Petikhasil.id, BANDUNG – Provinsi Jawa Barat, yang selama ini dikenal sebagai lumbung padi dan sentra pariwisata, ternyata menyimpan potensi kekayaan alam lain yang siap menguatkan kinerja di pasar global, yakni rempah-rempah.
Dari dataran tinggi di Priangan Timur hingga wilayah pesisir utara-selatan, rempah-rempah yang tumbuh di Jawa Barat mulai dilirik sebagai komoditas unggulan baru yang menjanjikan peningkatan ekonomi signifikan bagi para petani lokal.
Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Khairul Mahalli mengatakan mulai Januari 2026 mendatang, eksportir produk olahan rempah akan mulai masuk ke ritel Jepang.
“Produknya bukan bahan mentah ya, kebanyakan berbentuk powder,” ungkap Mahalli kepada Bisnis.
Setelah pasar Jepang, yang terkenal sulit ditembus, para eksportir tanah air juga, kata dia, kini mulai kembali menggarap pasar di negara-negara Eropa.
Berita Lainya: Kasus Cengkih Terkontaminasi Radioaktif, Pemerintah Pastikan Hanya Terjadi di Lampung | Jejak Wangi Nusantara: Sejarah Panjang Minyak Atsiri Indonesia
Khairul menjelaskan, rempah seperti jahe, cengkeh, kayu manis, vanili dan pala menjadi beberapa produk rempah yang permintaannya besar dari pasar mancanegara.
Belum lagi produk berbahan dasar kelapa, berupa cocopeat, cocofiber, coco chip hingga arang kelapa yang sangat diminati pasar global.
“Jadi jangan sampai dijual kelapa segar itu, karena semuanya berpotensi besar,” ungkapnya.
Salah satu permintaan terbesar dari cocopeat datang dari Korea Selatan dan Jepang. Kedua negara tersebut membutuhkan ratusan kontainer cocopeat per bulan dari Indonesia.
Kemudian, cocofiber atau serabut kelapa, yang diminati negara-negara Eropa untuk isian jok mobil dan tempat tidur. Sehingga, hal ini seharusnya bisa dioptimalkan untuk membangun industrinya.
“Kalau industrinya terbangun kan ini potensi besar,” jelasnya.
Ia menilai, informasi soal potensi ini harusnya bisa sampai hingga ke akar rumput. Sehingga ceruk ini tidak hanya dikuasai oleh broker saja.
“Mereka kan berdagang ya, tapi harusnya ini semua tahu,” jelasnya.
Meski begitu, Khairul mengakui saat ini potensi ini sudah mulai digarap. Hanya saja ukuran industrinya belum sebesar industri tekstil dan garmen.
Sementara itu, Ekonom asal Universitas Padjajaran Ferry Hadiyanto menilai, meski saat ini sektor manufaktur masih akan menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat pada 2026, namun ia melihat sektor pertanian dan perkebunan di Jawa Barat mulai bergeliat.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masuk dalam tiga besar lapangan usaha yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Jawa Barat.
Sementara itu, dominasi terbesar masih dipegang oleh lapangan usaha industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 40,94%, diikuti oleh perdagangan besar-eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 14,38%. Lalu sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 8,57%.
Bahkan, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada Triwulan III-2025 secara year-on-year lapangan usaha pertanian tumbuh 5,43% menopang perekonomian ekonomi di Jabar.
“Sektor pertanian ini menunjukkan tren yang signifikan. Hal itu didukung oleh intensitas hujan sepanjang 2025 yang mendorong peningkatan kuantitas panen petani,” jelasnya.
Sementara itu, Ferry juga tetap memeringatkan pemerintah daerah untuk mewaspadai risiko adanya bencana yang bisa kapan saja terjadi. Kondisi ini menurutnya bisa jadi akan memberikan efek berganda dan menghambat laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat di 2026.
“Harus mulai dipetakan dan mitigasi dari sekarang [risiko bencana],” jelasnya.***






