Petikhasil.id, BANDUNG — Insiden macan tutul yang masuk area hotel di Bandung kembali mengingatkan pada persoalan lama: makin sempitnya ruang hidup satwa liar dan petani di kawasan pegunungan.
Selama dua dekade terakhir, bentang alam Bandung Utara dan Selatan mengalami perubahan besar-besaran. Lahan pertanian dan hutan diubah menjadi kawasan wisata, vila, hingga kebun campuran. Menurut data Global Forest Watch dan KLHK, Jawa Barat kehilangan lebih dari 60 ribu hektare tutupan hutan antara 2015–2023, sebagian besar di wilayah Priangan.
Baca Lainya: Macan Tutul Masuk Area Hotel Bandung, Pengingat tentang Keseimbangan Alam dan Lahan Pertanian
Ketika hutan mengecil, rantai ekologi ikut bergeser. Satwa predator seperti macan tutul kehilangan mangsa alaminya dan turun ke kawasan manusia untuk mencari makan. Sementara petani yang menggantungkan hidup di tepi hutan, kini harus bersaing dengan pembangunan yang terus meluas.
“Dulu di Ciwidey masih banyak pohon besar dan hutan lebat. Sekarang sudah jadi kebun dan tempat wisata. Hewan pun kehilangan tempatnya,” ujar salah satu petani hortikultura di Rancabali.
Fenomena ini bukan hanya tentang satwa liar yang “menyerang” manusia, tapi tentang ruang ekologis yang tumpang tindih. Ketika pohon hilang, sumber air pun berkurang. Di beberapa kecamatan seperti Pangalengan dan Kertasari, debit air untuk irigasi turun drastis hingga 30% pada musim kemarau 2024 (data Dinas Pertanian Jabar).
Konflik ruang ini memperlihatkan bahwa pertanian, kehutanan, dan pariwisata saling terhubung. Tanpa tata kelola ruang yang adil, baik petani maupun satwa akan sama-sama kehilangan tempat hidup.
Solusi jangka panjang, menurut pakar IPB University, ada pada penguatan zona penyangga hutan berbasis agroforestri menanam pohon keras dan tanaman bernilai ekonomi secara berdampingan. Dengan begitu, petani tetap produktif, hutan tetap hijau, dan satwa tidak perlu “turun gunung” lagi.***






