Ubi Yakon Si Manis Renyah dari Dataran Tinggi yang Mulai Dilirik Pasar Sehat

Petikhasil.id, WONOSOBO – Udara pagi di lereng Dieng terasa menggigit, tapi kebun di belakang rumah tetap hidup. Tanahnya lembap, sinar matahari datang pelan, dan di sela barisan tanaman berdaun lebar itu, ada umbi yang bentuknya mengingatkan orang pada ubi jalar. Bedanya, begitu dibelah, yakon mengeluarkan aroma segar dan dagingnya mengilap berair.

Di dapur rumah warga, yakon sering bikin orang ragu saat pertama kali mencicipi. Rasanya manis, teksturnya garing, lebih dekat ke sensasi buah daripada umbi. Gambaran seperti ini juga muncul dalam kajian ilmiah yang menyebut umbi yakon bisa dimakan mentah, direbus, dipanggang, atau dikeringkan, dengan karakter renyah yang khas.

Namun cerita yakon di Indonesia tidak berhenti pada rasa. Tanaman bernama latin Smallanthus sonchifolius ini berasal dari kawasan Andes dan dikenal mampu tumbuh di rentang ketinggian yang luas. Sejumlah rujukan ilmiah mencatatnya cocok di lingkungan sejuk hingga hangat dengan kisaran ketinggian ratusan sampai ribuan meter di atas permukaan laut.

Tumbuh di Indonesia dan menemukan rumah di dataran tinggi

Budidaya yakon di Indonesia memang belum sebesar kentang atau kubis, tetapi jejaknya nyata. Di Wonosobo, misalnya, ada pekebun yang menanam yakon pada ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Dari sana, yakon tidak hanya dipanen umbinya, tetapi juga daunnya untuk kebutuhan industri herbal.

Baca Lainya: Permintaan Eskpor Tinggi, Ubi Cilembu Khas Sumedang Perlu Sistem Modern | Ubi Cilembu: Manis dari Tanah Sumedang, Legenda Ubi yang Tak Bisa Dipalsukan

Kisah ini sejalan dengan catatan media bisnis yang menyebut yakon tumbuh maksimal bila ditanam di lokasi lembap pada ketinggian sekitar 1.000 sampai 1.300 meter di atas permukaan laut, dengan pemupukan kompos dan penyiraman yang terjaga.

Di sisi lain, jejak budidaya yakon juga masuk ke program pemberdayaan desa. Laporan kegiatan pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi mencatat bibit yakon disiapkan oleh petani yakon dari Wonosobo, lalu dibawa ke Desa Argosari untuk penanaman dan pelatihan budidaya. Ini memberi sinyal bahwa sudah ada alur bibit dan pengetahuan yang bergerak antarwilayah.

Umbi yang manis tapi tidak berjalan seperti gula biasa

Yang membuat yakon cepat menarik perhatian pasar sehat adalah komposisi karbohidratnya. Yakon dikenal kaya fruktooligosakarida dan inulin, dua kelompok fruktan yang berperan sebagai serat prebiotik. Sejumlah studi menjelaskan fruktooligosakarida tidak mudah dipecah oleh enzim pencernaan manusia, sehingga sebagian besar mencapai usus besar dan menjadi sumber bagi mikroba baik.

Pada produk olahan seperti konsentrat atau sirup yakon, ada penelitian yang mengukur indeks glikemik sekitar 40 dan mengelompokkannya sebagai pangan dengan indeks glikemik rendah. Angka ini memberi gambaran potensi yakon sebagai pemanis alami yang lebih bersahabat, walau tetap perlu melihat konteks produk dan porsi konsumsi.

Di Indonesia, ketertarikan ilmiah terhadap yakon juga terlihat dari penelitian kampus. Salah satu riset di IPB meneliti isolasi inulin dari umbi yakon, lengkap dengan data rendemen dan karakterisasi, yang menunjukkan yakon mulai dipandang sebagai bahan baku prebiotik yang bisa diolah lebih lanjut.

Ada momen penting setelah panen yang menentukan rasa dan fungsi

Di kebun, yakon dipanen seperti umbi lain. Tetapi setelah panen, yakon punya fase yang unik. Sejumlah riset pascapanen menunjukkan fruktooligosakarida dapat terurai menjadi gula sederhana selama penyimpanan atau proses penjemuran, dan perubahan ini berkaitan dengan meningkatnya rasa manis.

Di sinilah yakon terasa seperti punya dua identitas. Untuk konsumsi segar, sebagian petani atau rumah tangga sengaja menjemur sebentar agar lebih manis. Untuk tujuan pangan fungsional yang mengejar fruktooligosakarida tinggi, penyimpanan yang terlalu lama dapat menurunkan kadarnya. Literatur juga mencatat penurunan fruktooligosakarida bisa terjadi selama penyimpanan pascapanen bahkan pada suhu rendah, sehingga pengolahan dan penanganan menjadi kunci.

Baca Lainya: Permintaan Eskpor Tinggi, Ubi Cilembu Khas Sumedang Perlu Sistem Modern | Ubi Cilembu: Manis dari Tanah Sumedang, Legenda Ubi yang Tak Bisa Dipalsukan

Artinya, yakon bukan hanya soal menanam. Yakon juga soal keputusan kecil setelah panen. Mau dikejar rasa manisnya, atau mau dipertahankan profil prebiotiknya. Di lapangan, dua kebutuhan ini bisa sama pentingnya karena pasar pun beragam.

Peluang di dapur dan di pasar oleh oleh sehat

Di meja makan, yakon mudah masuk ke kebiasaan baru. Ia bisa dijadikan camilan segar, dicampur salad, atau dipotong tipis seperti buah. Dalam literatur, yakon juga dikenal bisa diolah menjadi jus, sirup, permen, puree, hingga tepung. Ini membuat yakon punya nilai tambah yang tidak hanya bertumpu pada umbi mentah.

Bagi wilayah dataran tinggi yang selama ini bertumpu pada komoditas sayur yang rentan fluktuasi harga, yakon menawarkan cerita lain. Tanaman ini bisa dibaca sebagai diversifikasi. Ada peluang produk olahan yang tahan simpan, ada peluang pasar gaya hidup sehat, dan ada peluang agroedukasi karena yakon masih terasa baru bagi banyak orang.

Namun peluang itu menuntut kejujuran informasi. Yakon kerap disebut terkait isu gula darah karena tradisi konsumsi daun dan umbi serta riset pada hewan atau uji laboratorium. Tetapi konsumsi pangan fungsional tidak sama dengan obat. Yang lebih aman adalah menempatkan yakon sebagai bagian dari pola makan seimbang, sambil tetap merujuk pada bukti ilmiah yang terus berkembang.

Yang dicari sebenarnya bukan umbinya saja, tapi narasinya

Di Wonosobo, yakon tumbuh diam diam di sela komoditas yang lebih populer. Ia tidak selalu dipajang di pasar besar, tetapi hidup melalui jaringan bibit, komunitas, dan pasar yang spesifik. Ada yang memanen daun, ada yang mengincar umbi, ada yang mulai melirik olahan.

Bila yakon ingin naik kelas, pekerjaan rumahnya bukan sekadar memperluas lahan. Yang lebih penting adalah memastikan standar budidaya, panen, dan pascapanen yang konsisten, supaya rasa dan kualitasnya tidak berubah ubah. Karena sekali orang mencoba yakon yang hambar atau cepat rusak, kesan pertamanya sulit diperbaiki.

Pada akhirnya, yakon mengajarkan satu hal yang sederhana. Pangan alternatif tidak pernah benar benar alternatif kalau tidak punya cerita yang mudah dipahami. Yakon punya rasa yang bisa membuat orang jatuh hati, punya sains yang bisa menjelaskan kenapa ia berbeda, dan punya ruang di dataran tinggi Indonesia yang memang cocok untuk tumbuh. Tinggal bagaimana kita merawat perjalanannya dari kebun sampai ke meja makan. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *