PetikHasil.id, BANDUNG — Setiap kali berita menyebut badai besar seperti Katrina, Haiyan, atau Kenanga, kita langsung tahu itu bukan nama mantan, tapi nama topan. Tapi pernahkah Anda berpikir kenapa badai punya nama yang indah, sementara hama yang bikin petani stres namanya tetap sama dari dulu: wereng, ulat, tikus, dan belalang?
Dalam dunia meteorologi, nama badai dipilih agar masyarakat mudah mengenali dan waspada. Tapi di dunia pertanian, “badai” versi petani datang dalam bentuk lain dan tanpa nama yang keren. Mereka muncul di ladang, makan hasil panen, lalu pergi meninggalkan trauma ekonomi. Dan tidak ada yang menamai mereka Werengwati atau Belalangso. Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin petani akan lebih siap kalau serangan hama juga diumumkan dengan gaya yang sama “Hati-hati, minggu ini diperkirakan Hama Sri Wereng akan menyerang padi varietas IR64 di dataran rendah!”
Badai di Langit, Badai di Sawah
Kalau di meteorologi ada Sesar Lembang yang rawan berguncang, di pertanian ada “sesar sawah” yang bikin petani ikut goyah: perubahan cuaca ekstrem. Menurut data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sepanjang 2024 tercatat 241 kejadian cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada sektor pertanian di Jawa Barat dari hujan di luar musim sampai kekeringan yang datang terlalu cepat.
BPS menambahkan, produksi padi nasional tahun 2024 turun sekitar 2,3 persen dibanding 2023, salah satunya akibat pola cuaca yang tidak menentu. Dan lucunya, banyak petani mengeluhkan bukan hanya cuacanya yang berubah, tapi juga “mood” tanamannya. Seperti kata Mang Wawan (53), petani di Baleendah, “Dulu padi saya kalau kena panas sedikit masih tahan. Sekarang baru seminggu panas, langsung kayak remaja putus cinta layu duluan.”
Baca Lainya: Strategi Petani Muda Menghadapi Cuaca Tak Menentu | Melawan Jamur di Ketinggian: Cerita Petani Melon Ciwidey Menantang Cuaca Dingin
Fenomena perubahan iklim memang membuat sektor pertanian jadi semacam arena gladi resiliensi. Tanah, air, dan angin kini semuanya ikut berperan. Kalau petani dulu hanya berurusan dengan hama, sekarang mereka juga harus bernegosiasi dengan pola cuaca yang bisa berubah dalam sehari.
Kalau Hama Dikasih Nama, Mungkin Petani Lebih Sabar
Kita tahu badai dinamai agar manusia lebih tanggap. Tapi dalam konteks pertanian, mungkin menamai hama juga bisa membantu. Bayangkan kalau ada sistem peringatan nasional untuk serangan hama, lengkap dengan nama yang bisa diingat.
Misalnya:
- Wereng Wilhelmina sedang menuju Subang dengan kecepatan 10 hektare per hari, mohon siaga insektisida alami.
- Belalang Bastian mulai terpantau di Cirebon, berpotensi merusak jagung muda.
- Tikus Tulus dilaporkan aktif di lumbung Karawang.
Lucu memang, tapi cara berpikir ini sebenarnya mirip konsep “early warning system” di bidang meteorologi. Kalau petani tahu lebih cepat tentang potensi serangan, kerugian bisa ditekan. Dan di tengah semangat adaptasi iklim, ide semacam ini tidak sepenuhnya absurd. BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) bahkan pernah mengusulkan sistem pemantauan hama berbasis AI yang memantau pergerakan serangga dari data satelit dan sensor di sawah. Kalau ide ini terwujud, mungkin satu hari nanti petani bisa menerima notifikasi seperti: “Awas, ulat grayak tipe A terdeteksi 3 kilometer dari lahan Anda.”
Dari Cuaca Ekstrem ke Panen Ekstrem
Kalau di dunia cuaca badai membawa kehancuran, di dunia pertanian ada versi ironisnya panen ekstrem. Ketika cuaca baik-baik saja dan hasil melimpah, harga malah anjlok. Petani tomat di Lembang pernah mengalaminya harga jatuh ke Rp800 per kilogram, lebih murah dari ongkos petik. “Waktu itu saya lebih sedih daripada kena hujan deras,” ujar Jajang (41), petani yang kini beralih ke sistem tumpangsari.
Itulah paradoks pertanian: bahkan saat cuaca bersahabat, badai ekonomi bisa datang tanpa peringatan. Sistem pasar yang belum stabil, biaya pupuk yang naik, dan distribusi yang tergantung cuaca membuat petani selalu siap menghadapi “angin kencang” dari berbagai arah. Kalau di langit badai diberi nama agar diingat, di sawah badai sering datang diam-diam tanpa judul, tanpa berita utama.
Alam Kadang Bercanda, Tapi Petani Tidak Pernah Menyerah
Meski hidup di bawah awan ketidakpastian, petani Indonesia punya selera humor yang khas. Banyak yang menganggap tantangan alam sebagai bagian dari proses. “Kalau tiap musim tanam deg-degan, tandanya kita masih manusia,” kata Pak Dedi, petani cabai di Cisarua. “Soalnya yang paling bahaya itu bukan hujan besar, tapi kalau kita berhenti percaya tanah masih mau tumbuh.”
Dan mungkin di situlah letak keindahan dunia pertanian: kemampuan tertawa di tengah badai, kemampuan menanam kembali setelah gagal panen, dan kemampuan melihat filosofi hidup di setiap biji yang tumbuh. Seperti halnya badai, hama, atau cuaca semua itu hanya fase. Tanah tetap setia pada mereka yang sabar merawatnya.
Badai Boleh Bernama, Tapi Tanah Selalu Bernyawa
Mungkin sudah waktunya dunia pertanian juga mendapat perhatian seistimewa dunia cuaca. Karena setiap badai yang dinamai akan lewat, tapi petani yang bertahan di bawahnya harus tetap menanam. Kalau badai bisa punya nama yang cantik seperti Kenanga atau Haiyan, semoga suatu hari tanah dan petani juga mendapatkan penghargaan yang setara bukan hanya sebagai korban perubahan iklim, tapi sebagai pahlawan yang setiap hari menjaga keseimbangan bumi dengan tangan mereka sendiri.
Sebab dari petani kita belajar meski langit bisa marah, bumi tak pernah berhenti memberi. Dan kalaupun badai datang, mereka tetap tahu satu hal pasti setelah hujan reda, tanah selalu siap menumbuhkan harapan baru. (Vry)






