Tangkapan Ikan Pangandaran Turun Saat Musim Angin Barat Menguji Nelayan

Petikhasil.id, PANGANDARAN – Pagi di tepi pantai biasanya dimulai dengan suara mesin perahu dan teriakan lelang di Tempat Pelelangan Ikan. Tetapi, ketika musim angin barat datang, ritme itu sering melambat. Sebagian perahu tertambat lebih lama. Sebagian nelayan hanya memantau langit dan layar ponsel yang berisi prakiraan cuaca maritim.

Pangandaran bukan titik kecil di peta perikanan. Dalam sebuah artikel ilmiah yang mengutip data statistik setempat, produksi perikanan tangkap di Kabupaten Pangandaran pada 2020 tercatat 1.398.000 kilogram dengan nilai produksi Rp78.885.204.000. Angka ini menunjukkan betapa banyak keluarga menggantungkan hidup pada laut, sekaligus betapa rentannya ekonomi pesisir ketika cuaca berubah.

Gelombang yang naik turun tidak terlihat dari pantai

Pada Kamis 8 Januari 2026, BMKG menampilkan prakiraan cuaca maritim untuk Perairan Pangandaran yang memuat catatan potensi gelombang tinggi hingga 2,6 meter di wilayah perairan tersebut. Pada saat yang sama, prakiraan di area pelabuhan dapat menunjukkan gelombang yang lebih rendah, misalnya sekitar 0,5 meter pada jam tertentu. Perbedaan ini penting. Laut lepas dan area yang lebih dekat ke pelabuhan bisa memiliki karakter gelombang yang berbeda. Nelayan kecil biasanya sangat sensitif terhadap perbedaan ini, karena sedikit saja gelombang naik, risiko di perahu ikut berubah.

Baca Lainya: Budidaya Lobster Laut, Jadi Harapan Baru Ekonomi | Pemerintah Kejar Pembangunan Kampung Nelayan

Pola ini sejalan dengan peringatan BMKG yang lebih luas. Pada 8 Januari 2026, Antara mengutip BMKG yang menyebut gelombang 2,5 hingga 4 meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa Barat dan beberapa wilayah lain. Bagi nelayan Pangandaran yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, angka tersebut adalah alarm. Mereka paham, risiko tidak perlu menunggu badai besar. Angin yang menguat dan gelombang yang meninggi sudah cukup untuk membuat perjalanan melaut berubah menjadi taruhan.

Ketika tangkapan turun, pasar ikut sunyi

Dampak cuaca buruk cepat terasa di dermaga dan pasar ikan. Pada 21 Desember 2025, sebuah laporan media lokal menulis bahwa tangkapan ikan layur di perairan Pangandaran dinilai minim dan diduga dipengaruhi cuaca buruk. Seorang nelayan, Ngadino, 45 tahun, mengatakan tangkapannya saat itu hanya 20 sampai 30 kilogram, padahal biasanya lebih dari itu. Cerita semacam ini mudah bergema, karena ikan layur bukan sekadar komoditas, melainkan sumber putaran uang harian.

Kondisi serupa pernah diberitakan sebelumnya. Pada 22 Januari 2025, media yang sama menuliskan sejumlah nelayan Pangandaran mengalami libur paksa akibat cuaca buruk. Dalam laporan itu disebut gelombang di laut lepas bisa mencapai 2 hingga 3 meter, dan pasokan ikan di pasar ikut seret. Bagi pedagang, stok menipis berarti tidak bisa memenuhi permintaan. Bagi nelayan, trip yang batal berarti pemasukan yang hilang.

Turunnya tangkapan biasanya terjadi lewat dua pintu. Pertama, jumlah trip berkurang karena nelayan memilih menunggu cuaca. Kedua, hasil per trip ikut turun karena titik tangkap yang aman menyempit. Nelayan yang biasanya melaut lebih jauh mungkin masih punya pilihan, tetapi perahu kecil sering tidak. Mereka harus puas di radius yang lebih dekat, yang tidak selalu memiliki ikan target dalam jumlah cukup.

Harga bisa naik, tetapi nelayan belum tentu untung

Di pasar, pasokan yang menipis sering membuat harga naik. Namun kenaikan harga tidak otomatis menjadi kabar baik bagi nelayan. Saat gelombang tinggi, biaya melaut per kilogram ikan bisa lebih mahal. Solar habis, es batu dibeli, tenaga dikeluarkan, tetapi hasil yang dibawa pulang tidak seberapa. Ada juga hari ketika nelayan tidak melaut sama sekali. Pada titik itu, harga boleh saja tinggi, tetapi nelayan tetap tidak mendapat apa apa.

Di sisi lain, pelaku usaha mencoba bertahan. Pengepul dan pedagang kerap mengandalkan pasokan dari daerah lain untuk menjaga kios tetap hidup. Rumah makan menyesuaikan menu. Ikan segar lokal bisa berganti menjadi ikan olahan, ikan beku, atau bahkan ikan budidaya. Pangandaran adalah kawasan wisata, dan kebutuhan konsumsi terus berjalan. Tetapi ketika cuaca menahan kapal di darat, rantai pasok lokal terputus sementara.

Informasi cuaca jadi bagian dari ketahanan pangan

Cuaca buruk tidak hanya berarti hujan. Bagi nelayan, cuaca buruk adalah kombinasi arah angin, kecepatan angin, tinggi gelombang, arus, dan jarak pandang. Musim angin barat juga terkenal dengan perubahan yang cepat. Hari ini laut terlihat tenang dari pantai, besoknya gelombang bisa memaksa semua pulang lebih cepat. Karena itu, prakiraan cuaca maritim yang rinci menjadi rujukan penting.

BMKG menyediakan prakiraan pelabuhan dan prakiraan perairan yang bisa dipantau jam per jam. Informasi seperti hembusan angin dan potensi gelombang tinggi membantu nelayan mengambil keputusan yang lebih aman. Di lapangan, keputusan menunggu di darat sering diambil bukan karena nelayan malas, melainkan karena nelayan menghitung keselamatan. Mereka yang pernah melihat perahu karam atau teman hilang di laut, biasanya lebih berhati hati.

Bantalan ekonomi yang dibutuhkan saat nelayan menepi

Jika cuaca buruk membuat produksi perikanan tangkap turun, jawaban paling sehat bukan memaksa nelayan tetap melaut. Yang dibutuhkan adalah bantalan ekonomi saat mereka tidak bisa melaut. Bantalan itu bisa berupa akses permodalan yang tidak mencekik, bantuan yang tepat sasaran pada keluarga nelayan harian, dan penguatan fasilitas pascapanen seperti cold storage agar ikan yang didaratkan saat cuaca baik bisa disimpan lebih lama. Ketika musim aman datang, nelayan bisa melaut lebih optimal tanpa diburu kebut setoran harian.

Kunci lain adalah komunikasi risiko yang sederhana. Konsumen sering bertanya mengapa harga ikan naik, padahal pantai tampak biasa saja. Menjelaskan bahwa kondisi di area tangkap tidak selalu sama dengan kondisi di bibir pantai membantu publik memahami fluktuasi. Nelayan tidak sedang memainkan harga. Mereka sedang bernegosiasi dengan alam.

Baca Lainya: Budidaya Lobster Laut, Jadi Harapan Baru Ekonomi | Pemerintah Kejar Pembangunan Kampung Nelayan

Di beberapa kampung nelayan, upaya kecil sering muncul dari inisiatif warga. Ada yang membuat kas bersama untuk keadaan darurat. Ada yang membagi informasi gelombang lewat grup pesan singkat, termasuk mengingatkan jam pasang surut dan arah angin. Praktik seperti ini terdengar sederhana, tetapi efeknya besar. Nelayan bisa mengatur jadwal, mengurangi keputusan nekat, dan menyiapkan kerja sambilan ketika cuaca panjang tidak bersahabat, misalnya memperbaiki jaring, merawat mesin, membantu bongkar muat di dermaga, memperbaiki perahu, atau mengolah ikan menjadi produk awetan.

Laut akan tenang lagi, tetapi pelajarannya menetap

Musim gelombang pada akhirnya lewat. Namun setiap musim menyimpan pelajaran. Di Pangandaran, turunnya tangkapan ikan saat cuaca buruk mengingatkan bahwa ketahanan pangan dari laut juga bergantung pada ketahanan informasi dan ketahanan ekonomi di darat. Ketika prakiraan cuaca dipahami, risiko berkurang. Ketika bantalan ekonomi tersedia, keluarga nelayan bisa bernapas. Dan ketika rantai pasok lebih siap, pasar tidak mudah panik. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *