Petikhasil.id, SUBANG — Bukan cuma kopi dan teh, kini Jawa Barat mulai dikenal dengan aroma khasnya: minyak atsiri. Dari Subang, Garut, hingga Sukabumi, ribuan petani mulai menanam nilam, sereh wangi, dan kenanga untuk industri parfum dan kosmetik.
Data dari Dinas Perkebunan Jawa Barat (2024) mencatat, luas tanam tanaman atsiri di Jawa Barat mencapai lebih dari 1.200 hektare, dengan kontribusi terbesar berasal dari Kabupaten Subang (nilam dan sereh wangi), Garut (kenanga), serta Sukabumi (cengkeh aromatik).
Nilam Subang dan Sereh Wangi Garut: Wangi yang Menghidupi
Di Subang, kisah Asep Kurnia Mukhtar dan Muhammad Ruslan Efendi menjadi inspirasi banyak petani. Mereka memulai dari 500 batang nilam, kini menjadi produsen minyak atsiri yang memasok Bogor dan Bekasi. Nilam Subang dikenal karena kadar patchouli alcohol (PA) tinggi mencapai 32–35%, di atas standar ekspor yang hanya 30%.
Berita Lainya: Minyak Atsiri dan Anak Muda: Dari “Tak Bisa Dimakan” ke Bisnis Bernilai | Minyak Atsiri dan Anak Muda: Dari “Tak Bisa Dimakan” ke Bisnis Bernilai
Sementara itu, di Garut, tanaman sereh wangi tumbuh baik di ketinggian 500–800 mdpl. Menurut hasil uji Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro, 2023), minyak sereh wangi Jawa Barat memiliki kadar sitronelal mencapai 36–40%, aroma segar yang menjadi favorit industri sabun dan kosmetik.
Dari sisi ekonomi, 1 hektare nilam bisa menghasilkan 20–25 kilogram minyak per siklus panen, dengan harga jual stabil di kisaran Rp1,6–2 juta per kilogram. Untuk sereh wangi, produksi mencapai 7–10 kilogram minyak per ton daun segar.
Bagi masyarakat pedesaan, atsiri bukan sekadar produk, melainkan sumber harapan baru. Selain menciptakan lapangan kerja, limbah hasil penyulingan juga diolah kembali menjadi pupuk organik, menekan biaya dan memperkaya tanah.






