Petikhasil.id, BANDUNG BARAT – Dari kejauhan, Waduk Saguling terlihat tenang. Airnya memantulkan langit biru dan gunung yang memeluknya dari kejauhan. Tapi di balik pemandangan itu, ada kehidupan yang berdenyut setiap hari kehidupan para pembudidaya ikan yang menggantungkan nasibnya pada jaring apung dan arus air waduk.
Bagi mereka, waduk bukan sekadar tempat bekerja, tapi ruang hidup, tempat keluarga dibesarkan, anak disekolahkan, dan harapan ditambatkan.
“Kalau orang lain lihat air, mereka lihat permukaan. Kalau kami lihat, kami lihat kehidupan,” ujar Dian (40), pembudidaya ikan yang sudah bertahun-tahun beraktivitas di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat.
Kehidupan di Atas Air
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya naik, perahu-perahu kecil mulai bergerak menembus kabut tipis. Suara mesin tempel berpadu dengan cipratan air tanda bahwa para pembudidaya sudah menuju jaring apung mereka.
“Kami mulai kerja jam enam. Bersihin jaring, kasih makan ikan, cek kualitas air. Kadang kalau hujan semalaman, airnya berubah, jadi harus lebih hati-hati,” kata Dian sambil mengikat tali rakit di pinggiran waduk.
Ia bukan satu-satunya. Ratusan orang di sekitar Desa Bongas dan Cipongkor memiliki rutinitas yang sama. Sebagian besar di antara mereka tinggal di rumah panggung dekat waduk, hanya beberapa langkah dari perahunya masing-masing.
“Suara air itu kayak alarm buat kami. Kalau air pasang, kami tahu. Kalau angin besar, kami juga langsung siaga,” ujar Euis (37), istri pembudidaya lain yang ikut membantu memberi pakan.
Dari Air untuk Anak dan Masa Depan
Bagi keluarga pembudidaya, hasil panen ikan bukan hanya soal keuntungan, tetapi tentang masa depan anak-anak mereka. “Semua biaya sekolah anak saya dari sini. Dari ikan mas, nila, sampai gurame,” kata Euis sambil tersenyum.
Namun di balik senyum itu, ada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. Wacana pengetatan izin Keramba Jaring Apung (KJA) membuat banyak keluarga waswas.
“Kalau waduk ini ditutup untuk budidaya, kami harus pindah ke mana? Ini satu-satunya pekerjaan yang kami bisa,” ucap Euis lirih.
Ia mengaku sudah turun-temurun hidup dari waduk. Orang tuanya dulu juga pembudidaya, begitu pula suaminya sekarang. “Air ini sudah seperti keluarga,” tambahnya.
Kehidupan Sosial yang Unik
Komunitas pembudidaya di sekitar Waduk Saguling memiliki sistem sosial yang khas. Mereka hidup saling bergantung, saling bantu, dan berbagi rezeki.
“Kalau ada yang panen duluan, biasanya bantu teman lain. Misal pinjem blower oksigen, pinjem drum, atau sekadar bantu angkut ikan,” kata Dian.
Di antara mereka, tidak ada persaingan yang kejam. Justru, solidaritas menjadi kunci bertahan hidup di tengah risiko besar. “Kalau ada yang kena musibah, semua turun tangan. Karena kita tahu, nasib kita sama,” ujar Wawan (45), pembudidaya senior di wilayah itu.
Selain itu, waduk juga menjadi tempat sosial yang hidup. Banyak anak-anak bermain di tepi air, para ibu berbincang sambil menjemur pakaian, dan bapak-bapak memperbaiki jaring sambil bercanda.
“Di sini rame terus. Kalau sore, anak-anak suka mancing di pinggir, ibu-ibu masak bareng. Meskipun hidup sederhana, tapi hangat,” tutur Wawan.
Antara Alam dan Aturan
Namun, di balik kehidupan sosial yang harmonis, ancaman datang dari dua arah perubahan alam dan regulasi pemerintah.
Musim hujan yang tak menentu sering membuat air waduk berubah mendadak. “Kadang warna airnya tiba-tiba cokelat, ikan jadi stres. Kalau udah gitu, panen bisa gagal,” kata Dian.
Sementara itu, aturan soal pembatasan jumlah KJA terus menghantui. “Kami setuju lingkungan dijaga, tapi jangan sampai kami disalahkan terus,” ucapnya.
Bagi warga, waduk adalah bagian dari kehidupan. Menghapus mereka dari sana sama saja seperti mencabut akar dari tanahnya sendiri.
Waduk Sebagai Simbol Keteguhan
Bagi banyak orang luar, waduk hanyalah bagian dari sistem PLTA Saguling. Tapi bagi warga sekitar, waduk adalah simbol keteguhan dan keberanian hidup di atas ketidakpastian.
“Setiap kali angin besar datang, kami nggak tahu rakit akan kuat atau enggak. Tapi kami tetap di sini. Karena kalau bukan di sini, kami bisa apa?” kata Wawan.
Mereka terbiasa hidup berdampingan dengan risiko. Mulai dari tali jaring yang putus, ikan yang mati karena air beracun, hingga ancaman penggusuran. Tapi semangat mereka selalu kembali setiap pagi.
“Kalau ikan mati, kami bersihin lagi, mulai dari nol. Hidup memang harus terus dijalani, kayak air yang terus ngalir,” tambahnya.
Kehidupan yang Tumbuh di Tengah Air
Waduk Saguling kini bukan hanya tempat produksi ikan, tetapi juga ekosistem sosial yang kompleks. Ada warung kecil yang melayani para pembudidaya, ada anak-anak muda yang jadi pengepul ikan, ada ibu-ibu yang mengolah ikan asin hasil panen.
“Dari waduk ini, banyak jenis pekerjaan tercipta. Nggak cuma yang punya jaring, tapi juga yang ngangkut, jualan, dan bantu-bantu,” kata Euis.
Beberapa warga bahkan mulai berinovasi dengan membuat produk olahan ikan lokal seperti abon ikan dan bakso ikan. “Kami mau terus hidup, tapi juga berkembang. Jadi kami belajar jualan online juga,” ujarnya bangga.
Berita Lainya: Ikan Mas dan Nila, Komoditas Emas dari Waduk Saguling yang Tak Pernah Sepi Permintaan | Ini Dia 5 Ikan Invasif yang Justru Dibudidayakan di Indonesia
Harapan di Tengah Ombak Perubahan
Kini, warga pembudidaya di Waduk Saguling berharap pemerintah hadir bukan sebagai penghapus, tapi sebagai pendamping. Mereka ingin tetap bisa hidup dari waduk, sambil menjaga alam agar tetap lestari.
“Kami nggak minta banyak. Cukup dibimbing dan diberi kejelasan. Karena kami juga ingin anak-anak kami tetap bisa hidup dari sini tanpa merusak lingkungan,” kata Dian.
Ia juga berharap pemerintah lebih sering turun langsung melihat kehidupan mereka. “Kalau sudah lihat sendiri, pasti ngerti bahwa waduk ini bukan cuma tempat air. Ini tempat hidup,” ujarnya.






