Peningkatan Produksi Beras Indonesia Dapat Pengakuan Internasional

Petikhasil.id, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut keberhasilan peningkatan produksi beras Indonesia mendapat pengakuan internasional. Dia menyampaikan bahwa Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan produksi beras terbesar kedua di dunia pada tahun ini.

Hal ini disampaikan Amran usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kantor Presiden, Kamis (9/10/2025). “FAO memprediksi kenaikan produksi Indonesia berada di posisi nomor dua terbesar di dunia setelah Brasil,” ucap Amran.

Dengan capaian ini, Amran menyebut langkah menuju swasembada bukan sekadar ambisi politik, tetapi hasil nyata dari kerja keras petani dan sinergi lintas sektor. “Ini adalah kabar baik, bukan hanya untuk Kementerian Pertanian, tapi untuk seluruh rakyat Indonesia,” imbuhnya.

Dia pun optimistis dan mengklaim Indonesia akan mencapai swasembada beras dalam waktu tiga bulan ke depan. Amran menegaskan, jika kondisi cuaca tetap stabil dan tidak terjadi anomali iklim ekstrem, Indonesia tidak akan lagi melakukan impor beras mulai awal 2026.

“Insyaallah, dua hingga tiga bulan ke depan Indonesia tidak impor lagi. Mudah-mudahan tidak ada aral melintang,” tuturnya.

Amran mengungkapkan, target awal yang diberikan Presiden Prabowo saat dirinya dilantik adalah mencapai swasembada pangan dalam empat tahun. Namun, target tersebut terus dipercepat seiring dengan peningkatan produksi yang signifikan.

Berita Lainya: Harga Beras Premium Naik, Medium Turun Tipis | Harga beras di Cirebon melonjak akibat El Nino

“Target Pak Presiden kepada kami pada saat dilantik yaitu empat tahun harus swasembada pangan khususnya beras. Setelah 21 hari berubah jadi tiga tahun. Setelah 45 hari berubah lagi jadi satu tahun,” ujar Amran.

Menurut Amran, percepatan target itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional hingga November 2025 telah mencapai 33,1 juta ton dan diperkirakan menembus 34 juta ton pada akhir tahun. “Dibandingkan tahun lalu, produksi kita hanya 30 juta ton. Artinya ada peningkatan sekitar empat juta ton,” katanya.

Amran juga menyoroti tren positif harga beras nasional yang justru mengalami penurunan pada bulan September, saat biasanya periode paceklik terjadi. “Khusus bulan ini, beras mengalami deflasi sebesar -0,13 persen. Ini pertama kalinya dalam lima tahun terakhir di bulan September,” jelasnya.

Selain produksi yang meningkat, kesejahteraan petani juga menunjukkan tren membaik. Nilai Tukar Petani (NTP) indikator kesejahteraan petani kini mencapai 124,36%, melampaui target Kementerian Keuangan sebesar 110%.

“Ini kabar baik untuk petani Indonesia. Kesejahteraan naik dan produksi pun di atas target dari Komisi IV DPR dan Kemenkeu yang menetapkan 32 juta ton. Sekarang sudah 33,1 juta ton,” tandas Amran.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *