Petikhasil.id, JAKARTA — Peternak menyebut swasembada telur dan daging ayam sudah dilakukan secara terukur untuk memastikan kecukupan pasokan, sekaligus mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Presiden Peternak Layer Nasional (PLN) Musbar Mesdi menilai semua persiapan untuk mencapai swasembada terhadap kedua komoditas ini telah dilakukan sejak 2024 silam.
Adapun, persiapan yang dimaksud mencakup regulasi hulu hingga hilir, pengendalian supply-demand, hingga kalkulasi kebutuhan Grand Parents Stock (GPS) untuk ayam pedaging dan ayam petelur.
Untuk itu, dia menyebut pasokan telur dan daging ayam selalu terjaga untuk kebutuhan MBG maupun masyarakat luas, sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar.
Baca Lainya: Harga Telur di Cirebon Tembus Rp31.500 Dampak Program Makan Bergizi Gratis | Harga Daging Ayam Ras Picu Inflasi Jabar 0,21%
“Lonjakan SPPG [Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi] yang akan hadir ke depan bisa terukur. Dan kami pelaku usaha mencoba menyesuaikan dan beradaptasi cepat karena ada support penuh dari pemerintah,” kata Musbar, dikutip Sabtu (13/12/2025).
Dihubungi terpisah, Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian mengatakan meski swasembada telur dan ayam telah tercapai, harga kedua komoditas ini di tingkat konsumen tetap tinggi imbas biaya logistik yang mahal, biaya pakan yang terus naik, serta dominasi segelintir perusahaan besar.
Eliza menuturkan tantangan utama adalah distribusi yang menyebabkan fluktuasi harga dan disparitas antar daerah.
“Mayoritas produksi ayam dan telur berada di Pulau Jawa. Ketika didistribusikan ke daerah lain, mengingat biaya logistik kita masih tinggi, harganya jadi mahal di konsumen,” kata.
Kisaran Harga
Dia menyebut struktur pasar ayam dan telur yang oligopolistik juga ikut memengaruhi harga lantaran 2–3 perusahaan besar yang hampir menguasai 80% volume perdagangan. Perusahaan ini, lanjut dia, sangat menentukan harga di tingkat konsumen.
Menurut Eliza, kenaikan harga telur yang melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP) terjadi karena biaya produksi naik, sementara penyesuaian HAP relatif lambat dibanding kenaikan harga riil di masyarakat.
Dia menjelaskan, komponen terbesar dalam biaya produksi telur adalah pakan dan DOC (Day Old Chick) dan pakan memakan 60% dari total biaya produksi. Sementara itu, rata-rata harga jagung pipil kering terus merangkak menjadi Rp6.400 per kilogram pada Oktober 2025.
Baca Lainya: Harga Telur di Cirebon Tembus Rp31.500 Dampak Program Makan Bergizi Gratis | Harga Daging Ayam Ras Picu Inflasi Jabar 0,21%
Selain itu, Eliza juga menyoroti mekanisme pasar jagung yang cenderung tidak sehat dan rentan dikontrol pemain besar.
“Pabrik pakan skala besar [integrator] menyerap sebagian besar jagung lokal dan melakukan stok untuk mengamankan kelangsungan operasi mereka. Akibatnya, peternak mandiri kesulitan membeli jagung, dan jika ada, harganya relatif mahal. Ini jelas berpengaruh pada harga akhir,” pungkasnya.***






