Petikhasil.id, CIREBON – Peternakan ayam broiler di Indonesia terus berkembang mengikuti teknologi modern yang terbukti meningkatkan efisiensi dan kesehatan ternak. Salah satu peternakan yang menerapkan inovasi tersebut adalah Ken Farm Cirebon, milik Satrio Wicaksono, yang kini mampu mengelola hingga ratusan ribu ekor ayam dalam satu siklus berkat teknologi closed house system.
Teknologi ini menjadi kunci utama bagi Ken Farm dalam memastikan ayam tumbuh cepat, sehat, dan terhindar dari stres lingkungan. Meski demikian, Satrio menegaskan bahwa teknologi bukan satu-satunya faktor keberhasilan—pengamatan manual dan pemahaman terhadap kebutuhan ayam tetap menjadi komponen penting.
“Semua pengaturan suhu, kipas, dan air itu sudah ada di panel TempTron atau Vento. Tapi meskipun teknologi sudah canggih, tetap harus dilihat kondisi ayamnya seperti apa,” ujar Satrio.
Apa Itu Sistem Closed House?
Sistem closed house merupakan kandang tertutup yang dilengkapi perangkat otomatis untuk mengatur suhu, ventilasi, kelembaban, dan intensitas cahaya. Semua faktor ini sangat menentukan kenyamanan ayam broiler, terutama yang masih berusia muda.
Dalam sistem ini, udara diatur oleh kombinasi exhaust fan, inlet, cooling pad, dan pengatur suhu digital seperti TempTron dan Vento yang digunakan Ken Farm. Dengan begitu, kondisi kandang tetap stabil meski cuaca di luar berubah-ubah.
“Di Ken Farm, suhu ayam umur 10 hari, 20 hari, dan 30 hari itu sudah dijadwalkan semua. Sistemnya otomatis menyesuaikan,” jelasnya.
Baca lainnya: Ayam Broiler vs Ayam Kampung, Mana Lebih Menguntungkan? Ini Kata Ken Farm Cirebon
Manfaat Closed House untuk Produksi Ayam
Satrio menyebut ada tiga manfaat utama dari penggunaan teknologi closed house:
1. Kontrol Suhu yang Lebih Akurat
Ayam broiler sangat sensitif terhadap suhu. Jika terlalu panas, ayam stres dan tidak mau makan; jika terlalu dingin, pertumbuhan melambat.
Dengan closed house, suhu dapat dijaga sesuai standar setiap umur ayam:
- Umur 1–10 hari: suhu lebih hangat
- Umur 10–20 hari: suhu stabil
- Umur di atas 20 hari: cooling pad mulai aktif
“Kalau ayam sudah mulai padat dan terlihat pengap, cooling pad kita turunkan supaya oksigennya naik,” kata Satrio.
2. Mengurangi Risiko Penyakit
Kandang tertutup membuat ayam tidak terpapar debu, angin kencang, dan perubahan cuaca ekstrem yang bisa memicu penyakit seperti CRD atau kolibasilosis.
Selain itu, sistem ventilasi otomatis membantu menjaga kelembaban agar sekam tetap kering—faktor penting dalam menjaga kesehatan ayam.
3. Pertumbuhan Lebih Merata
Dalam closed house, distribusi pakan dan air minum dilakukan secara otomatis dan merata. Ini membuat ayam tumbuh lebih seragam dari sisi bobot.
“Kalau ayam kecil dicampur ayam besar dalam satu tempat, pertumbuhannya tidak akan merata. Tapi dengan sistem terjadwal, kita bisa memisahkan dan mengatur pemberian pakan dengan lebih tepat,” jelas Satrio.
Cara Ken Farm Menggunakan Teknologi dengan Efektif
Meski sistem closed house memiliki banyak kelebihan, Satrio menekankan bahwa penggunaannya harus diimbangi pemahaman lapangan.
“Standar itu hanya angka. Tapi ayam yang menentukan apakah angka itu cocok atau tidak,” ujarnya.
Misalnya, standar mengatur suhu 33 derajat untuk ayam kecil. Namun jika ayam terlihat berkumpul di sudut kandang, itu tanda suhu harus diturunkan.
“Kita melihat ayamnya dulu. Kalau kepanasan, kita turunkan. Kalau kedinginan, kita naikkan. Sistem tidak boleh 100 persen diandalkan,” lanjutnya.
Baca lainnya: Antara Surga dan Neraka, Risiko Gagal di Bisnis Ayam, Cerita Ken Farm Cirebon
Tantangan dalam Penggunaan Closed House
Mengoperasikan closed house juga memiliki risiko, terutama terkait listrik. Jika terjadi pemadaman listrik tiba-tiba, ayam dapat mengalami stres hingga mati massal.
“Inilah kenapa genset itu harus selalu siap. Telat 5–10 menit saja bisa hancur semua hasil kerja kita,” tegas Satrio.
Selain itu, teknisi harus selalu siap memantau panel kontrol, karena kesalahan kecil dalam pengaturan bisa berdampak besar terhadap kondisi ayam.






