Dari Hotel ke Lahan Sayur Lembang, Petani Muda Ini Menemukan Masa Depan Pertanian Modern

Petikhasil.id, LEMBANG — Dulu, bagi Kiki Supriatna, seragam hotel terasa jauh lebih membanggakan dibanding sepatu bot berlumpur. Bekerja di restoran di Kota Bandung membuat hidupnya terlihat “rapi”, bersih, dan menurut standar banyak anak muda lebih prestisius. Menjadi petani saat itu justru terasa seperti langkah mundur. Panas, kotor, dan sering dipandang sebelah mata.

Namun 2025 membawa cerita yang berbeda. Di Cibodas, Lembang, Jawa Barat, Kiki kini dikenal sebagai petani muda yang mengelola sayuran modern dengan pendekatan yang tak biasa. Dari lahan dingin pegunungan, brokoli dan selada romaine hasil kebunnya mengalir ke hotel, restoran cepat saji, pasar modern, hingga jalur ekspor.

Baca Lainya: Greenhouse Hemat 3 Juta: Rangka Bambu + Plastik UV untuk Sayuran Premium | Hidroponik Bandung yang Membangunkan Mimpi di Lahan Tiga Meter

“Dulu saya malu jadi petani. Jujur saja. Kerja di hotel lebih bersih. Tapi setelah dijalani, hasil bertani itu justru lebih nyata,” tutur Kiki kepada Petik Hasil, Kamis (18/12/2025).

Dari Hotel ke Ladang, dari Malu ke Bangga

Kiki lahir dan besar di Lembang, kawasan yang sejak lama dikenal sebagai sentra hortikultura Jawa Barat. Ayahnya adalah petani. Tapi seperti banyak anak muda lain, ia sempat menjauh dari sawah dan kebun. Pendidikan perhotelan membawanya ke dunia kerja yang berbeda, hingga suatu titik ia menyadari satu hal penting regenerasi petani tak bisa terus ditunda.

Keputusan kembali ke pertanian bukanlah langkah instan. Awalnya ia hanya “coba-coba”, belajar dari lahan keluarga sambil membandingkan hasilnya dengan gaji tetap di sektor jasa. Seiring waktu, Kiki menemukan bahwa pertanian bukan sekadar soal tanam dan panen, melainkan soal manajemen, pasar, dan keberanian mengambil risiko.

Kesempatan besar datang pada 2019, saat ia lolos program magang pertanian ke Taiwan melalui Kementerian Pertanian. Selama satu tahun, Kiki tinggal dan bekerja langsung di lahan pertanian skala besar, dari tebu seluas 150 hektare hingga paria, padi, labu, dan melon.

“Di Taiwan, satu lahan bisa dikelola oleh sangat sedikit orang. Semua sudah otomatis. Penyiraman, penyemprotan, sampai panen. Itu membuka mata saya,” ujarnya.

Belajar dari Taiwan, Menyapa Lembang

Pengalaman di Taiwan memberi Kiki perspektif baru. Pertanian di sana bersifat padat modal dan berbasis teknologi, sementara Indonesia masih padat karya. Namun yang paling membekas adalah sistem distribusi dan transparansi pasar.

Hasil panen ditempel barcode, dibawa ke pasar, dipindai, dan pembayaran langsung masuk ke aplikasi petani. Petani bukan hanya produsen, tetapi juga pelaku utama dalam rantai distribusi.

Sekembali ke Indonesia, Kiki tak ingin meniru mentah-mentah. Ia sadar kondisi sosial, iklim, dan pasar berbeda. Bersama Budi Rahayu Farm, ia mulai mengembangkan model pertanian sayur modern yang adaptif dengan realitas lokal.

Fokus utama jatuh pada brokoli dan selada romaine. Komposisinya sengaja diatur sekitar 30 persen brokoli dan 70 persen romaine. Bukan tanpa alasan.

“Kalau orang mau beli romaine, saya ingin mereka langsung ingat Budirahayu Farm,” katanya.

Strategi ini perlahan berhasil. Selada romaine yang dulu sulit dijual kini justru dicari. Pasarnya meluas ke hotel, restoran, perusahaan salad besar, hingga pasar antarkota seperti Jakarta, Surabaya, dan Pontianak. Bahkan, bersama mitra petani di tiga desa Lembang, Kiki pernah mengekspor brokoli hingga 20 ton dalam satu pekan ke Taiwan.

Nutrisi, Bukan Sekadar Pupuk

Bagi Kiki, pelajaran terpenting dari Taiwan bukan soal mesin canggih, melainkan pemahaman nutrisi tanaman. Ia menilai banyak kegagalan pertanian di Indonesia bukan karena lahannya buruk, tetapi karena pemberian nutrisi yang tidak tepat fase.

Baca Lainya: Greenhouse Hemat 3 Juta: Rangka Bambu + Plastik UV untuk Sayuran Premium | Hidroponik Bandung yang Membangunkan Mimpi di Lahan Tiga Meter

Selada romaine yang ia tanam memiliki populasi sekitar 60 ribu tanaman per hektare dan dikelola secara monokultur. Tantangannya besar, terutama saat musim hujan. Kelembapan tinggi memicu bakteri, daun mudah rusak, dan kualitas turun drastis.

“Kalau hujan, romaine itu sensitif. Bakteri cepat naik. Kuncinya nutrisi harus tepat, bukan asal banyak,” jelasnya.

Pendekatan ini selaras dengan tren pertanian 2025, ketika biaya produksi meningkat dan petani dituntut lebih presisi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan subsektor hortikultura masih menjadi penopang utama pertanian Jawa Barat, dengan Lembang sebagai salah satu episentrumnya. Namun tekanan cuaca ekstrem dan fluktuasi pasar membuat efisiensi menjadi kata kunci.

Pertanian Kota dan Harapan Anak Muda

Cerita Kiki menjadi relevan di tengah meningkatnya minat masyarakat urban terhadap pertanian modern dan hidroponik di lahan sempit. Di Bandung Raya dan sekitarnya, tren menanam sayur sendiri tumbuh seiring kesadaran pangan sehat dan ketahanan rumah tangga.

Bagi Kiki, fenomena ini adalah peluang sekaligus pengingat. Pertanian tidak lagi bisa dipandang sebagai pekerjaan “cadangan”, melainkan profesi berbasis ilmu dan strategi.

“Anak muda sekarang pintar-pintar. Tinggal mau atau tidak turun ke tanah. Bertani itu bukan cuma soal kotor, tapi soal berpikir,” katanya.

Ia meyakini masa depan pertanian Indonesia ada pada generasi yang berani menggabungkan pengalaman lapangan dengan teknologi dan pasar. Tidak harus ke Taiwan, tapi mau belajar, terbuka, dan konsisten.

Dari Lembang untuk Masa Depan

Menjelang akhir 2025, Kiki masih sibuk di kebun. Musim hujan menuntut ekstra perhatian, sementara permintaan pasar terus bergerak. Di tengah kesibukan itu, ia tetap membuka ruang diskusi bagi petani muda lain yang ingin belajar.

Baginya, bertani bukan lagi soal menggantikan profesi lama, tetapi membangun masa depan. Dari tanah yang dulu ia tinggalkan, kini tumbuh keyakinan baru bahwa pertanian bisa memberi hidup yang layak, bermartabat, dan berkelanjutan.

“Kalau dulu saya malu, sekarang justru bangga. Karena dari tanah ini, saya tahu ke mana hidup saya melangkah,” tutup Kiki. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *