Kontribusi Pertanian Masih Kecil, Ekspor Jawa Barat Turun di Agustus 2025

Petikhasil.id, — Nilai ekspor Jawa Barat pada Agustus 2025 tercatat menurun 1,10 persen dibanding bulan sebelumnya, dari US$3,51 miliar menjadi US$3,47 miliar. Penurunan juga terjadi secara tahunan (year on year) sebesar 1,88 persen.

Namun di balik fluktuasi ekspor industri dan migas, sektor pertanian kembali menunjukkan peran kecil tapi strategis bagi ekonomi daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, kontribusi ekspor pertanian masih berada di kisaran 0,56 persen dari total ekspor provinsi. Angka ini memang kecil, tetapi tetap menjadi penopang penting dalam keberlanjutan neraca dagang.

Tantangan: Kontribusi Naik, tapi Belum Signifikan

Kepala BPS Jawa Barat, Darwis, menjelaskan bahwa secara kumulatif Januari–Agustus 2025, nilai ekspor provinsi ini justru masih tumbuh positif 3,12 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. “Kinerja ekspor masih cukup menggembirakan, terutama karena konsistensi produk pertanian dan olahan pangan yang tetap diminati pasar Asia Tenggara,” ujarnya, dikutip dari rilis resmi BPS.

Darwis merinci, dari seluruh sektor, industri masih mendominasi dengan kontribusi 98,71 persen, migas 0,72 persen, pertanian 0,56 persen, dan tambang 0,01 persen. Produk pertanian unggulan seperti kopi, teh, dan hasil hortikultura menjadi komoditas ekspor yang masih mencatat permintaan stabil, terutama ke negara-negara tetangga seperti Filipina dan Vietnam.

Sementara itu, Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang tetap menjadi tiga negara tujuan ekspor utama Jawa Barat. “Nilai ekspor ke Amerika Serikat masih mencapai US$4,27 miliar, diikuti Filipina US$2,32 miliar, dan Jepang US$0,01 miliar,” jelas Darwis.

Potensi Ekspor Pangan Lokal Masih Terbuka

Meski pertumbuhan ekspor pertanian masih terbatas, sejumlah pakar menilai peluang perluasan pasar masih besar. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (2024), Jawa Barat memiliki lebih dari 1,2 juta hektare lahan potensial untuk tanaman ekspor seperti teh, kopi, edamame, dan hortikultura tropis.

Peneliti IPB University, Dr. Rahmat Suryana, menyebutkan hambatan utama ekspor pertanian Jawa Barat ada pada aspek pascapanen dan standar mutu. “Petani kita sudah mampu menghasilkan produk unggul, tetapi belum semua mengikuti sertifikasi Good Agricultural Practice (GAP). Padahal itu kunci untuk masuk pasar ekspor,” ujarnya kepada Petik Hasil.

Berita Lainya: Ekspor dan Mimpi Petani Muda: Dari Cimanggu ke Dunia | Prospek Kelinci: Niche, Wisata Edukasi, dan Kelas Ekspor

Sementara itu, nilai impor Jawa Barat justru naik tipis 0,60 persen pada Agustus 2025 menjadi US$1,04 miliar, terutama dari mesin pertanian dan pupuk kimia asal Tiongkok dan Jepang. Walau demikian, secara kumulatif Januari–Agustus 2025, impor turun 5,96 persen dibanding tahun sebelumnya.

Neraca perdagangan Jawa Barat tetap surplus sebesar US$17,52 miliar. Surplus ini memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk memperkuat investasi sektor pangan, terutama ekspor hasil tani dan olahan berbasis agroindustri.

“Kalau kita bisa menambah porsi ekspor pertanian hingga 2–3 persen saja, dampaknya luar biasa bagi kesejahteraan petani,” tambah Rahmat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *