Petikhasil.id, BANDUNG — Di tepi kebun, di antara rerumputan yang jarang terurus, sering tumbuh tanaman kecil dengan buah kuning keemasan di dalam kelopak kering seperti lentera.
Dulu, anak-anak desa memetiknya sekadar untuk camilan, tanpa tahu bahwa buah mungil itu punya nilai ekonomi tinggi. Namanya ciplukan.
Ciplukan atau Physalis angulata sering dianggap tanaman liar. Tapi beberapa tahun terakhir, buah ini mulai naik daun di pasar modern. Rasanya manis-asam segar, mirip anggur tropis. Bahkan di Jepang dan Eropa, Physalis peruviana kerabat dekat ciplukan lokal dijual dengan harga mencapai Rp250–300 ribu per kilogram.
Berita Lainya: 5 Buah Lokal Indonesia yang Nyaris Punah tapi Bernilai Tinggi | Bisnis Wisata Petik Buah: Mahal, tapi Tetap Jadi Favorit, Strawberry Ciwidey dan Pangalengan Jadi Primadona
Di pasar domestik, permintaan mulai naik. Bukan cuma karena rasanya unik, tapi karena kandungan nutrisinya yang tinggi: vitamin C, A, zat besi, dan antioksidan alami. Beberapa riset juga menemukan bahwa ekstrak ciplukan mengandung senyawa withanolide yang berpotensi sebagai antiinflamasi alami.
Ciplukan kini jadi buah yang banyak dicari di toko buah organik dan pasar daring. Di beberapa wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, petani muda mulai membudidayakannya secara serius.
Satu hektare lahan bisa menghasilkan 8–10 ton buah segar per musim panen, dengan harga jual di atas Rp40 ribu per kilogram.
Dari tanaman yang dulu dianggap gulma, kini ciplukan berubah jadi peluang bisnis baru yang manis terutama bagi petani muda yang berani mencoba hal berbeda.






