AA Kadu Jadi Pusat Magang Petani Durian dari Berbagai Daerah

Petikhasil.id, TASIKMALAYA – Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap durian premium, kebun AA Kadu di Tasikmalaya, Jawa Barat, tidak hanya dikenal karena hasil buahnya yang manis dan legit. Kebun ini juga menjadi pusat belajar dan magang petani durian dari berbagai daerah di Indonesia dari Lampung, Ciamis, hingga Sukabumi.

Di bawah kepemimpinan Ariyanto, AA Kadu menjelma bukan sekadar tempat budidaya, tapi sekolah lapangan bagi para petani muda yang ingin memahami rahasia sukses bertanam durian premium.

Belajar Langsung dari Lapangan

Program magang di AA Kadu terbuka untuk siapa pun yang ingin belajar serius tentang budidaya durian.
Peserta datang dari berbagai latar belakang ada yang petani pemula, mahasiswa pertanian, hingga pelaku UMKM yang ingin beralih ke sektor agribisnis.

“Magangnya gratis, gak ada biaya. Yang penting mereka punya niat belajar,” ujar Ariyanto, pemilik kebun durian AA Kadu. Peserta magang tinggal di kebun selama satu hingga tiga bulan, mengikuti seluruh proses: mulai dari pembibitan, pemupukan, irigasi, hingga pengendalian hama.

Semua dilakukan secara terbuka dan transparan tanpa ada rahasia dagang yang disembunyikan.

Baca lainnya: Aryanto Bangun AA Kadu, Pusat Bibit Durian Unggul dari Tasikmalaya untuk Indonesia | Mitos atau Fakta: Durian Montong Selalu Lebih Unggul dari Durian Lokal?

Bagi Ariyanto, berbagi ilmu adalah cara terbaik untuk membuat pertanian Indonesia maju.
Ia menyadari bahwa selama ini, banyak petani senior yang enggan membagikan SOP dan teknik perawatan durian karena dianggap rahasia.

“Kalau ilmu ditutup-tutupi, petani lain gak akan berkembang. Kita di AA Kadu justru ingin buka semua, supaya durian Indonesia makin kuat,” tegasnya.

Karena keterbukaannya inilah, AA Kadu mendapat reputasi sebagai kebun yang “ramah pengetahuan”.
Setiap peserta magang diperbolehkan mendokumentasikan proses belajar mereka, bahkan membuat konten edukatif untuk media sosial.

Belajar Teknologi Pertanian Modern

Selain praktik dasar bertani, para peserta magang juga dikenalkan dengan teknologi pertanian modern yang diterapkan di kebun. AA Kadu menggunakan sistem fertigasi semi otomatis, yaitu kombinasi penyiraman dan pemupukan yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap pohon durian.

Sistem ini mengajarkan peserta pentingnya efisiensi dan pengelolaan sumber daya air, sekaligus memberikan wawasan tentang pertanian presisi berbasis pengamatan lapangan.

“Setiap pohon durian punya karakter sendiri. Melalui sistem ini, peserta bisa belajar bahwa pertanian modern itu bukan cuma soal alat, tapi juga soal ketelitian dan intuisi,” jelas Ariyanto.

Dari Peserta Jadi Mitra

Beberapa peserta magang bahkan kini sudah menjadi mitra binaan AA Kadu. Mereka membawa ilmu yang didapat ke daerah asal masing-masing, membuka kebun sendiri, atau menjual bibit hasil pembelajaran dari AA Kadu.

Ariyanto mengaku bangga melihat banyak alumni magangnya yang sukses menanam durian di luar Tasikmalaya. “Itu kepuasan tersendiri. Kalau mereka berhasil, berarti ilmu yang kita bagi gak sia-sia,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *