Usaha Sapi Perah di Arjasari Masih Menjanjikan untuk Anak Muda

Petikhasil.id, ARJASARI — Banyak anak muda mengira masa depan harus dicari jauh dari kandang. Namun kisah peternak sapi perah di Arjasari memberi gambaran lain. Dari kawasan ini, usaha susu justru masih tumbuh, memberi penghidupan, dan membuka jalan bagi generasi muda untuk bertahan di kampungnya sendiri.

Liputan Petik Hasil pada 15 April 2026 menangkap kenyataan itu secara dekat. Bagi para peternak di Arjasari, sapi perah bukan sekadar warisan keluarga. Mereka melihatnya sebagai peluang nyata. Dari kandang, mereka bisa membangun penghasilan, menyerap tenaga kerja, dan menjaga roda ekonomi desa tetap bergerak.

Anak muda mulai melihat kandang sebagai peluang

Jefri Tiar Purmadi, Ketua Kelompok Ternak Sukasari, bercerita bahwa selepas kuliah ia sempat ingin menjadi tentara. Namun rencana itu tidak berjalan. Di saat yang sama, ia melihat ada usaha yang sudah tumbuh di depan mata. Dari situ ia memilih meneruskan dan mengembangkan peternakan keluarga. Keputusan itu lahir dari pertimbangan yang sederhana. Sesuatu yang sudah ada kadang lebih masuk akal untuk dibesarkan daripada meninggalkannya dan memulai semuanya dari nol.

Baca Lainya: Peternakan Sapi Perah Djarum Dibangun di Brebes | Dari Arjasari Ehen dan Jefry Menjaga Susu dan Harapan Peternak Desa

Pilihan itu juga membawa pesan yang lebih luas. Menurut Jefri, anak muda tidak perlu malu menjadi peternak. Ia melihat sendiri bahwa usaha ternak tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Banyak peternak muda kini mampu menghidupi keluarga, menyekolahkan anak, dan membangun usaha yang lebih tertata. Karena itu, kandang bukan lagi simbol pekerjaan yang tertinggal. Bagi sebagian orang, kandang justru menjadi tempat bertumbuh.

Susu lahir dari kerja yang telaten

Beternak sapi perah tidak pernah ringan. Setiap hari, peternak harus menjaga pola makan, kebersihan, dan kondisi sapi dengan disiplin. Sapi dimandikan, diberi air minum bersih, diberi hijauan, konsentrat, dedak, ampas tahu, hingga vitamin. Jadwalnya juga tidak bisa sembarangan. Pemerahan dimulai sejak sekitar pukul lima pagi, lalu berlanjut lagi pada sore hari. Ritme seperti ini berjalan terus, tanpa peduli hujan atau panas.

Bagi Jefri, merawat sapi mirip seperti merawat anak. Perlakuan yang baik akan kembali dalam bentuk hasil yang baik. Kalau pakan terjaga dan sapi sehat, susu yang keluar pun lebih bagus. Anak yang lahir juga lebih sehat. Dari cara pandang ini, beternak tidak hanya soal produksi. Ia menuntut kesabaran, perhatian, dan ketekunan yang panjang.

Kelompok Sukasari tumbuh dari masa sulit

Perjalanan Kelompok Ternak Sukasari tidak langsung mulus. Pada 2015, koperasi tempat para peternak menyetor susu justru bubar. Situasi itu membuat mereka kehilangan saluran pascapanen yang penting. Dari keadaan itulah Kelompok Ternak Sukasari lahir. Mereka memulai dari nol, dengan pengetahuan pengolahan susu yang masih terbatas dan fasilitas yang belum memadai.

Awalnya, kelompok ini hanya menghimpun sekitar 300 liter susu per hari dari 15 anggota. Kini, jumlah itu sudah berkembang menjadi sekitar 4 ton susu per hari dari kandang sendiri dan peternak sekitar. Susu tersebut kemudian disalurkan ke pabrik pengolahan dan pasar lain yang membutuhkan. Perjalanan itu menunjukkan satu hal penting. Ketika peternak mampu membangun sistem penampungan sendiri, mereka tidak hanya menjual susu, tetapi juga memperkuat posisi usahanya.

Produksi susu bisa besar, tetapi risikonya tetap ada

Usaha sapi perah memang menjanjikan, tetapi tidak pernah bebas risiko. Salah satu tantangan terbesar adalah masa kering kandang. Pada fase ini, sapi tidak menghasilkan susu. Padahal biaya pakan, tenaga kerja, dan kebutuhan kandang tetap berjalan. Bagi peternak, masa seperti itu bisa cukup berat karena pengeluaran tetap keluar sementara pemasukan menurun.

Risiko lain juga selalu mengintai. Kematian ternak menjadi momok paling berat, terutama bagi peternak kecil yang hanya punya satu atau dua ekor sapi. Penyakit pun tetap menjadi ancaman, termasuk demam tiga hari dan PMK. Meski begitu, para peternak di Arjasari tetap bertahan. Mereka paham bahwa usaha sapi perah bergerak dalam siklus. Ada masa sapi berada di puncak produksi, ada masa istirahat, dan ada masa sulit yang harus dilalui dengan sabar.

Dari kandang, ekonomi kampung ikut bergerak

Manfaat peternakan sapi perah di Arjasari tidak berhenti pada pemilik kandang. Usaha ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Jefri menyebut ada delapan pekerja yang membantu kegiatan di kandangnya, dan sebagian besar berasal dari lingkungan setempat. Bagi desa, kondisi seperti ini penting. Artinya, kandang tidak hanya menghasilkan susu, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi lokal.

Peran penyuluh pertanian juga ikut terasa. Agus Sofian, penyuluh pertanian yang mendampingi wilayah tersebut, menjelaskan bahwa peternak sempat menghadapi masalah limbah. Dahulu, limbah ternak banyak dibuang ke sungai. Kini, lewat pendampingan dan bantuan fasilitas, limbah itu mulai diolah menjadi pupuk organik. Setelah itu, pupuk dikembalikan ke kebun rumput odot. Rumputnya lalu dipakai lagi untuk pakan ternak. Kotoran ternak juga mulai diarahkan menjadi gas rumah tangga. Pola ini membuat peternakan lebih terhubung dengan kebun dan lingkungan sekitar.

Pasar susu masih terbuka

Salah satu alasan utama para peternak bertahan adalah pasar susu yang masih menjanjikan. Menurut Jefri, permintaan susu tetap ada. Selama kualitas dan kuantitas terjaga, hasil ternak masih bisa terserap. Keyakinan yang sama juga disampaikan penyuluh pertanian. Ia melihat peluang pasar masih terbuka, termasuk selama peternak mampu menjaga mutu susu yang dihasilkan.

Harapan itu membuat banyak peternak tetap optimistis. Mereka sadar usaha ini tidak memberi hasil instan. Namun mereka juga tahu bahwa susu tetap dibutuhkan masyarakat. Selama kandang terurus dan manajemen makin baik, usaha sapi perah masih punya ruang untuk berkembang.

Jangan malu jadi peternak

Pesan yang paling kuat dari liputan ini justru datang dari kalimat yang sangat sederhana. Anak muda tidak perlu malu menjadi peternak. Bagi Jefri, pekerjaan yang terlihat kotor belum tentu miskin nilai. Dari kandang, ia bisa hidup, membantu keluarga, dan mempekerjakan orang lain. Dari susu, ia melihat masa depan yang tetap mungkin tumbuh di desa.

Peternak juga menanggung kerja yang tidak selalu terlihat orang luar. Mereka memikul rumput dari ladang yang curam, menjaga sapi tetap sehat, dan bangun subuh setiap hari untuk memerah susu. Orang sering hanya melihat segelas susu yang siap diminum. Padahal sebelum itu, ada tenaga, waktu, dan pikiran yang dikeluarkan panjang lebar.

Baca Lainya: Peternakan Sapi Perah Djarum Dibangun di Brebes | Dari Arjasari Ehen dan Jefry Menjaga Susu dan Harapan Peternak Desa

Arjasari memberi jawaban yang cukup tenang untuk pertanyaan banyak anak muda hari ini. Usaha sapi perah masih menjanjikan, tetapi tidak instan. Ia bisa menghidupi, tetapi menuntut kedisiplinan. Ia membuka peluang, tetapi mengharuskan orang sabar menghadapi siklus dan risiko. Dari kandang-kandang itulah harapan tumbuh, pelan tetapi nyata. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *