Dari 500 Bibit Nilam Subang Jadi Sentra Atsiri Baru

PetikHasil.id, SUBANG — Kapal laut yang terlambat dua minggu membuat 5.000 bibit nilam tiba dalam kondisi lemah. Dari ribuan itu, hanya sekitar 500 batang yang bertahan hidup. Modal pas-pasan membuat situasi semakin sulit, bahkan sempat memicu perdebatan di rumah.

“Bibit sudah dibeli, tahu-tahu banyak yang mati. Itu tantangan di keluarga,” kenang Asep Kurnia Mukhtar (61), petani nilam asal Desa Cipancar, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Namun dari sisa kecil itulah cerita besar bermula. Asep dan anaknya Ruslan Efendi (24) memutuskan untuk tidak menyerah. Mereka merawat bibit-bibit yang tersisa, memperbanyaknya dengan stek sederhana, dan mulai memasok tanaman nilam untuk kelompok tani sekitar.

Dari Aceh ke Subang, Benih Perubahan

Semua berawal dari perjalanan singkat ke Takengon, Aceh, beberapa tahun lalu. Di sana, Asep melihat satu keluarga sederhana mampu membiayai pendidikan anak-anaknya hanya dari hasil penyulingan daun nilam. Setiap bagian tanaman dimanfaatkan: daun untuk minyak, batang dijadikan bahan bakar tungku, sedangkan limbah disuling menjadi pupuk organik.

“Itu yang bikin kami pulang dengan tekad bisa juga di Subang,” tutur Ruslan kepada Petik Hasil. “Kami sadar, potensi tanaman wangi seperti nilam dan sereh bukan cuma soal aroma, tapi soal kemandirian.”

Sekembalinya ke Subang, mereka mulai membentuk kelompok tani kecil dan memanfaatkan lahan keluarga untuk percobaan. Pada awalnya, hasil penyulingan masih minim, alat sederhana, dan aroma minyaknya belum stabil. Tapi dari situ mereka belajar pentingnya suhu destilasi, kadar air daun, dan lama penyulingan.

Menghidupkan 500 Bibit Jadi Harapan Desa

Menurut Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro, 2023), tanaman nilam (Pogostemon cablin) merupakan salah satu komoditas penghasil minyak atsiri unggulan Indonesia yang digunakan industri parfum, sabun, dan kosmetik dunia.

Indonesia bahkan menyumbang lebih dari 80% pasokan minyak nilam dunia, dengan Aceh, Sulawesi Tengah, dan Jawa Barat sebagai penghasil utama.

Nilam tumbuh baik di daerah beriklim tropis lembap dengan ketinggian 200–700 mdpl dan curah hujan 2.000–3.000 mm per tahun. Kondisi ini persis seperti di Cipancar wilayah perbukitan Subang bagian selatan yang dikelilingi kebun teh dan sawah.

Asep menanam nilam di lahan seluas 1.200 meter persegi sebagai percobaan awal. Dari 500 bibit yang selamat, hanya 300 yang tumbuh produktif. Dalam waktu 6–7 bulan, daun nilam kering pertama berhasil disuling menjadi minyak. Walau hasilnya baru 1,8 kilogram minyak per 100 kilogram daun kering, aroma khasnya kuat dan stabil.

“Waktu lihat tetes pertama minyak keluar, rasanya seperti lihat anak lahir,” kata Asep sambil tersenyum. “Capeknya hilang.”

Dari Nilam ke Sereh Wangi: Diversifikasi Aroma

Setelah berhasil dengan nilam, Asep dan kelompoknya mencoba menanam sereh wangi dan jahe merah sebagai pendukung pendapatan musiman. Menurut data Kementerian Pertanian (2024), permintaan minyak sereh wangi (Citronella oil) terus meningkat, terutama untuk ekspor ke India, China, dan Eropa yang menggunakan bahan alami untuk aromaterapi dan pembersih rumah tangga.

Diversifikasi ini penting, karena harga minyak atsiri sangat fluktuatif. Nilam, misalnya, sempat turun dari Rp800.000 per kilogram pada 2020 menjadi Rp450.000 per kilogram di awal 2023, lalu kembali naik setelah pasokan dunia berkurang akibat gangguan cuaca di Asia Tenggara. (BPS Komoditas Ekspor 2024)

“Kadang perawatan sudah bagus, hasil jelek. Itu rezeki. Mau tidak mau harus diterima,” ujar Asep sambil menata drum penyulingan. Bagi mereka, kerja keras bukan sekadar mengejar untung, tapi menanam ketahanan baru di desa.

Membangun Sentra Atsiri Kecil di Subang

Kini, kelompok tani yang mereka bentuk bernama Wangi Cipancar memiliki lima unit penyulingan mini dengan kapasitas total 1 ton daun per hari. Setiap panen menghasilkan rata-rata 15 kilogram minyak nilam murni, yang dijual ke agregator di Bandung dan Jakarta. Sebagian hasilnya dipasarkan langsung ke pelaku UMKM parfum dan sabun lokal.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor minyak atsiri Indonesia pada 2023 mencapai 21,8 ribu ton, dengan nilai lebih dari US$165 juta. Jawa Barat menjadi salah satu penyumbang volume ekspor terbesar setelah Aceh dan Sulawesi Tengah. Sementara BRIN (2024) mencatat, permintaan global untuk minyak nilam Indonesia tumbuh sekitar 6% per tahun seiring tren penggunaan bahan alami di industri kecantikan dunia.

Kondisi ini menjadi peluang emas bagi petani seperti Asep dan Ruslan. Mereka mulai melibatkan anak muda desa untuk belajar penyulingan, mengemas produk dalam botol kecil, dan memasarkan lewat media sosial.

“Anak-anak muda sekarang lebih jago digital. Kami ajari mereka bikin sabun dan lilin aromaterapi,” kata Ruslan. “Biar aroma nilam Subang bisa sampai ke luar negeri.”

Aroma yang Mengubah Ekonomi

Harga minyak nilam murni di pasaran lokal kini mencapai Rp550.000–700.000 per kilogram, tergantung kualitas. Dari hasil itu, kelompok Wangi Cipancar mampu menggerakkan ekonomi desa dengan mempekerjakan sekitar 15 warga tetap dan 20 pekerja musiman saat panen raya.

Selain itu, limbah daun sisa penyulingan diolah kembali menjadi pupuk padat organik. “Dulu limbah dibuang, sekarang jadi pupuk buat tanaman sereh dan jahe. Jadi tidak ada yang terbuang,” jelas Asep.

Menurut Pusat Penelitian Kimia BRIN (2023), praktik sirkular seperti ini membantu mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi energi di sektor minyak atsiri rakyat hingga 18%. Itu berarti, model usaha kecil seperti milik Asep bisa berperan langsung dalam mendukung pertanian berkelanjutan di tingkat desa.

Menembus Pasar Domestik

Meski sudah menembus pasar domestik, Asep mengakui tantangan tetap besar. Kendala utama adalah permodalan dan standarisasi mutu. Untuk menghasilkan minyak ekspor, dibutuhkan sertifikasi dan penyulingan berbahan stainless steel yang harganya tidak murah.

Selain itu, fluktuasi harga global membuat petani sulit memprediksi laba jangka panjang. Namun mereka optimistis. Dinas Pertanian Subang kini mulai memetakan kawasan atsiri potensial dan bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk pelatihan penyulingan efisien.

“Kalau desa bisa produksi, kota bisa bantu pasar. Yang penting jangan putus di tengah jalan,” ujar Asep.

Refleksi Nyata

Kisah Asep Kurnia dan Ruslan Efendi adalah refleksi nyata perubahan pola pikir petani muda Indonesia.
Dari kegagalan 5.000 bibit menjadi keberhasilan ekonomi desa, mereka membuktikan bahwa inovasi tidak selalu butuh modal besar, tapi kemauan belajar dan ketekunan.

Nilam dan sereh wangi kini menjadi komoditas strategis dalam Rencana Induk Pengembangan Minyak Atsiri Nasional 2020–2045 yang diterbitkan Kementerian Perindustrian. Jika desa-desa lain meniru model Cipancar mengolah, memasarkan, dan menumbuhkan regenerasi petani Indonesia bisa memperkuat posisinya sebagai pemimpin pasar minyak atsiri dunia yang berkelanjutan.

Dari 500 bibit yang hampir mati, lahir wangi harapan baru bagi petani Subang. Asep dan Ruslan membuktikan bahwa kegigihan bisa mengubah kegagalan jadi pijakan. Kini, aroma nilam dari kampung kecil itu bukan sekadar harum di botol, tapi juga tanda bahwa tangan-tangan desa bisa mengangkat wangi Indonesia ke dunia. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *