Petikhasil.id, GARUT — Di sebuah rumah sederhana bercat krem di lereng Gunung Cikuray, seorang lelaki bersepatu boot cokelat melangkah keluar membawa topi lusuh. Namanya Isep Heri Herdiansyah, petani muda yang memilih jalan tak biasa: meninggalkan karier jurnalis dan kembali ke tanah kelahirannya demi satu tujuan menyelamatkan jeruk Garut dari kepunahan.
Udara lembap pagi itu terasa pekat. Dari rumah menuju kebun, Isep menyusuri jalan setapak yang dikelilingi sawah menguning dan barisan pohon kopi muda. Ia menyapa warga desa dengan hangat, menerima doa sederhana yang berarti besar, “Mugi buahna loba, Sep.”
Di depan sana, hamparan kebun jeruk seluas enam hektare menanti kebun yang menjadi saksi upaya menghidupkan kembali buah kebanggaan masyarakat Garut.
Dari Masa Keemasan hingga Nyaris Hilang dari Peta
Tiga dekade lalu, jeruk keprok Garut adalah primadona.
Manis, harum, kulitnya mudah dikupas, dan dikenal hingga ke Singapura. Tahun 1980-an, hampir setiap rumah di lereng Cikuray punya kebun jeruk. Anak-anak bermain di bawah rindangnya pohon, dan truk-truk pengangkut datang silih berganti membawa hasil panen ke kota.
Namun badai datang.
Wabah virus CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) dan serangan Diplodia menghancurkan kebun-kebun jeruk. Daun menguning, batang mengering, hingga akhirnya Pemerintah Kabupaten Garut mengeluarkan moratorium penanaman jeruk pada 1998.
Hampir 80% tanaman mati.
Dari 1.500 hektare lahan jeruk yang dulu membentang, kini hanya tersisa 47 hektare aktif (data Dinas Pertanian Kabupaten Garut, 2024). Jeruk Garut buah kebanggaan itu nyaris hilang dari peta pertanian Indonesia.
Ketika Wartawan Memilih Pulang dan Menggenggam Cangkul
Isep tumbuh di tengah masa kelam itu. Ia menyaksikan ayahnya kehilangan mata pencaharian, hingga akhirnya ia memilih pergi ke kota dan berkarier sebagai jurnalis. Bertahun-tahun menulis tentang politik dan ekonomi membuatnya mapan tapi juga hampa.
Berita Lainya: Ternyata Jeruk Dekopon Jepang Punya Jejak dari Garut? Fakta dan Mitos di Baliknya | 5 Buah Lokal Indonesia yang Nyaris Punah tapi Bernilai Tinggi
Tahun 2018, sepulang dari liputan di Bandung, Isep menengok kebun ayahnya. Yang tersisa hanyalah batang-batang kering dan rumput liar. “Waktu itu saya merasa bersalah. Bapak sudah tua, kebun dibiarkan. Saya di kota merasa modern, tapi kampung halaman sekarat,” kenangnya.
Tiga tahun kemudian, ia membuat keputusan besar pulang kampung. Ia menanam 1.500 pohon jeruk dari varietas keprok Garut, siam madu, dan pamelo dengan sistem organik penuh. Pupuknya dari fermentasi kotoran kambing, pestisida diganti perangkap alami, dan air dijaga keseimbangannya.
“Butuh tiga tahun baru berbuah optimal,” ujarnya sambil tersenyum, menunjukkan jeruk berwarna jingga dengan aroma segar. Produksinya kini 7–10 ton per tahun. Tak sebesar dulu, tapi kualitasnya menyaingi buah impor. Ia menjual langsung lewat Instagram dan e-commerce lokal, dengan harga Rp35.000/kg dan margin bersih 30%. “Dulu bapak jual ke tengkulak. Sekarang saya jual langsung. Nilainya dua kali lipat,” ujarnya bangga.
Harapan Baru, Kredit Ringan untuk Petani Desa
Meski berhasil menanam kembali jeruk, perjuangan Isep belum selesai. Masalah terbesar kini adalah akses permodalan. “Bank minta sertifikat tanah dan laporan keuangan rapi. Padahal kami baru mulai,” keluhnya. Ia berharap program kredit mikro bunga ringan bisa menjangkau petani seperti dirinya.
Kepala Bank Indonesia Jawa Barat, Muhammad Nur, menilai masalah ini memang klasik. Kontribusi UMKM ke PDB nasional mencapai 61%, tapi pembiayaan perbankan stagnan di angka 18–20% dalam lima tahun terakhir. “Kesenjangan informasi antara perbankan dan petani membuat akses pembiayaan sulit dijangkau,” katanya.
Bank Indonesia kini mendorong program business matching, pendampingan, dan kebijakan penghapusan piutang macet UMKM (PP No. 47 Tahun 2024) untuk memperkuat sektor produktif seperti pertanian dan perkebunan.
Menanam Kembali Harapan dan Martabat
Kini Isep mengelola 6 hektare lahan jeruk, sekaligus membina 15 anak muda desa agar mau bertani. Mereka membentuk komunitas tani muda yang fokus pada pertanian organik dan regenerasi petani lokal.
“Saya tidak mau jadi petani terakhir di desa ini,” tegasnya. Bersama rekan-rekannya, ia menanam kopi, sereh, dan jeruk, sambil belajar pemasaran digital dan branding produk pertanian.
Pemerintah Kabupaten Garut pun mulai melirik kembali potensi ini. Tahun 2025, mereka meluncurkan program Revitalisasi Jeruk Garut dengan target 100 hektare lahan organik dalam lima tahun. Isep kini menjadi fasilitator petani muda.
Setiap pagi, ia berjalan di antara pohon-pohon jeruk dengan tangan penuh tanah dan hati penuh keyakinan. “Bertani dan menulis itu sama. Sama-sama menanam, sama-sama butuh kesabaran,” katanya.
Di lereng Gunung Cikuray, jeruk Garut perlahan kembali hidup. Bukan karena bantuan besar, tapi karena cinta yang sederhana cinta seorang anak desa yang memilih pulang.
Jeruk Garut pernah hampir punah. Tapi berkat tangan-tangan sabar seperti Isep Heri Herdiansyah, warisan itu kini tumbuh lagi, berbuah, dan mengajarkan arti paling dalam dari bertani: menanam harapan di atas tanah sendiri.






