PetikHasil.id, PEKANBARU — Pagi itu, udara di Desa Laboi Jaya, Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar, terasa segar. Sekelompok anak muda berlari santai di jalan desa yang masih diselimuti kabut tipis. Salah satunya, Khairul Anwar Ade Saputra (31), belum tahu bahwa rutinitas lari paginya akan menuntunnya pada salah satu terobosan peternakan digital paling progresif di Indonesia.
“Kami berhenti di depan kandang besar milik teman. Kandangnya megah, tapi cuma ada tiga ekor sapi di dalamnya. Dari situ kami bertanya, kenapa bisa begitu?” kenang Khairul
Pertanyaan sederhana itu memantik kesadaran bahwa di banyak desa, termasuk di desanya sendiri, usaha peternakan sering kali stagnan. Bukan karena kurang minat, tapi karena modal jadi penghalang terbesar.
Bagi masyarakat Laboi Jaya, sapi bukan komoditas bisnis, melainkan “tabungan hidup” yang baru dijual saat ada kebutuhan mendesak biaya sekolah, pernikahan, atau berobat.
Dari Keprihatinan ke Gagasan Digital
Dengan latar belakang pendidikan teknologi informasi, Khairul mulai berpikir: bagaimana jika teknologi bisa menjembatani jurang antara peternak dan pemodal? Inspirasi datang dari geliat startup digital Indonesia pada 2017 ketika aplikasi ojek, belanja daring, hingga pemesanan tiket sudah mengubah gaya hidup masyarakat.
“Kalau transportasi dan belanja saja bisa digital, kenapa peternakan tidak?” ujarnya.
Dari gagasan itu, pada 17 Oktober 2017, lahirlah Cowin, platform investasi ternak sapi berbasis teknologi. Melalui Cowin, investor dapat memiliki satu ekor sapi bersama lima orang lainnya. Sapi-sapi tersebut digemukkan oleh peternak mitra selama lima bulan, lalu dijual.
Keuntungan dibagi adil: 40% untuk investor, 40% untuk peternak, dan 20% untuk Cowin sebagai pengelola.
Model ini sederhana tapi revolusioner. Cowin tidak hanya menyediakan skema bagi hasil, tetapi juga menambahkan jaminan asuransi ternak bekerja sama dengan lembaga pembiayaan daerah, sehingga risiko kematian atau kehilangan sapi bisa diminimalisir.
Langkah ini tergolong maju untuk konteks peternakan rakyat di Riau, di mana literasi asuransi ternak masih rendah.
Edukasi dan Kepercayaan Publik
Di awal perjalanan, tantangan terbesar Cowin justru bukan teknis, melainkan kepercayaan. “Banyak masyarakat trauma dengan investasi bodong,” ujar Khairul. “Mereka butuh bukti, bukan janji.”
Tim Cowin lalu membangun pendekatan edukatif menggelar pertemuan rutin di balai desa, melibatkan tokoh masyarakat, dan membuka akses transparan kepada investor untuk memantau kondisi ternak melalui aplikasi berbasis dashboard monitoring.
Pandemi Covid-19 menjadi titik balik. Saat banyak sektor terpuruk, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya diversifikasi aset dan peluang digital meningkat. Investasi berbasis ternak yang dulu dianggap kuno justru mulai dilirik karena menawarkan nilai sosial dan stabilitas pasar pangan.
Dalam kurun 2020–2024, jumlah pengguna Cowin meningkat hampir 300%, menurut laporan internal perusahaan.
Dari Kampar ke Nusantara
Kini Cowin telah berkembang menjadi ekosistem peternakan digital dengan 18 lokasi kemitraan aktif di Indonesia, 12 di antaranya berada di Riau. Sisanya tersebar di Sijunjung (Sumatera Barat), Lampung, dan Cianjur (Jawa Barat) yang mengembangkan program sapi perah terintegrasi dengan rantai pasok susu Cimory dan Taman Safari.
Setiap kemitraan Cowin wajib memenuhi standar ketat: minimal 50 ekor sapi aktif, adanya dokter hewan siaga, serta sistem kandang berdrainase baik sesuai pedoman Good Farming Practices dari Kementerian Pertanian (Kementan, 2023).
“Kami nggak mau tumbuh asal besar. Yang penting kualitas terjaga dan peternak lokal naik kelas,” tutur Khairul.
Dari sisi investor, Cowin telah mencatat 430 orang terdaftar, dengan 80–100 investor aktif tiap siklus.
Setiap periode lima bulan, sekitar 200–250 ekor sapi dikelola secara kolektif dan dilaporkan melalui sistem digital yang bisa diakses kapan pun.
Dampak Nyata di Lapangan
Produk ternak Cowin kini dipasarkan ke rumah potong hewan, katering besar, hingga jaringan hotel di Riau. Momentum Iduladha menjadi puncak penjualan. Pada 2024, Cowin menjual 90% dari target 425 ekor sapi, dan tahun 2025 jumlahnya naik menjadi sekitar 645 ekor.
Sapi-sapi tersebut didatangkan dari Kupang, Sumbawa, hingga Bali untuk menyesuaikan permintaan pasar domestik. Selain program penggemukan, Cowin juga menyiapkan ekspansi rantai distribusi dari wilayah timur ke barat Indonesia, fokus di Jambi, Palembang, dan Jabodetabek, untuk memperkuat ketahanan pasokan daging nasional.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2024), konsumsi daging sapi Indonesia mencapai 2,98 kilogram per kapita per tahun, dengan defisit pasokan nasional sekitar 38% dari total kebutuhan. Inovasi rantai pasok lokal seperti Cowin membantu menekan angka ketergantungan impor yang selama ini mendominasi pasar.
Teknologi dari Tanah Sendiri
Cowin bukan sekadar platform digital, tapi gerakan sosial yang berakar di desa. Melalui aplikasi Cowin, investor bisa memantau perkembangan sapi melalui foto, grafik pertumbuhan bobot, serta laporan kesehatan yang diverifikasi dokter hewan.
Teknologi ini sejalan dengan program Digital Farming 4.0 yang digagas Kementerian Pertanian dan BRIN (2023). Menurut riset BRIN, penerapan Internet of Things (IoT) pada peternakan sapi dapat meningkatkan efisiensi pakan hingga 22% dan menurunkan risiko penyakit menular sebesar 15% berkat deteksi dini berbasis sensor.
Berita Lainya: OJK Kembangkan Digitalisasi Ekosistem Sapi Perah di Malang | Susu A2 Jadi Tren Baru Peternak Sapi Perah di Jawa Barat
Selain sisi teknologi, Cowin juga memperkenalkan model kolaborasi “investor–peternak” yang mendorong pembagian nilai lebih adil. Peternak tetap menjadi pengelola utama, sementara Cowin bertindak sebagai fasilitator. Dengan demikian, inovasi digital tidak mencabut akar sosial desa, melainkan memperkuatnya.
“Cowin bukan menggantikan peternak, tapi memperluas peluang mereka,” kata Khairul. “Yang kami ubah bukan cara memberi makan sapi, tapi cara melihat potensi desa.”
Gerakan dari Desa untuk Negeri
Kekuatan Cowin ada pada semangat gotong royong yang dibungkus dengan teknologi. Melalui pola bagi hasil dan pelatihan digital, Cowin membentuk peternak muda tangguh yang melek keuangan dan adaptif terhadap teknologi. Program Cowin Academy kini rutin melatih petani milenial di Riau dan Sumatera Barat tentang manajemen pakan, kesehatan hewan, dan pemasaran daring.
Pada 2020, Cowin meraih Astra Satu Indonesia Awards sebagai inovasi sosial yang memperkenalkan model investasi digital di sektor peternakan. Namun Khairul menganggap penghargaan itu hanyalah batu loncatan.
“Yang kami kejar bukan piala, tapi perubahan,” ujarnya. “Kami ingin investor di kota dan peternak di desa tumbuh bersama.”
Dari Satu Ide ke Satu Indonesia
Kisah Cowin menjadi bukti bahwa inovasi tak harus lahir di ruang ber-AC atau dari modal besar.
Ia bisa tumbuh dari tanah desa, dari rasa ingin tahu, dan dari kepedulian terhadap masalah nyata.
Dari Kampar, Cowin membuktikan bahwa teknologi bukan sekadar alat, tapi jembatan untuk memperpendek jarak antara desa dan kota.
Kini, dari 18 kandang mitra yang tersebar di Indonesia, Cowin bukan hanya menghasilkan sapi, tapi juga menumbuhkan kepercayaan baru bahwa ekonomi digital bisa bersumber dari kandang, bukan sekadar dari layar. Khairul menutup percakapan dengan kalimat yang menjadi filosofi hidupnya.
“Kami tidak sedang membesarkan sapi, kami sedang membesarkan harapan.”
Dan dari satu sapi, satu ide, dan satu langkah kecil lahirlah perubahan besar menuju Satu Indonesia yang lebih tangguh, digital, dan mandiri.***






