Petikhasil.id, JAKARTA — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut ada 1,6 juta lapangan pekerjaan terbuka di sektor pertanian. “Lapangan kerja hampir 1 juta terbuka sektor pertanian,” kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Lebih lanjut, Amran menuturkan setidaknya akan ada 1,6 juta lapangan pekerjaan yang akan terbuka hingga dua tahun ke depan. “1,6 [juta lapangan pekerjaan], target kita. 2 tahun,” ujarnya.
Adapun, 1,6 juta lapangan pekerjaan itu melalui program hilirisasi perkebunan yang terdiri dari kopi, kakao, mete, dan kelapa dalam. Selain terbukanya lapangan pekerjaan, Amran menyebut bahwa sektor pertanian juga menunjukkan kinerja positif. Salah satunya adalah ketersediaan stok beras nasional yang disebut mencapai titik tertinggi tanpa harus membuka keran impor.
“Yang terpenting hari ini tidak ada impor beras, benar nggak sampai sekarang [tidak ada impor beras]? Yang kedua, stoknya tertinggi. Yang ketiga, kesejahteraan petani meningkat,” ujarnya.
Berita Lainya: Edukasi Pertanian untuk Anak: Cara Nabila Farm Melahirkan Generasi Petani Muda | Kontribusi Pertanian Masih Kecil, Ekspor Jawa Barat Turun di Agustus 2025
Amran menambahkan, sektor pertanian saat ini juga menjadi salah satu kontributor utama terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. “Yang kelima, [sektor pertanian] penyumbang PDB,” tegasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan nilai tukar petani (NTP) naik 0,63% secara bulanan (month-to-month/mtm) menjadi 124,36 pada September 2025. Adapun, NTP tertinggi terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat dan peternakan.
Asal tahu saja, jika NTP naik, maka harga hasil panen petani naik lebih cepat daripada harga barang-barang yang mereka beli.
NTP sendiri merupakan indikator yang mengukur kemampuan daya beli petani di pedesaan, menunjukkan seberapa baik mereka bisa bertukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang dibutuhkan.
Dalam hal ini, NTP dihitung dengan membandingkan indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib).
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah menuturkan bahwa NTP pada September 2025 naik dibandingkan dengan periode Agustus 2025 yang berada di level 123,57.
“Peningkatan NTP ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani atau It naik sebesar 0,71%, lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang dibayarkan petani atau Ib yang sebesar 0,08%,” ujar Habibullah dalam konferensi pers Rilis BPS, Senin (1/10/2025).
Data BPS menunjukkan, nilai It mengalami kenaikan sebesar 0,71% dari 153,95 pada Agustus 2025 menjadi 155,04 pada September 2025. Adapun, komoditas penyumbang It secara nasional adalah kopi, kelapa sawit, cabai merah, dan karet.
Di sisi lain, nilai Ib naik 0,08% dari 124,58 pada Agustus 2025 menjadi 124,67 pada September 2025. Komoditas penyumbang poada Ib di antaranya cabai merah, daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), dan telur ayam ras.
Lebih jauh, subsektor yang mengalami peningkatan NTP tertinggi adalah subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) sebesar 1,57% dari 157,30 pada Agustus 2025 menjadi 159,77 pada September 2025.
“Subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalmai peningkatan NTP sebesar 1,57%. Hal ini karena It naik sebesar 1,68%, lebih tinggi dari kenaikan Ib,” lanjutnya.
Sementara itu, untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan It adalah kopi, kelapa sawit, karet, dan cengkih.***






