Petikhasil.id, BANDUNG – Dalam setiap gigitan tape singkong, tersimpan kehangatan khas Priangan: lembut, manis, dan sedikit menyengat di lidah. Makanan sederhana yang sering dijadikan camilan atau bahan kolak ini ternyata memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam budaya pangan Jawa Barat.
Tape singkong lahir dari kreativitas masyarakat Sunda dalam mengawetkan bahan pangan. Menurut catatan Pusat Kajian Pangan Tradisional Universitas Padjadjaran, proses fermentasi singkong dengan ragi tapai sudah dikenal sejak abad ke-19, terutama di wilayah Bandung, Sumedang, dan Garut. Ragi yang digunakan berisi mikroba Amylomyces rouxii dan Saccharomyces cerevisiae mengubah pati singkong menjadi glukosa dan alkohol alami, menciptakan cita rasa manis dengan sedikit aroma khas yang membuatnya unik.
Berita Lainya: Alpukat Premium dari Lembang: Perjalanan Nabila Farm Jadi Pusat Bibit Alpukat Indonesia | Ubi Cilembu: Manis dari Tanah Sumedang, Legenda Ubi yang Tak Bisa Dipalsukan
Selain untuk konsumsi rumah tangga, tape singkong menjadi bahan dasar berbagai kuliner populer: peuyeum goreng, bolu tape, hingga es tape susu. Di pasar tradisional Bandung, peuyeum masih dijajakan menggantung di bambu panjang sebuah pemandangan yang kini menjadi ikon wisata kuliner Lembang dan Dago.
Dari Tradisi ke Inovasi Pangan Lokal
Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat (2023), permintaan tape singkong olahan meningkat 30% setiap tahunnya, terutama dari sektor wisata kuliner dan oleh-oleh khas Bandung. Produk modern seperti peuyeum brownies dan milk tape drink menjadi bukti bahwa fermentasi tradisional bisa bersaing di pasar kekinian.
Kandungan gizinya pun tak kalah menarik. Berdasarkan jurnal Food Chemistry (2019), tape singkong mengandung vitamin B kompleks, probiotik alami, serta kadar gula yang lebih mudah diserap tubuh dibanding singkong mentah. Proses fermentasi juga meningkatkan ketersediaan zat besi dan memperbaiki pencernaan, membuatnya menjadi pangan fungsional yang menyehatkan.
Tape singkong bukan sekadar hasil fermentasi ia adalah hasil dialog panjang antara manusia, mikroba, dan waktu. Dari dapur desa ke etalase modern, peuyeum membuktikan bahwa tradisi bisa bertahan tanpa kehilangan jati diri.***






