Surga Pangan di Kaki Gunung Tampomas

Petikhasil.id, SUMEDANG – Hujan lebat di areal persawahan Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang tak menyurutkan semangat sejumlah petani untuk tetap meladang.

Di bawah guyuran hujan yang cukup deras di awal November 2025 penanda dimulainya masa tanam ketiga para petani tetap bersemangat menancapkan bibit-bibit padi ke lumpur cokelat yang sudah terlebih dahulu diberi pola.

Sejauh mata memandang, hamparan terasering hijau membentang luas, dengan siluet kokoh Gunung Tampomas bak serupa pasak. Inilah lumbung hidup seluas 94,34 hektare yang telah lama menjadi denyut nadi utama bagi lebih dari 90% penduduk Desa Cikurubuk.

Tanah di Desa Cikurubuk bukan sekadar lumbung padi biasa. Dengan siklus panen hingga tiga kali setahun dan rata-rata produksi di angka 7 hingga 9 ton per hektare, daerah ini juga telah lama dikenal sebagai salah satu produsen padi terbesar di Sumedang.

“Bahkan, kualitas padinya sudah banyak diakui oleh para distributor sebagai yang terbaik,” ungkap Tata Rukanta, Sekretaris Desa Cikurubuk, dikutip Minggu, (16/11/2025).

Namun, Kepala Desa Cikurubuk, Fadar Junawar kata Tata, tidak berhenti di sana. Sejak tahun 2022, di bawah kepemimpinannya, desa ini memulai banyak eksperimen ambisius membangun Sistem Pertanian Terintegrasi yang dirancang untuk menciptakan ekonomi sirkular penuh dari hulu ke hilir.

Sistem ini, jelas Tata, bertujuan menyejahterakan warga dengan memanfaatkan potensi desa secara maksimal dari hulu ke hilir. 

Ia menjelaskan nantinya di hulu akan ada 45 hektare lahan yang telah disiapkan sebagai kebun hijauan yang akan menjadi sumber pakan utama bagi peternakan sapi komunal. Di tengah, akan ada peternakan sapi komunal dan limbahnya akan dimanfaatkan untuk bahan baku pupuk organik.

Sementara di hilir, akan ada pabrik pupuk organik yang kemudian akan digunakan kembali untuk memupuk sawah, yang terbukti mampu meningkatkan kapasitas produksi padi hingga 30% dibandingkan sistem kimia konvensional. Padi organik yang dihasilkan selanjutnya diserap oleh pasar dengan harga yang premium.

Berita Lainya: UMKM Sumedang Dibekali Keterampilan Gunakan AI untuk Tingkatkan Daya Saing | Fokus Pemkab Sumedang untuk Kembangkan Sektor Pertanian

Keberhasilan di Cikurubuk ini menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Sumedang. Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, melihat Sistem Pertanian Organik Berbasis Ekonomi Sirkular ini sebagai peluang investasi yang sangat potensial dan sejalan dengan visi pengembangan daerah.

“Kita sudah sangat siap untuk menerapkan pola investasi ini, baik dari segi regulasi maupun dari segi sosial,” tegas Bupati Dony. “Warga di sana sudah memahami urgensi dan juga manfaat saat sistem pertanian ini dilakukan secara profesional.” 

Dony mengungkapkan nilai investasi yang dibutuhkan untuk proyek skala penuh ini mencapai Rp139,8 miliar, dengan komposisi Capital Expenditure (Capex) Rp73 miliar dan Operational Expenditure (Opex) Rp66 miliar.

Rencana investasi ini mencakup pembangunan infrastruktur vital, seperti:

  • Pabrik Pupuk Organik: Kapasitas produksi 728 ton/tahun.
  • Pabrik Pakan Ternak: Kapasitas produksi 13.500 ton/tahun.
  • Kandang Komunal Modern: Kapasitas populasi 2.000 ekor/tahun.
  • Gudang Beras Organik: Kapasitas penyimpanan 375 ton/tahun.

Selain itu, ia memaparkan kawadan ini juga memiliki keunggulan aksesibilitas. Yakni dapat ditempuh melalui Gerbang Tol Paseh dan Cimalaka dari Tol Cisumdawu, menjadikannya hanya berjarak kurang dari 4 jam dari Jakarta dan 2 jam dari pusat Kota Bandung dan sangat ideal untuk distribusi logistik.

Dengan durasi investasi yang diproyeksikan hingga 15 tahun, Dony optimis proyek ini akan memberikan dampak sosial yang signifikan, terutama dalam serapan tenaga kerja.

“Sumber Daya Manusia (SDM) di sana akan menjadi lebih profesional, dibekali dengan sistem pertanian sirkular yang modern. Ini adalah investasi pada hasil bumi sekaligus pada manusia Sumedang,” tandas dia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *