Petikhasil.id, SUKABUMI — Siapa sangka pohon kurma yang identik dengan gurun Arab bisa tumbuh subur di lereng Geopark Ciletuh, Sukabumi. Adalah Alwi Rahmatullah, petani muda asal Riau yang membuktikan bahwa tanaman ini bisa beradaptasi di iklim tropis Indonesia.
Berawal dari iseng menyemai biji kurma, Alwi kini mengelola Kebun Kurma Celetuh seluas tujuh hektare. Ia menanam varietas unggulan Barhi asal Basra, Irak jenis kurma yang manis, renyah, dan cocok dikonsumsi segar.
“Awalnya saya pikir mustahil. Tapi setelah belajar langsung ke Thailand dan Timur Tengah, ternyata kuncinya ada di adaptasi varietas dan mikroklimat,” ujarnya.
Menurut Alwi, kawasan Ciletuh punya kombinasi unik antara suhu dingin malam hari dan panas siang yang ekstrem, sangat ideal untuk proses pembungaan dan pematangan buah. Selain itu, kedekatan dengan laut membuat angin asin berfungsi sebagai pupuk alami, meningkatkan kadar mineral dalam tanah.
Baca Lainya: Dari Ibadah ke Inovasi, Petani Muda Indonesia Tanam Kurma Demi Masa Depan | Kurma Tumbuh di Sukabumi, Petani Muda Buktikan Mitos Itu Salah
Kisah Alwi bertepatan dengan tren global diversifikasi pangan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut perubahan iklim kini mendorong banyak negara mencari alternatif komoditas yang lebih tahan panas. “Indonesia berpotensi besar jadi pusat kurma tropis dunia karena tanah dan curah cahaya mataharinya sangat mendukung,” tulis laporan Outlook Pangan Nasional 2024.
Produksi kurma Celetuh masih terbatas namun permintaan terus meningkat, terutama dari konsumen luar Sukabumi. Harga di kebun mencapai Rp300.000/kg, dengan margin bersih hingga 30%.
“Kalau Arab punya kurma kering, kita punya kurma segar tropis. Ini bukan cuma buah, tapi masa depan pangan,” kata Alwi, kepada Petik Hasil.






