Petikhasil.id, BANDUNG BARAT – Budidaya ikan mas di kolam jaring apung (KJA) kembali menjadi sorotan di tengah tingginya permintaan ikan konsumsi di Jawa Barat. Meski disebut-sebut menjanjikan, sektor ini tetap menyimpan tantangan besar, mulai dari fluktuasi harga pakan hingga cuaca ekstrem yang memicu kematian massal ikan.
Namun, bagi pembudidaya berpengalaman, KJA masih menjadi ladang ekonomi yang menguntungkan, asalkan dikelola dengan perencanaan matang dan manajemen air yang baik.
Modal Awal Relatif Besar, Tapi Cepat Balik
Menurut pembudidaya ikan mas asal Waduk Saguling, Dian (34), modal awal untuk satu unit KJA ukuran 7×7 meter bisa mencapai Rp8–10 juta, tergantung bahan jaring dan struktur pelampung yang digunakan.
“Kalau bikin baru, satu unit itu butuh tiga engkel atau satu color. Kalau enam kotak ya bisa sampai Rp50 juta-an untuk jaringnya saja,” ujar Dian saat ditemui di lokasi budidayanya, Kamis (30/10/2025).
Namun, biaya tersebut termasuk investasi jangka panjang. Jaring dan rangka bisa digunakan hingga 3–5 tahun, hanya perlu perawatan rutin setiap selesai panen. Setelah jaring siap, petani perlu menyiapkan bibit ikan mas sekitar 100 kilogram per kotak. Harga bibit di pasaran saat ini berkisar antara Rp25.000–30.000 per kilogram, tergantung ukuran dan kualitasnya.
Pakan Jadi Komponen Biaya Terbesar
Dalam satu siklus budidaya (2–3 bulan), ikan mas menghabiskan pakan sekitar 1,5 ton per kotak, dengan harga pakan pabrikan rata-rata Rp10.500 per kilogram. Artinya, untuk satu kotak saja, petani harus menyiapkan biaya pakan sekitar Rp15–16 juta.
“Biaya pakan itu yang paling berat. Kalau bisa ditekan, margin keuntungan jauh lebih besar,” jelas Dian.
Sebagian petani menyiasatinya dengan menggunakan pakan alternatif, seperti limbah roti, sisa mie instan, atau bahan pangan reject dari industri. Meski tidak bisa menggantikan pakan pabrikan sepenuhnya, bahan tambahan ini mampu mengurangi pengeluaran hingga 20 persen.
Baca lainnya: Waduk Saguling Tak Boleh Tambah Keramba, Petani Ikan Terjepit Aturan Baru
Hasil Panen Bisa Capai 1 Ton per Kotak
Dalam kondisi ideal, satu kotak KJA berisi 100 kilogram bibit ikan mas dapat menghasilkan 1–1,2 ton ikan siap panen setelah 2–3 bulan. Hasil panen sangat bergantung pada kualitas bibit, pakan, dan kondisi air. Cuaca ekstrem atau fenomena upwelling (arus naik air dingin dari dasar waduk) bisa menyebabkan kematian massal hingga 50 persen dari total populasi ikan.
“Kalau cuaca stabil dan air bagus, hasil bisa maksimal. Tapi kalau kena upwelling, bisa rugi besar,” ujar Dian.
Dengan harga ikan mas di tingkat petani saat ini sekitar Rp28.000–30.000 per kilogram, potensi pendapatan dari satu kotak bisa mencapai Rp30 juta per siklus. Setelah dikurangi biaya produksi, keuntungan bersihnya berkisar antara Rp8–10 juta per kotak.
Risiko Tinggi dari Alam dan Kualitas Air
Meski potensinya besar, budidaya ikan mas di waduk bukan tanpa risiko. Fenomena upwelling menjadi ancaman paling ditakuti petani. Upwelling biasanya terjadi saat musim pancaroba atau setelah hujan deras yang lama. Air dingin dari dasar waduk naik ke permukaan, menyebabkan penurunan kadar oksigen dan kematian ikan secara mendadak.
“Kalau sudah kena upwelling, aerator besar pun nggak bisa bantu. Kita hanya bisa panen cepat atau kurangi tebar,” jelas Dian.
Selain itu, penyakit insang, bercak merah, dan jamur Saprolegnia juga menjadi momok, terutama di musim hujan. Petani harus rutin melakukan pengecekan visual terhadap ikan serta menjaga kebersihan jaring dari lumut dan sedimen.
Baca lainnya: Harga Pakan Naik, Permintaan Stagnan: Begini Cara Petani Ikan Saguling Bertahan Hidup
Strategi Bertahan: Diversifikasi dan Inovasi
Untuk mengurangi risiko kerugian, sebagian petani di Saguling kini mulai melakukan diversifikasi komoditas dengan membudidayakan ikan nila atau patin di sela siklus ikan mas. Langkah ini dilakukan agar saat satu komoditas turun harga atau gagal panen, masih ada pemasukan dari jenis ikan lain. “Sekarang kita nggak bisa bergantung pada satu jenis ikan saja. Kadang nila lebih stabil harganya,” ujar Yayan (40), pembudidaya lain di Saguling.
Beberapa petani juga mulai menerapkan teknologi sensor kualitas air dan pemberi pakan otomatis untuk menekan biaya operasional serta menjaga kestabilan produksi.
Pasar Stabil, Permintaan Tetap Tinggi
Meski harga ikan mas cenderung stagnan selama setahun terakhir di kisaran Rp28.000–30.000/kg, permintaan pasar masih stabil, terutama dari pemancingan, pasar tradisional, dan restoran lokal. “Pasar pemancingan masih jadi penyerap utama. Ikan mas ukuran 0,8–1 kg paling dicari,” kata Yayan.
Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat, produksi ikan mas dari kawasan waduk besar seperti Saguling, Cirata, dan Jatiluhur menyumbang lebih dari 60 persen suplai ikan mas di wilayah Bandung Raya.
Tantangan Regulasi dan Masa Depan KJA
Meski menjadi tumpuan ekonomi ribuan warga, masa depan budidaya ikan di waduk masih menghadapi ketidakpastian. Pemerintah mulai menerapkan pembatasan jumlah KJA baru untuk mengendalikan dampak lingkungan dan sedimentasi.
Beberapa pembudidaya khawatir kebijakan “penertiban KJA” bisa berujung pada pengurangan drastis unit aktif, yang berpotensi mengurangi lapangan pekerjaan.
“Kami setuju kalau ditertibkan, tapi jangan sampai dilarang total. Banyak keluarga hidup dari sini,” tegas Dian.
Pemerintah daerah kini tengah menyiapkan program pembinaan dan penataan zona budidaya berkelanjutan agar KJA tetap produktif tanpa merusak lingkungan waduk.
Budidaya Ikan Mas Masih Menjanjikan
Meski menghadapi tantangan alam dan regulasi, budidaya ikan mas di kolam jaring apung tetap menjadi salah satu usaha paling menjanjikan di sektor perikanan air tawar. Dengan manajemen air yang baik, pengendalian pakan, serta adaptasi terhadap teknologi, petani masih bisa menikmati keuntungan yang stabil dari waktu ke waktu.
“Selama air waduk masih ada dan masyarakat masih makan ikan, usaha ini nggak akan mati,” ujar Dian menutup perbincangan, sembari memeriksa jaring ikannya yang siap panen di bawah sinar pagi Waduk Saguling.






