Petikhasil.id, BALI — Di dataran tinggi Kintamani, aroma arabika yang khas bukan hanya lahir dari tanah vulkanik Bali, tapi juga dari kerja keras petani yang menjaga cita rasa dan keberlanjutan. Tahun ini, dalam peringatan Hari Kopi Sedunia, Kopi Kenangan meluncurkan program Sip for Sustainability inisiatif yang menyatukan semangat industri dan akar pertanian lokal.
Menanam Keberlanjutan dari Hulu ke Hilir
Program ini berfokus memperkuat rantai pasok kopi Indonesia, dimulai dari kebun hingga ke tangan konsumen. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan biji kopi berkualitas, tapi juga membangun masa depan industri yang lebih berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim global.
“Karena kami berharap punya impact jangka panjang, jadi kami mau mulai dari hulu ke hilir,” ujar Inneke Lestari, Senior Vice President Legal and Corporate Affairs Kenangan Brands, di sela peluncuran program di Kabupaten Bangli, pekan lalu.
Sejak berdiri pada 2017, Kopi Kenangan telah berkembang menjadi salah satu jaringan kopi terbesar di Asia Tenggara dengan ribuan gerai di enam negara. Kini, lewat Sip for Sustainability, mereka ingin memastikan setiap cangkir yang tersaji tak hanya nikmat, tapi juga membawa manfaat bagi petani di baliknya.
Kintamani: Tanah Subur Penghasil 2.000 Ton Arabika
Kabupaten Bangli dikenal sebagai sentra utama kopi arabika Bali, dengan produksi mencapai 2.164 ton per tahun (BPS Bali, 2024). Varietas arabika Kintamani memiliki karakter rasa unik manis, beraroma citrus, dan bersertifikat Geographical Indication (GI) yang menjadikannya favorit di pasar ekspor.
Namun, di balik potensi besar itu, tantangan masih muncul dari sisi efisiensi dan mutu pascapanen. Melalui Sip for Sustainability, Kopi Kenangan berupaya meningkatkan kualitas hasil panen dan daya saing kopi Bali di pasar global.
Tiga Pilar “Kenangan BAIK”
Program ini berjalan di bawah tiga pilar utama yang disebut Kenangan BAIK akronim dari Berdaya, Pinter, dan Sirkular.
• Kenangan Berdaya: menghadirkan dukungan sarana produksi seperti mesin sutton (alat pemilah biji kopi berdasarkan berat) dan mesin pemotong rumput bagi petani binaan Karana Global di Kintamani.
• Kenangan Pinter: bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Udayana untuk memperkenalkan teknologi ramah lingkungan sebagai alternatif pestisida kimia. Langkah ini diambil setelah temuan residu berlebih pada ekspor kopi arabika Kintamani ke Jepang akhir 2024.
• Kenangan Sirkular: mengelola limbah industri kopi agar kembali bernilai. Konsumen diajak berpartisipasi lewat gerakan membawa tumbler, mendaur ulang gelas plastik, hingga membeli merchandise dari hasil olahan limbah kopi.
Selain itu, gerai ramah lingkungan Kopi Kenangan kini juga menyediakan pupuk kompos dari ampas kopi bukti nyata bahwa biji kopi bisa memberi kehidupan kembali ke tanah tempatnya tumbuh.
Lebih dari Sekadar CSR
Bagi petani Bali, program ini bukan hanya soal bantuan teknis, tapi juga pengakuan terhadap peran mereka dalam menjaga mutu dan ekosistem kopi nasional. Dari sisi industri, langkah ini menjadi contoh kolaborasi hulu-hilir yang memberi nilai tambah ekonomi sekaligus lingkungan.
“Petani yang kuat adalah fondasi kopi Indonesia. Kalau tanahnya sehat dan petaninya sejahtera, aroma kopinya pun akan abadi,” ujar seorang petani Kintamani yang tergabung dalam kelompok binaan Karana Global.
Melalui inisiatif ini, Kopi Kenangan berharap bisa melahirkan model keberlanjutan baru yang berakar pada desa, tapi bergaung hingga ke dunia karena secangkir kopi terbaik selalu dimulai dari kebun yang bahagia. (PTR)






