Petikhasil.id, CILILIN — Di kebun, harga cabai bisa Rp50.000 per kilogram. Namun ketika sampai ke dapur rumah tangga di kota, harganya bisa menyentuh Rp100.000 hingga Rp120.000. Selisihnya hampir dua kali lipat. Lalu ke mana perginya margin itu?
Fluktuasi harga cabai bukan cerita baru di Indonesia. Setiap tahun, komoditas ini menjadi penyumbang inflasi pangan ketika pasokan terganggu. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa rilis inflasi bulanan secara konsisten mencatat cabai rawit dan cabai merah sebagai komoditas penyumbang inflasi terbesar, terutama saat musim hujan atau menjelang hari besar keagamaan.
Namun persoalan harga cabai bukan hanya soal cuaca atau gagal panen. Ada rantai distribusi panjang yang ikut membentuk harga akhir di tingkat konsumen.
Baca Lainya: Cabai Cililin dan Kisah Bertahan Saat Semua Pernah Meragukan | Harga Cabai Mahal Akibat Cuaca Buruk, Kopdes Merah Putih jadi Solusi?
Harga di Kebun dan Realitas Lapangan
Ikhsan Ambiya, pemilik Kebun Prestasi Tani di Kabupaten Bandung Barat, menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa selisih harga antara kebun dan pasar sering kali sangat lebar.
Ikhsan mengatakan kepada Petik Hasil bahwa ketika harga di kebun Rp50.000 per kilogram, harga di tingkat pengecer bisa mencapai Rp100.000 bahkan Rp120.000. Ia menyebut ada beberapa mata rantai distribusi yang dilewati sebelum cabai sampai ke tangan pembeli.
Menurutnya, alur umum distribusi cabai dimulai dari petani, lalu ke tengkulak desa, kemudian ke pengirim atau pengepul besar, selanjutnya ke pasar induk, diteruskan ke bandar lapak, lalu ke pengecer pasar, dan akhirnya ke warung atau konsumen akhir.
“Kalau dihitung-hitung, jaraknya bisa empat sampai lima tangan sebelum sampai ke dapur,” ujarnya kepada Petik Hasil.
Setiap tahap mengambil margin untuk biaya angkut, penyusutan, sortir, dan keuntungan usaha.
Data Pemerintah dan Distribusi Pangan
Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Perdagangan dalam beberapa evaluasi menyebut bahwa rantai distribusi hortikultura di Indonesia memang masih panjang. Struktur ini menyebabkan disparitas harga antara tingkat produsen dan konsumen.
Panel Harga Pangan Nasional yang dirilis Bapanas menunjukkan harga cabai rawit merah bisa sangat fluktuatif. Dalam kondisi panen raya, harga di tingkat petani bisa jatuh hingga Rp15.000 per kilogram. Namun saat pasokan berkurang, harga di pasar eceran dapat melonjak hingga di atas Rp80.000 bahkan Rp100.000 per kilogram.
BPS juga mencatat bahwa komoditas cabai termasuk yang paling volatil dalam kelompok bahan makanan. Volatilitas ini tidak hanya dipengaruhi produksi, tetapi juga distribusi dan perilaku pasar.
Risiko di Kebun Tidak Kecil
Di sisi lain, petani menghadapi risiko yang tidak ringan. Ikhsan menyebut penyakit seperti antraknosa atau patek dan layu fusarium menjadi ancaman utama.
Ia mengatakan kepada Petik Hasil bahwa ia lebih memilih harga anjlok dibanding tanaman mati. Menurutnya, ketika harga turun tetapi tanaman sehat, setidaknya volume panen bisa dikejar. Namun jika tanaman terserang penyakit menjelang panen, kerugian bisa total.
Biaya produksi cabai sendiri tidak kecil. Mulai dari benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, hingga pengolahan lahan. Dalam satu siklus budidaya sekitar empat hingga lima bulan, modal yang dikeluarkan bisa puluhan juta rupiah per hektare.
Dengan risiko sebesar itu, selisih harga yang terlalu jauh antara petani dan konsumen sering menjadi sorotan.
Upaya Memotong Mata Rantai
Prestasi Tani mencoba pendekatan berbeda. Ikhsan menjelaskan bahwa ia membangun kemitraan dengan sekitar 45 petani. Benih, pupuk, dan obat dibantu pembiayaannya, lalu hasil panen dikumpulkan dan langsung disalurkan ke pasar induk tanpa melalui terlalu banyak perantara.
Menurutnya, model ini bertujuan memotong tiga mata rantai distribusi agar harga di tingkat petani lebih layak.
Langkah seperti ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong penguatan kelembagaan petani, termasuk melalui koperasi dan akses langsung ke pasar. Dalam beberapa program, Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional mendorong pembentukan korporasi petani untuk memperpendek rantai pasok.
Kenapa Harga Bisa Tetap Tinggi
Meski ada upaya efisiensi, harga cabai tetap bisa melonjak karena sifatnya yang mudah rusak. Cabai termasuk komoditas hortikultura yang sensitif terhadap cuaca dan tidak tahan lama.
Ketika hujan deras mengganggu produksi atau terjadi serangan penyakit, pasokan menurun cepat. Sementara permintaan relatif stabil, terutama di Indonesia yang konsumsi cabainya tinggi.
Dalam kondisi seperti itu, distribusi menjadi semakin mahal karena pasokan terbatas dan risiko kerusakan meningkat.
Baca Lainya: Cabai Cililin dan Kisah Bertahan Saat Semua Pernah Meragukan | Harga Cabai Mahal Akibat Cuaca Buruk, Kopdes Merah Putih jadi Solusi?
Antara Pasar dan Keberkahan
Ikhsan menilai menjadi petani cabai bukan hanya soal hitung-hitungan ekonomi. Ia menyebut usaha ini penuh ujian mental.
Ia menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa keberkahan pertanian bukan hanya saat untung besar, tetapi ketika usaha tetap bisa menghidupi pekerja dan mitra petani meski kondisi sulit.
Di tengah fluktuasi harga dan panjangnya rantai distribusi, cabai tetap menjadi komoditas strategis. Ia menggerakkan ekonomi desa, memengaruhi inflasi kota, dan menjadi penentu rasa di meja makan.
Dari kebun hingga pasar, perjalanan cabai memperlihatkan satu hal: harga yang kita lihat di rak pasar bukan hanya angka. Ia adalah hasil dari cuaca, risiko penyakit, biaya distribusi, dan sistem pasar yang masih terus berbenah. (Vry)






