Seri Liputan: Kebangkitan MPS Agro Bersama dari Cimanggu

Petikhasil.id, BANDUNG BARAT – Dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19, sekelompok petani muda di Desa Cimanggu, Kecamatan Ngamprah, bangkit dengan membentuk MPS Agro Bersama. Lewat semangat kolaborasi, mereka membuktikan bahwa inovasi, teknologi, dan kerja sama bisa melahirkan peluang baru. Berikut liputan khusus Petik Hasil dalam 4 bagian.

Dari Bangkrut Covid Jadi Kebangkitan Baru

Pandemi membuat usaha Pipin dan rekan-rekannya lumpuh. Hutang menumpuk, aktivitas usaha berhenti total. Namun undangan dari Dinas Tenaga Kerja Bandung Barat untuk ikut pelatihan sayur dan pembibitan justru jadi titik balik. Dari situ lahirlah kelompok MPS Agro Bersama, dengan visi sederhana: menekan ongkos produksi, saling berbagi ilmu, dan sama-sama bertahan hidup.
Baca selengkapnya: Dari Bangkrut Covid Jadi MPS Agro Bersama

Paprika Jadi Andalan dengan Teknologi Hemat Biaya

Paprika dipilih jadi komoditas utama karena pasar menengah-atas masih besar. Dengan teknologi aktivator dari Jerman dan Taiwan, biaya produksi bisa ditekan hingga 50% tanpa menurunkan hasil. Dari 3.000 pohon paprika, mereka menargetkan panen 1 ton. Harga grade A yang mencapai Rp 25.000–Rp 29.000 per kilogram membuat margin keuntungan tetap sehat.
Baca selengkapnya: Paprika Jadi Andalan: Taruhan Tinggi dengan Strategi Cerdas

Asparagus Organik, Tantangan Panjang tapi Menjanjikan

Tak puas dengan paprika, MPS Agro Bersama juga menanam asparagus. Tanaman ini butuh 6 bulan hingga panen, tapi hasilnya premium. Harga stabil di Rp 60.000 per kg, terutama jika dipasarkan organik ke hotel dan restoran. Pipin menyebut, “Asparagus tidak bisa dipaksa kimia, ia memang harus alami.” Ini jadi daya tarik sekaligus pembeda dari komoditas sayur lain.
Baca selengkapnya: Asparagus Organik: Tantangan Panjang Berbuah Janji

Dari Cimanggu Menuju Ekspor

Mimpi mereka tak berhenti di pasar lokal. Pada 2020, MPS Agro Bersama pernah memasok 10 ton brokoli ke Taiwan. Meski baru sebagai supplier, pengalaman itu jadi modal penting memahami standar ekspor. Pipin percaya, “Petani bisa mandiri ekspor asal regulasinya jelas.” Dengan konsistensi, paprika, asparagus, dan brokoli dari Cimanggu bisa mengisi pasar internasional.
Baca selengkapnya: Ekspor dan Mimpi Petani Muda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *