Petikhasil.id, SUBANG — Di kampung, nilam dan sereh wangi sempat dianggap aneh. “Tabu karena tidak bisa dimakan dan tidak laku di pasar dekat,” kenang Asep. Tapi panen perdana 2001 mengubah persepsi: harga nilam saat itu tembus Rp2,5 juta/kg, warga melihat sendiri uangnya berputar, dan lahan-lahan kosong mulai ditanami. “Jangan gengsi, bertani itu ibadah,” tegas Ruslan kepada Petik Hasil.
Berita Lainya: Dari 5.000 Bibit Menjadi 500: Jatuh Bangun Petani Nilam Subang
Keterampilan, Bukan Keberuntungan
Mereka menegaskan, atsiri butuh keterampilan: pilih lahan, uji pH air–tanah, disiplin bibit–pemangkasan–panen, dan paham mutu minyak. Soal pasar, jangan terburu “ekspor dulu”; kuasai spesifikasi, konsisten pasok, bangun reputasi. “Harapan kami, generasi muda jadi produsen produk bukan hanya crude oil.
Parfum, balm, aromaterapi karya anak negeri,” kata Asep. Di kebun kecil Subang, atsiri bukan sekadar komoditas, melainkan jalan hidup: membuka kerja, menaikkan martabat, dan membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari desa.






