanen langsung dijual ke konsumen lintas kota, bahkan hingga Medan.

Yuda dari Perkebunan Asta Alam menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa pengalaman menanam lemon sebelumnya menjadi pelajaran berharga. Saat itu, hasil panen dijual ke tengkulak dengan selisih harga yang cukup jauh dari harga konsumen akhir.

“Kalau ke tengkulak, selisihnya jauh sekali sampai ke konsumen. Sementara biaya perawatan kebun juga besar,” ujar Yuda.

Belajar dari pengalaman tersebut, mereka memutuskan untuk membangun jalur distribusi sendiri. Buah dipetik hari ini dan dikirim keesokan harinya. Strategi ini dilakukan untuk menjaga kualitas alpukat Hass yang memiliki masa simpan terbatas meski dikenal lebih tahan dibanding varietas lokal berkulit tipis.

Baca Lainya: Alpukat Premium dari Lembang: Perjalanan Nabila Farm Jadi Pusat Bibit Alpukat Indonesia | Potensi Besar Alpukat di Indonesia dan Tantangan Petani Lokal

Menurut data Badan Pusat Statistik, produksi alpukat nasional terus meningkat dalam lima tahun terakhir seiring meningkatnya permintaan pasar domestik dan ekspor. Namun persoalan klasik yang masih dihadapi petani adalah rantai distribusi yang panjang dan harga yang sering tidak sebanding dengan biaya produksi.

Edukasi Konsumen Jadi Kunci

Yuda menjelaskan kepada Petik Hasil bahwa tantangan terbesar bukan hanya produksi, tetapi edukasi pasar. Alpukat Hass dipanen dalam kondisi matang fisiologis namun masih keras. Untuk bisa dikonsumsi, buah memerlukan waktu 10 sampai 14 hari setelah panen.

“Banyak konsumen tahunya alpukat itu sudah matang dan hitam langsung bisa dimakan. Padahal yang dari kebun itu masih mengkel dulu,” katanya.

Ia harus menjelaskan berulang kali bahwa perubahan warna kulit menjadi hitam dan tekstur empuk adalah proses alami setelah distribusi. Di sinilah edukasi menjadi bagian dari strategi pemasaran.

Selain itu, alpukat Hass memiliki karakter rasa yang berbeda. Teksturnya lebih creamy dan dominan gurih karena kandungan lemak tak jenuh tunggalnya tinggi. Karakter ini membuatnya banyak diminati pasar premium dan industri olahan seperti minyak alpukat.

Harga Lebih Tinggi dengan Kontrol Kualitas

Untuk pasar ekspor, harga alpukat Hass bisa mencapai Rp70.000 hingga Rp100.000 per kilogram tergantung kualitas. Di pasar domestik, harga tetap berada di segmen atas dibanding varietas biasa.

Menurut Yuda, harga premium hanya bisa dipertahankan jika kualitas terjaga sejak panen. Karena itu proses panen tidak diserahkan sembarangan.

“Panen masih saya dan Bapak yang pegang. Ciri matang itu kadang nyaru. Kalau salah petik, dagingnya bisa berubah dan kurang enak,” ujarnya kepada Petik Hasil.

Pohon berumur tiga tahun itu membutuhkan sembilan bulan dari bunga hingga buah siap panen. Kesalahan pada fase akhir bisa merugikan setelah menunggu hampir satu tahun.

Modal Besar dan Tantangan Produksi

Dari sisi modal, budidaya alpukat Hass membutuhkan investasi tidak sedikit. Pupuk kandang diberikan dua kali setahun dan pupuk kimia disesuaikan dengan fase pertumbuhan. Unsur kalium ditingkatkan saat pembentukan buah untuk mendukung kualitas.

Kendala lain adalah ketersediaan pupuk subsidi yang terbatas. Harga pupuk non subsidi relatif tinggi. Namun Yuda melihat biaya tersebut sebagai investasi jangka panjang.

“Kalau kualitas dijaga, harga mengikuti. Yang penting jangan over penyemprotan karena bisa merusak kualitas buah,” jelasnya.

Kebun seluas lima hektare itu memiliki sekitar 1.300 pohon alpukat Hass dan mempekerjakan sekitar 10 orang untuk perawatan, pembersihan gulma, dan operasional kebun. Selain alpukat, ada juga sistem tumpangsari dengan kopi arabika untuk menjaga keberlanjutan lahan.

Potensi Pasar Masih Terbuka

Permintaan alpukat premium di Indonesia masih terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat. Kandungan lemak tak jenuh tunggal pada alpukat Hass menjadi daya tarik tersendiri.

Menurut Kementerian Pertanian, hortikultura bernilai tinggi memiliki peluang besar untuk ekspor dan substitusi impor. Alpukat Hass termasuk varietas yang potensial karena ketahanan distribusi dan nilai ekonominya.

Baca Lainya: Alpukat Premium dari Lembang: Perjalanan Nabila Farm Jadi Pusat Bibit Alpukat Indonesia | Potensi Besar Alpukat di Indonesia dan Tantangan Petani Lokal

Bagi Yuda, menjual langsung bukan sekadar strategi harga. Ini juga bentuk kemandirian petani.

“Kita ingin tahu langsung respon konsumen. Kalau bagus, ya kita pertahankan kualitasnya. Jangan terus tergantung tengkulak,” katanya kepada Petik Hasil.

Di Pangalengan, langkah kecil itu perlahan mengubah pola lama. Dari kebun ke konsumen, jarak dipangkas, nilai tambah diperjuangkan. Alpukat Hass bukan hanya soal buah premium, tetapi juga tentang keberanian petani mengelola pasar sendiri. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *