Petikhasil.id, BANDUNG – Berbuka puasa identik dengan makanan manis dan menyegarkan. Setelah seharian menahan lapar dan haus, tubuh membutuhkan asupan energi yang cepat namun tetap ramah di lambung. Salah satu pilihan yang kini banyak diminati adalah jelly berbahan dasar rumput laut.
Teksturnya lembut, rasanya ringan, dan terasa segar di tenggorokan. Namun di balik itu, jelly rumput laut menyimpan manfaat gizi yang tidak banyak disadari.
Sumber Serat Saat Pola Makan Berubah
Jelly umumnya dibuat dari olahan rumput laut yang mengandung serat pangan. Selama Ramadan, pola makan masyarakat berubah drastis. Waktu makan lebih singkat dan sering kali didominasi makanan tinggi gula serta lemak.
Asupan serat yang cukup menjadi penting untuk menjaga sistem pencernaan tetap optimal. Serat membantu memperlambat penyerapan gula, menjaga rasa kenyang lebih lama, serta mendukung kesehatan saluran cerna.
Menurut pedoman gizi seimbang Kementerian Kesehatan, kebutuhan serat orang dewasa berkisar 25 hingga 30 gram per hari. Saat puasa, risiko sembelit meningkat akibat kurangnya cairan dan perubahan pola konsumsi. Di sinilah makanan berbasis rumput laut bisa menjadi alternatif tambahan sumber serat.
Baca Lainya: Gak Banyak yang Tahu Sahur Terlalu Kenyang Justru Bikin Cepat Lemas, Ini Pola Makan yang Lebih Tepat | Dari Kurma Hingga Timun Suri, Ramadan Menggerakkan Rantai Pangan dari Petani ke Meja Buka Puasa
Ringan di Lambung dan Bantu Hidrasi
Tekstur jelly yang lembut membuatnya relatif mudah dicerna setelah berbuka. Berbeda dengan gorengan atau makanan berat yang dapat membebani lambung, jelly cenderung terasa ringan dan tidak membuat perut terasa penuh secara berlebihan.
Produk berbasis rumput laut juga mengandung kadar air cukup tinggi. Kandungan ini membantu tubuh memulai proses rehidrasi setelah seharian berpuasa. Meski bukan pengganti air putih, konsumsi jelly dapat menjadi pelengkap asupan cairan saat berbuka.
Tetap Perlu Konsumsi Seimbang
Meski memiliki manfaat serat dan relatif rendah lemak, konsumsi jelly tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan gizi harian. Kandungan gula tambahan pada beberapa produk perlu diperhatikan agar tidak berlebihan.
Prinsipnya, berbuka sebaiknya diawali dengan yang manis secukupnya, lalu dilanjutkan makanan utama yang seimbang antara karbohidrat, protein, sayur, dan buah.
Tren Takjil Kreatif Berbasis Jelly
Menyambut Ramadan, sejumlah pelaku usaha kuliner menghadirkan inovasi berbasis jelly rumput laut. Salah satunya melalui Nutrijell Takjell Festival yang digelar pada 27 Februari hingga 1 Maret 2026 di Main Atrium Gandaria City, Jakarta.
Festival ini menghadirkan 21 tenant makanan dan minuman yang mengolah jelly menjadi berbagai kreasi takjil, mulai dari pastry, donat, es krim, hingga minuman berbasis kopi.
Senior Brand Manager Nutrijell, Helen Lie, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku F&B dan UMKM lokal untuk memperluas pasar di momentum Ramadan.
Menurutnya, kolaborasi ini tidak hanya menghadirkan ragam kreasi takjil, tetapi juga menjadi upaya mendukung pertumbuhan pelaku usaha kecil agar lebih dikenal konsumen.
Baca Lainya: Gak Banyak yang Tahu Sahur Terlalu Kenyang Justru Bikin Cepat Lemas, Ini Pola Makan yang Lebih Tepat | Dari Kurma Hingga Timun Suri, Ramadan Menggerakkan Rantai Pangan dari Petani ke Meja Buka Puasa
Alternatif Takjil yang Lebih Ramah Tubuh
Kebiasaan berbuka dengan makanan tinggi gula dan lemak memang sulit dihindari. Namun pilihan yang lebih ringan dan berserat dapat membantu tubuh beradaptasi lebih baik selama Ramadan.
Jelly berbahan rumput laut bisa menjadi salah satu opsi takjil yang menyegarkan sekaligus mendukung kebutuhan serat harian. Selama dikonsumsi dalam porsi wajar dan tetap diimbangi makanan bergizi seimbang, pilihan ini dapat menjadi bagian dari pola berbuka yang lebih sehat.
Di bulan Ramadan, bukan hanya rasa yang dicari, tetapi juga keseimbangan. Dari rumput laut yang diolah menjadi jelly, ada upaya kecil menjaga pencernaan tetap lancar di tengah perubahan ritme makan. (PtrA)






