Harga Cabai Fluktuatif dan Harapan Cold Storage bagi Petani

Petikhasil.id, BANDUNG — Harga cabai kembali menjadi sorotan publik. Komoditas yang sering disebut “si kecil cabe rawit” ini memang kerap menjadi barometer kestabilan harga pangan di Indonesia. Dalam beberapa pekan terakhir, harga cabai rawit merah tercatat turun menjadi sekitar Rp45.816 per kilogram, menurut data Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Sementara itu, data nasional dari Katadata menunjukkan tren penurunan harga cabai merah keriting hingga 15,67 persen dalam tiga bulan terakhir. Fluktuasi harga yang tajam ini bukan hanya menyulitkan konsumen, tapi jauh lebih berdampak bagi petani kecil. Ketika panen melimpah, harga anjlok; sementara saat pasokan menipis, konsumen harus membayar mahal. Ini menjadi masalah klasik dalam rantai pasok pertanian Indonesia.

Cold Storage Jadi Solusi Harapan Baru

Di tengah dinamika harga yang tak menentu, muncul satu solusi teknis yang mulai banyak dibicarakan: cold storage atau ruang penyimpanan dingin. Teknologi ini memungkinkan hasil panen disimpan pada suhu rendah agar pembusukan lebih lambat, kualitas tetap terjaga, dan kerugian pascapanen bisa ditekan secara signifikan.

Kementerian Pertanian telah menerapkan sistem cold storage di beberapa daerah, salah satunya di TTIC (Trade & Technology Innovation Center) Bali, untuk menyimpan cabai dan bawang merah. Langkah ini terbukti mampu menjaga stabilitas harga, terutama saat panen raya. Dalam skala kecil, model koperasi juga mulai diterapkan. Cold storage berkapasitas 3–5 ton bisa dikelola bersama petani agar biaya investasi lebih ringan dan manfaatnya bisa dirasakan secara kolektif.

Berita Lainya: Tips Menanam Cabai Agar Tak Gagal Panen | Kenapa Cabai Sering Jadi Biang Inflasi? Fakta dan Solusinya

Selain menjaga harga, keberadaan cold storage juga berperan besar dalam mendukung ekspor hasil pertanian. Produk seperti cabai, buah, dan sayur dapat bertahan lebih lama dengan kualitas yang tetap prima selama proses distribusi ke luar negeri.

Tantangan dan Arah Adaptasi Petani

Meski manfaatnya besar, penerapan cold storage di lapangan masih menghadapi banyak hambatan. Biaya investasinya tergolong tinggi karena membutuhkan infrastruktur listrik yang stabil serta mesin pendingin dengan perawatan khusus. Selain itu, biaya operasional, seperti listrik dan pemeliharaan rutin, menjadi beban tambahan bagi petani kecil yang bekerja dengan skala produksi terbatas.

Beberapa kelompok tani akhirnya memilih jalan tengah dengan menyewa fasilitas cold storage koperasi atau membentuk sistem sewa bersama. Cara ini dinilai lebih efisien karena biaya ditanggung secara kolektif, sementara hasil panen tetap bisa tersimpan dengan baik

Harapan di Masa Depan

Ke depan, sejumlah langkah dapat menjadi kunci agar cold storage benar-benar bisa diakses petani kecil. Dukungan pemerintah melalui subsidi, CSR, atau program pertanian daerah dapat membantu memperluas fasilitas penyimpanan dingin. Model koperasi dan kemitraan antar petani juga menjadi solusi untuk menanggung biaya secara gotong royong.

Selain itu, penerapan teknologi digital seperti sensor suhu dan kelembapan yang terhubung ke aplikasi ponsel dapat membantu memantau kondisi penyimpanan secara jarak jauh. Cold storage juga dapat dimanfaatkan lebih luas, tidak hanya untuk cabai, tetapi juga sayuran, buah, dan komoditas hortikultura lain agar penggunaannya lebih optimal.

Dengan dukungan teknologi, kolaborasi, dan kebijakan yang berpihak pada petani, cold storage bisa menjadi langkah nyata menuju pertanian yang lebih stabil, efisien, dan berdaya saing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *