Petikhasil.id, BANDUNG — Di sela-sela kebun sayur Lembang dan pekarangan padat di Kecamatan Coblong, ada satu tanaman liar yang daunnya tampak seperti karya seni. Warnanya merah-keunguan, bercorak seperti tinta batik yang tumpah di atas kanvas hijau. Masyarakat dulu menyebutnya bayam hias atau bayam merah varian liar. Tetapi kini para pegiat urban farming Bandung memberi nama yang lebih puitis bayam batik.
Tanaman ini tidak meminta perlakuan khusus, sering tumbuh begitu saja di pinggir lahan kentang, kol, atau cabai. Namun bagi banyak petani dan warga kota yang hobi berkebun, ia menjadi salah satu bukti bahwa keragaman tanaman lokal bisa menghadirkan keindahan yang tak terduga.
Dari Lahan Dataran Tinggi ke Pekarangan Kota
Bayam batik termasuk dalam kelompok Amaranthus tricolor, tanaman bayam tropis yang sudah dibudidayakan masyarakat Asia sejak ratusan tahun lalu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat bahwa produksi bayam (seluruh varietas) mencapai lebih dari 13 ribu ton per tahun di provinsi ini, dengan Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Garut sebagai tiga wilayah pemasok utama.
Namun menariknya, bayam batik bukan komoditas komersial besar. Justru ia lebih dikenal sebagai tanaman “penyelinap” yang tiba-tiba tumbuh di sudut tanah, tidak disemai, tidak dipupuk, tetapi memperlihatkan warna daunnya yang mencolok.
Petani di Cisarua, Endang (45), mengatakan tanaman ini sering ia temukan saat membersihkan area sekitar bedengan sayur. “Awalnya saya mau cabut, karena pikir rumput liar. Tapi anak muda yang suka berkebun bilang ini bagus, warnanya batik. Dari situ saya coba rawat sedikit,” ujarnya kepada Petik Hasil.
Kini sebagian kecil petani di Lembang dan Bandung Barat justru menyisakan beberapa petak untuk membiarkan bayam batik tumbuh alami. “Kalau dijual satu ikat bisa lebih mahal dari bayam biasa. Warnanya yang bikin orang penasaran,” tambah Endang.
Warna Alami yang Mengandung Gizi Tinggi
Keunikan bayam batik berasal dari pigmen betalain senyawa antioksidan yang juga ditemukan pada bit dan buah naga merah. Pigmen ini memberikan warna merah, ungu, hingga kuning cerah pada daunnya, membuat setiap helai tampak seperti motif batik Priangan.
Menurut jurnal Food Chemistry (2020), tanaman Amaranthus memiliki kandungan vitamin A, vitamin C, zat besi, dan kalsium yang cukup tinggi. Dalam beberapa kasus, nilai antioksidannya bahkan melebihi bayam hijau.
“Bagi ibu-ibu di sini, bayam batik bukan cuma cantik. Banyak yang percaya bagus buat darah dan stamina,” kata Yati (50), pedagang sayur di Pasar Sederhana Bandung. Ia mulai menjual bayam batik sejak beberapa bulan terakhir setelah pembeli anak muda bertanya-tanya soal tanaman ini, terutama mereka yang aktif di komunitas hidroponik dan organik.
Bangkitnya Urban Farming Bandung dan Peran Bayam Batik
Bandung adalah salah satu kota dengan komunitas urban farming paling aktif di Indonesia. Dari gerakan Kebun Kumuh di Bojongloa, rooftop garden di Dago, hingga kebun mini di balkon-balkon apartemen Pasteur, tanaman merambat yang dulu dianggap liar kini menemukan ruang baru sebagai bagian dari kultur hijau kota.
Bayam batik masuk dalam daftar tanaman favorit, terutama karena tiga hal: perawatannya mudah, warnanya fotogenik, dan daunnya bisa panen cepat sekitar 25–30 hari.
“Tanaman ini cocok buat pemula,” kata Agung (29), anggota komunitas Bandung Berkebun. “Tidak rewel, bisa tumbuh di pot kecil, bahkan di tanah jelek pun tetap hidup. Tapi kalau kena matahari cukup, motif batiknya keluar lebih kuat.”
Selain menjadi sayur, bayam batik juga banyak dipakai sebagai dekorasi makanan restoran di Jalan Riau dan Ciumbuleuit karena tampilannya yang mencolok. Beberapa UMKM kuliner sehat di Bandung bahkan mulai memprosesnya sebagai pewarna alami salad dressing atau campuran smoothie.
Ekonomi Sayur Liar yang Menguntungkan Petani Kecil
Di tengah kenaikan harga pupuk dan biaya produksi sayuran dataran tinggi, tanaman seperti bayam batik memberi harapan baru. Ia tidak membutuhkan banyak biaya, namun dapat memberi nilai jual yang menarik.
Pedagang sayur di Pasar Ciroyom mengakui bahwa bayam batik semakin sering dicari. “Seminggu bisa habis lima sampai delapan ikat. Pembeli suka karena unik,” ujar Yuni (43), pedagang yang memasok bayam batik dari petani kecil di Cisarua.
Untuk petani skala mikro, tanaman seperti ini menjadi tambahan pendapatan yang stabil. Tanpa modal besar, mereka bisa menjualnya langsung melalui media sosial, mengirim ke komunitas healthy food, hingga menawarkan ke warung salad dan restoran kecil di Bandung utara.
“Tadinya Mau Dicabut, Sekarang Jadi Favorit”
“Dulu saya pikir ini cuma tanaman liar yang tidak ada gunanya. Tapi orang kota suka, katanya aesthetic,” ujar Asep (40), petani sayur di Pagerwangi, Lembang. Asep mulai memisahkan bayam batik dari tanaman liar lainnya dan menanamnya di bedengan terpisah.
Ia menunjukkan beberapa ikat yang baru dipanen; warnanya merah-ungu pekat dengan guratan alami seperti serat kayu. “Kalau matahari cukup, daunnya makin cantik. Kalau ditumis warnanya berubah sedikit, tapi tetap bagus,” tambahnya.
Menurut Asep, bayam batik kini menjadi “bonus ekonomi” untuk para petani sayur kecil. “Tidak usah beli benih. Ia tumbuh sendiri. Tinggal rawat sedikit saja,” katanya sambil tertawa.
Sayuran Liar dengan Masa Depan Cerah
Dalam dunia pertanian yang terus menghadapi tekanan iklim dan biaya produksi tinggi, keberadaan tanaman liar bernilai ekonomi seperti bayam batik menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu datang dari varietas unggul atau teknologi mahal. Kadang ia tumbuh begitu saja dari tanah—membawa keindahan, gizi, dan peluang usaha kecil yang tak terduga.
Bandung dengan kultur kreatifnya, komunitas urban farming yang aktif, dan pasar kuliner yang inovatif menjadi tempat ideal bagi kebangkitan tanaman seperti bayam batik. Dari pekarangan desa Lembang hingga balkon apartemen di Dago, bayam batik menghubungkan alam dengan seni, dan pertanian dengan kehidupan sehari-hari.
Tanaman liar ini mungkin sederhana, tetapi justru di dalam kesederhanaannya ia menyimpan masa depan: sayur bergizi yang indah dipandang, mudah dibudidayakan, bernilai ekonomi, dan menjadi kebanggaan baru pertanian kecil Bandung. (Vry)






