Petikhasil.id, GARUT – Upaya hilirisasi produk olahan susu mulai digencarkan di Kabupaten Garut sebagai strategi meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan peternak sapi perah. Desa Sukamurni, Kecamatan Cilawu, yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi susu mentah, diproyeksikan bertransformasi dari pemasok bahan baku menjadi pusat pengembangan produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut, drh Dyah Savitri, mengatakan pemerintah daerah bersama mitra industri mendorong transformasi rantai usaha susu dari hulu hingga hilir agar peternak tidak lagi bergantung pada harga susu segar yang fluktuatif. Pengembangan difokuskan pada produk seperti yoghurt, susu steril, dan keju yang memiliki daya simpan lebih panjang serta margin keuntungan lebih besar.
Baca Lainya: Majalengka Bangun Sentra Sapi Perah Baru untuk Dorong Produksi Susu Jawa Barat | Yoghurt: Dari Kegagalan Susu yang Menjadi Berkah Dunia Kesehatan
Berdasarkan data pemerintah kecamatan dan desa, wilayah Sukamurni dan sekitarnya ditopang lebih dari 700 peternak sapi perah dengan total produksi sekitar 3.500 liter per hari. Selama ini, mayoritas produksi dijual dalam bentuk susu segar dengan nilai tambah terbatas, sehingga posisi tawar peternak dinilai relatif lemah di tengah dinamika pasar.
Dyah menyebut kualitas susu sapi perah di Desa Sukamurni memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah wilayah lain. Kandungan lemak (fat) dan total solid yang tinggi dinilai memenuhi standar untuk pengembangan produk olahan premium.
“Karakteristik bahan bakunya sangat mendukung untuk diversifikasi produk. Ini menjadi modal penting agar pengolahan susu tidak berhenti pada skala kecil, tetapi berkembang menjadi industri yang berkelanjutan,” ujar Dyah, dikutip Sabtu (14/2/2026).
Saat ini, sebagian kecil produksi susu telah diolah secara mandiri menjadi yoghurt. Namun, keterbatasan teknologi, standar higienitas, serta kapasitas produksi membuat manfaat ekonominya belum dirasakan secara merata. Melalui hilirisasi berbasis teknologi dan standardisasi, nilai jual produk diharapkan meningkat signifikan.
Dari sisi industri, peluang pengembangan produk turunan dinilai terbuka luas. Ketersediaan bahan baku berkualitas secara konsisten menjadi faktor kunci dalam membangun produk olahan susu yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Produk seperti keju lokal dengan identitas daerah dinilai berpotensi menjadi unggulan baru dari Garut.
Pemerintah daerah menilai hilirisasi tidak hanya menyangkut proses pengolahan, tetapi juga perubahan pola usaha peternak. Dengan pengolahan di tingkat lokal, rantai distribusi dapat dipangkas, biaya logistik ditekan, dan nilai tambah tidak hanya terpusat di industri besar, melainkan turut dinikmati peternak.
Selain itu, pengembangan produk olahan susu dinilai berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran. Langkah ini sejalan dengan penguatan ekonomi perdesaan berbasis komoditas unggulan lokal.
Baca Lainya: Majalengka Bangun Sentra Sapi Perah Baru untuk Dorong Produksi Susu Jawa Barat | Yoghurt: Dari Kegagalan Susu yang Menjadi Berkah Dunia Kesehatan
Menurut Dyah, penguatan sektor susu dari hulu hingga hilir merupakan strategi untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan di daerahnya. Ia berharap industri olahan susu dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, tidak hanya bagi peternak, tetapi juga masyarakat sekitar.
“Dengan produksi harian yang stabil dan kualitas bahan baku yang kompetitif, Desa Sukamurni diposisikan sebagai contoh pengembangan hilirisasi susu di Kabupaten Garut. Tantangan ke depan terletak pada konsistensi pendampingan, akses teknologi, serta perluasan pasar agar hilirisasi benar-benar berdampak pada peningkatan pendapatan peternak secara berkelanjutan,” ujarnya.






