Petikhasil.id, JAKARTA — Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia atau Apkasindo menilai teknologi hilirisasi nasional saat ini sudah canggih tetapi sayangnya di sektor hulu masih sedikit belum teratur.
Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia atau Apkasindo Gulat ME Manurung menilai program B50 bukan hanya menjadi masa depan Indonesia tetapi juga dunia karena dia menilai program B50 telah menekan emisi akibat penggunaan minyak fosil. Menurutnya penambangan fosil tentu jauh lebih berisiko dan tidak berkelanjutan.
Gulat pun menilai inisiasi program B40 ke B50 sudah benar dan memang harus konsisten. Sejauh ini, dia melihat bahwa teknologi hilirisasi nasional sudah canggih tetapi sayangnya di sektor hulu cukup kacau.
“Kita ketahui huluisasi sawit Indonesia jadi masalah yang serius, terkhusus dari segi produktivitas dan klaim – klaim kawasan hutan,” ujarnya, dikutip, Rabu (19/11/2025).
Gulat juga menegaskan program tersebut dapat mendukung permintaan pasar kebutuhan domestik dan ekspor hingga mendukung tercapainya target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Pebisnis sawit saat ini disebut terikat dengan aturan pemerintah, artinya ada skema yang harus dilalui jika ingin ekspor.
Namun pebisnis juga menyadari bahwa sawit adalah penyeimbang dan sumber devisa negara terbesar. Menurut data Bappenas pada 2024 Indonesia menerima devisa dari ekspor sawit mencapai Rp440 triliun. Hal ini tentu sangat fantastis. Belum lagi dari penerimaan Pungutan Ekspor yang dikelola oleh BPDPKS yang mencapai Rp25,8 triliun pada 2024.
Mengingat produksi CPO pada 2024 sebesar 48 juta ton. Adapun sebanyak 45% digunakan dalam negeri. Apabila pemerintah ingin beralih ke B50 maka paling tidak serapan domestik akan naik menjadi 60%.
“Jika produksi CPO Indonesia pada 2025 ini masih stabil, mungkin masih bagus, tapi kami memprediksi bahwa produksi CPO 2025 akan menurun 4-5 juta ton akibat berbagai hal. Jika ini terjadi maka akan timbul masalah besar,” kata Gulat.
Berita Lainya: Pengusaha Soroti Legalitas dan Produktivitas Lahan Sawit | Harga CPO Tinggi Dorong Emiten Sawit
Masalah pertama adalah harga CPO akan melonjak tajam dan negara pengguna minyak sawit akan beralih ke minyak nabati lainnya karena dianggap lebih murah.
Masalah kedua yakni akan timbul tarik menarik kebutuhan domestik untuk sektor energi, pangan, dan oleokimia. Masalah-masalah lainnya adalah harga TBS petani sebagai bahan baku CPO akan ambruk karena strategi pemerintah untuk menahan ekspor dalam memenuhi kebutuhan domestik.
Salah satu caranya dengan meningkatkan beban kebijakan domestik secara signifikan. Beban tersebut akan ditanggung sektor hulu (TBS) dan mengakibatkan tekanan terhadap TBS. Kondisi ini akan menyebabkan petani menderita atau rugi dan pada akhirnya menjual kebunnya karena tidak lagi prospektif.
Pebisnis sawit mewaspadai naik tajamnya harga CPO sehingga berakibat hilangnya pasar global karena negara impor minyak sawit beralih ke minyak nabati lainnya.
Di sisi lain, bukan rahasia bahwa secara nasional produktivitas kebun sawit Indonesia hanya 60% dari yang seharusnya dan yang paling parah kebun petani hanya sebesar 25%.
Artinya peluang Indonesia hanya dapat menaikkan produktivitas kebun sawit rakyat melalui replanting dan bantuan pupuk dari dana sawit (bukan APBN).
Gulat merekomendasikan sejumlah aksi atau kolaborasi yang dapat dilakukan untuk mendongkrak produksi sawit nasional adalah dengan replanting serta regulasi yang tepat dari pemerintah tanpa bersifat menghukum hingga konsistensi semua stakeholder.***






