Harga Beras di Ciayumajakuning Turun

Petikhasil.id, CIREBON- Harga beras di tingkat penggilingan di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan (Ciayumajakuning) mengalami koreksi pada November 2025. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat rata-rata harga produsen beras berada di level Rp13.085 per kilogram, atau turun 3,06% dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat Rp13.498.

Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya harga pada 2 jenis beras utama yang menjadi acuan pasar, yakni beras kualitas premium dan medium.

“Koreksi harga secara month-to-month (mtm) cukup terasa pada November. Kedua kategori beras, baik premium maupun medium, mengalami kontraksi harga, meskipun secara tahunan tren kenaikan masih terlihat,” ujar Statistisi Madya Tim Statistik Distribusi BPS Jawa Barat, Ninik Anisah, Senin (1/12/2025).

Beras kualitas premium beras dengan tingkat patah maksimal 15% tercatat turun 3,08% dari sebelumnya Rp13.706 menjadi Rp13.284 per kilogram. Koreksi juga terjadi pada beras kualitas medium, dengan tingkat patah 15,01–25%.

Berita Lainya: Stok Beras Pemerintah di Cirebon Capai 160.000 Ton | Harga Beras Mulai Turun, Cek Daftar Harganya!

Harga beras medium mengalami penurunan yang sedikit lebih dalam yakni 3,13%, sehingga berada di level Rp12.886 per kilogram.

Menurut Ninik, pelemahan harga tersebut dipengaruhi oleh peningkatan pasokan di beberapa titik sentra penggilingan.

Sejumlah daerah di kawasan Ciayumajakuning mulai memasuki periode panen kecil yang menambah suplai gabah ke penggilingan. 

“Secara historis, November memang kerap menunjukkan tekanan harga ketika suplai mulai membaik, terutama dari hasil panen sela,” katanya.

Meski terjadi penurunan secara bulanan, tren harga tahunan menunjukkan arah sebaliknya. Dibandingkan November 2024 (Rp12.739/kg), harga produsen beras pada November 2025 masih naik 2,72%.

Kenaikan tertinggi terjadi pada kategori beras medium yang mengalami peningkatan 3,12% secara year-on-year (yoy). Harga beras premium juga naik 2,33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ninik menjelaskan, kenaikan harga tahunan tidak terlepas dari kondisi biaya produksi yang masih tinggi sepanjang 2025. Faktor seperti kenaikan harga pupuk nonsubsidi, energi, dan ongkos angkut menjadi penyumbang utama. 

“Tekanan biaya produksi sepanjang tahun masih belum turun signifikan. Jadi meskipun ada koreksi bulanan, level harga tahunannya tetap berada di atas tahun lalu,” ujar Ninik.

BPS menilai bahwa dinamika harga beras pada November 2025 menunjukkan pola fluktuatif yang masih sensitif terhadap perubahan pasokan. Penurunan bulanan yang terjadi belum cukup untuk menandai stabilitas harga jangka menengah.

Ninik menyebutkan, pemantauan harga pada level penggilingan menjadi indikator penting bagi pergerakan harga beras di pasar konsumen dalam beberapa minggu ke depan. Jika tekanan suplai terus meningkat, harga beras eceran berpotensi mengalami koreksi lanjutan.

Berita Lainya: Stok Beras Pemerintah di Cirebon Capai 160.000 Ton | Harga Beras Mulai Turun, Cek Daftar Harganya!

“Namun perlu diingat, pergerakan harga di konsumen tidak selalu secepat di penggilingan. Ada jeda waktu penyesuaian akibat stok pedagang dan rantai distribusi,” jelasnya.

Memasuki Desember dan awal 2026, BPS memperkirakan potensi peningkatan suplai dari panen raya awal tahun akan menjadi faktor penentu utama. Apabila curah hujan tidak ekstrem dan produktivitas tetap stabil, tekanan harga diprediksi bisa mereda.

“Kuncinya ada pada panen awal tahun. Jika produksi sesuai ekspektasi, harga produsen bisa bergerak lebih terkendali. Namun jika ada gangguan cuaca, kenaikan kembali mungkin terjadi,” kata Ninik.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *