Bedak Saripohatji, Warisan Wangi dari Ciamis yang Bertahan Hampir Satu Abad

Petikhasil.id, CIAMIS – Di balik aromanya yang lembut dan kemasan sederhana, Bedak Saripohatji menyimpan perjalanan panjang industri kosmetik tradisional Indonesia. Produk ini bukan sekadar bedak tabur, melainkan bagian dari sejarah perawatan tubuh yang tumbuh dari dapur rumah hingga dikenal lintas generasi.

Saripohatji pertama kali dibuat pada 1927 oleh Siti Marjiah, seorang ibu rumah tangga asal Ciamis, Jawa Barat. Awalnya, bedak ini diracik untuk kebutuhan pribadi dan keluarga. Namun, aroma khas dan sensasi sejuknya menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Dari mulut ke mulut, bedak buatan tangan tersebut perlahan dikenal luas dan mulai diproduksi secara lebih serius.

Nama Saripohatji diambil dari Dewi Pohatji, tokoh mitologi Sunda yang lekat dengan simbol kesuburan dan kecantikan. Penamaan ini mencerminkan filosofi dasar produk tersebut, yakni merawat tubuh dengan pendekatan alami yang selaras dengan nilai budaya lokal.

Pada masa sebelum kosmetik modern dan deodoran sintetis populer, bedak tradisional memegang peran penting dalam keseharian masyarakat. Saripohatji digunakan untuk menjaga kesegaran tubuh, menyerap keringat, serta memberikan rasa nyaman setelah mandi atau sebelum beraktivitas.

Baca Lainya: Sirih Cina: Herbal Penuh Khasiat yang Jadi Tumisan Penyelamat Tanggal Tua | Rahasia Tanaman Bunga Telang: Dari Pewarna Alami Hingga Obat Herbal

Dari Industri Rumahan ke Ikon Perawatan Tradisional

Memasuki era 1950 hingga 1990-an, Bedak Saripohatji mencapai masa keemasannya. Produk ini dipasarkan luas di wilayah Priangan Timur, meliputi Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung, hingga Pangandaran. Pada periode tersebut, Saripohatji menjadi pilihan utama banyak perempuan, bahkan digunakan pula oleh laki-laki karena aromanya yang netral dan tidak menyengat.

Proses produksinya tetap mempertahankan cara tradisional. Di pabrik sederhana yang berlokasi di Desa Linggasari, Ciamis, puluhan pekerja terlibat dalam tahapan pencampuran bahan, pengeringan, hingga pengemasan. Pada puncak produksinya, ribuan bungkus bedak dapat dihasilkan setiap hari, menjadikannya salah satu penggerak ekonomi lokal pada masanya.

Meski skala produksinya kini menurun, Saripohatji masih diproduksi oleh generasi penerus dan pelaku usaha rumahan setempat. Keberlangsungan ini menandakan kuatnya ikatan antara produk, komunitas, dan tradisi yang melingkupinya.

Bahan Alami dan Filosofi Perawatan Kulit

Daya tarik utama Bedak Saripohatji terletak pada komposisi alaminya. Tepung beras menjadi bahan dasar utama, dipadukan dengan beragam rempah dan dedaunan yang telah lama digunakan dalam tradisi perawatan kulit. Di antaranya temulawak, kunyit, daun pandan, daun suji, serta jeruk nipis.

Kombinasi bahan tersebut menghasilkan sensasi dingin saat diaplikasikan ke kulit. Selain menyerap minyak dan keringat, bedak ini dipercaya membantu menjaga kecerahan kulit dan mengurangi rasa tidak nyaman akibat cuaca tropis. Tanpa tambahan bahan kimia sintetis, Saripohatji mencerminkan pendekatan perawatan tubuh yang mengutamakan keseimbangan dan keamanan jangka panjang.

Baca Lainya: Sirih Cina: Herbal Penuh Khasiat yang Jadi Tumisan Penyelamat Tanggal Tua | Rahasia Tanaman Bunga Telang: Dari Pewarna Alami Hingga Obat Herbal

Kesederhanaan juga tampak pada kemasannya yang nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu. Desain klasik ini justru menjadi identitas kuat, menegaskan bahwa nilai utama Saripohatji terletak pada fungsi dan tradisi, bukan tren sesaat.

Di tengah dominasi produk perawatan modern, Bedak Saripohatji bertahan sebagai pengingat masa ketika kecantikan dan kebersihan dirawat melalui kearifan lokal. Ia menjadi saksi bagaimana pengetahuan tradisional mampu hidup berdampingan dengan perubahan zaman. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *