Terong Belanda Bukan dari Belanda Tapi Justru Subur di Tanah Tropis

PetikHasil.id, BANDUNG — Namanya “terong Belanda”, tapi asal-usulnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan negeri kincir angin. Buah berwarna jingga kemerahan ini sebenarnya berasal dari pegunungan Andes di Amerika Selatan.

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), tanaman Solanum betaceum atau tamarillo pertama kali dibudidayakan di Peru, Bolivia, dan Ekuador. Dari kawasan Andes inilah, buah tersebut dibawa oleh bangsa Spanyol pada abad ke-16 ke berbagai koloni Eropa di Asia, termasuk ke wilayah Hindia Belanda.

Sejak saat itu, tamarillo menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya menemukan rumah baru di tanah tropis Indonesia. Popularitasnya di masa kolonial membuat masyarakat setempat mengenalnya sebagai “terong Belanda” sebuah penamaan yang melekat hingga kini, meski buahnya justru lebih nyaman tumbuh di dataran tinggi Nusantara ketimbang di tanah Eropa.

Dari Andes ke Priangan

Catatan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang menunjukkan bahwa pada dekade 1940-an, tanaman ini mulai dibudidayakan secara luas di dataran tinggi Jawa Barat, seperti Lembang, Pangalengan, dan Malang. Suhu sejuk berkisar 16–24°C dan kondisi tanah vulkanik membuatnya tumbuh subur, menghasilkan buah berbentuk lonjong dengan kulit mengilap dan rasa asam-manis khas.

Kini, Indonesia menjadi salah satu produsen terong Belanda terbesar di Asia Tenggara. Data Kementerian Pertanian 2023 menunjukkan bahwa luas lahan budidaya terong Belanda di Jawa Barat mencapai lebih dari 230 hektare dengan produksi sekitar 1.800 ton per tahun. Sebagian hasilnya bahkan telah menembus pasar ekspor terbatas ke Singapura dan Jepang melalui kemitraan petani-UMKM di Lembang dan Kintamani.

“Dulu, orang Belanda yang memperkenalkan bibitnya. Tapi sekarang kami yang mengembangkannya,” ujar Rizal (29), petani muda asal Cibodas, Lembang, kepada Petik Hasil. “Dari ladang kecil di kaki gunung, kami bisa kirim sirup terong Belanda ke Jakarta bahkan ke luar negeri.”

Buah yang Membingungkan Tapi Menarik

Meski namanya “terong”, secara ilmiah buah ini lebih dekat dengan tomat dan kentang karena sama-sama berasal dari famili Solanaceae. Bentuknya oval menyerupai telur kecil dengan kulit halus dan daging lembut berair. Dalam dunia kuliner, terong Belanda kerap dijadikan bahan jus, selai, sirup, hingga saus salad karena cita rasanya yang unik: perpaduan asam segar, sedikit getir, dan manis alami.

Beberapa koki hotel menyebutnya the tropical tomato karena fleksibilitasnya dalam masakan. Selain menambah rasa, warnanya yang merah kejinggaan membuat hidangan tampil lebih menarik.

Kaya Nutrisi, Sahabat Dataran Tinggi

Hasil riset Balitsa Lembang (2022) menunjukkan bahwa 100 gram buah terong Belanda mengandung:

  • Vitamin C sekitar 30 mg, membantu pembentukan kolagen dan meningkatkan daya tahan tubuh.
  • Beta karoten tinggi, baik untuk kesehatan mata dan kulit.
  • Zat besi, kalium, serta serat alami yang membantu metabolisme dan menjaga tekanan darah.

Kandungan pigmen antosianin di kulitnya berfungsi sebagai antioksidan alami yang melindungi tubuh dari radikal bebas. Karena itulah buah ini digolongkan sebagai functional fruit buah yang tak hanya segar dimakan tetapi juga memberi manfaat kesehatan nyata.

Balitsa juga mencatat bahwa tanaman ini sangat adaptif terhadap suhu 16–24°C, menjadikannya cocok ditanam di kawasan dataran tinggi seperti Lembang, Pangalengan, Wonosobo, hingga Kintamani. Pertumbuhan terbaik terjadi pada ketinggian 1.000–1.500 mdpl, di mana kelembapan dan drainase tanah relatif stabil.

Dukungan Data dan Manfaat Kesehatan

Sejumlah penelitian dari National Center for Biotechnology Information (NCBI) dan Journal of Food Science and Nutrition (2021) memperkuat reputasi buah ini sebagai sumber gizi tinggi. Kandungan kalium dan seratnya terbukti membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol, sementara vitamin C mempercepat penyembuhan luka serta memperkuat sistem imun.

Dalam studi yang dilakukan oleh Departemen Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), konsumsi rutin terong Belanda selama tiga minggu mampu menurunkan kadar trigliserida hingga 12%. Selain itu, antioksidan antosianin yang terkandung dalam kulitnya berperan penting dalam menjaga elastisitas kulit dan memperlambat penuaan sel.

“Terong Belanda termasuk buah lokal yang potensial untuk pangan fungsional,” jelas Dr. Nurul Fitri, peneliti hortikultura UGM, saat dihubungi Petik Hasil. “Kandungan bioaktifnya sebanding dengan blueberry, hanya saja harganya jauh lebih terjangkau.”

Naik Kelas Lewat Produk Olahan Desa

Dulu, terong Belanda dikenal sebagai buah pelengkap jus hotel. Kini, citranya berubah. Di berbagai desa pegunungan, buah ini diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti sirup, dodol, hingga wine fermentasi buah.

Di Desa Cibodas, Lembang, kelompok tani muda bekerja sama dengan pelaku UMKM untuk membuat sirup terong Belanda dalam kemasan modern. Produk tersebut dipasarkan lewat e-commerce dan toko wisata.

Data Dinas Pertanian Jawa Barat (2024) mencatat permintaan bibit terong Belanda meningkat hingga 20% dalam dua tahun terakhir, terutama dari kawasan wisata agro seperti Ciwidey, Puncak, dan Batu.

Pemerintah provinsi juga mulai mendorong sertifikasi olahan terong Belanda melalui program One Village One Product (OVOP) untuk memperkuat posisi buah ini di pasar domestik.

Peluang Ekonomi dan Regenerasi Petani

Harga terong Belanda di tingkat petani berkisar antara Rp10.000–15.000 per kilogram, namun untuk produk olahan seperti sirup dan selai nilainya bisa naik empat kali lipat. Kementerian Pertanian memperkirakan potensi nilai pasar buah tropis olahan mencapai Rp2,4 triliun per tahun pada 2025, dengan tren pertumbuhan 7–9% per tahun.

Berita Lainya: Dari Buah Liar ke Bisnis Kreatif, Mengubah Ciplukan Jadi Produk Bernilai Tinggi | 5 Buah Lokal Indonesia yang Nyaris Punah tapi Bernilai Tinggi

Menurut BPS 2023, Jawa Barat menempati posisi kedua setelah Bali dalam produksi terong Belanda nasional. Keunggulan utama petani muda terletak pada inovasi produk dan kemampuan digital marketing. Rizal dan kelompoknya, misalnya, sudah menjual produk sirup melalui platform Shopee dan Tokopedia, sekaligus memperluas jaringan lewat media sosial.

“Anak muda jangan malu bertani,” ujar Rizal tersenyum. “Kalau tahu cara olah dan pasarkan, hasil bumi kita nggak kalah keren dari produk impor.”

Warisan Tropis yang Menembus Generasi

Bagi banyak warga Bandung dan Lembang, jus terong Belanda adalah cita rasa masa kecil minuman khas kafe lawas dengan warna jingga keunguan dan sensasi segar yang tak lekang waktu. Kini, buah yang dulu dibawa penjajah itu tumbuh menjadi identitas baru pertanian dataran tinggi Indonesia.

Dari pegunungan Andes hingga kaki Priangan, dari kolonial ke kekinian, terong Belanda membuktikan satu hal sederhana, buah yang baik akan selalu menemukan tanah suburnya bahkan di tangan petani muda yang mencintai desanya sendiri. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *