Dari Arjasari Ehen dan Jefry Menjaga Susu dan Harapan Peternak Desa

Petikhasil.id, ARJASARI — Banyak orang di Bandung lebih dulu menyebut Lembang atau Pangalengan saat bicara soal susu sapi. Dua nama itu memang sudah lama dikenal sebagai kawasan peternakan sapi perah. Namun di selatan Kabupaten Bandung, ada cerita lain yang tumbuh lebih tenang, jauh dari sorotan besar, tetapi tidak kalah kuat.

Di Arjasari, tepatnya di Kampung Babakan Mantri, Desa Pinggirsari, Ehen (52) menjaga hidup dari kandang, susu, dan kerja panjang yang ia bangun sejak muda. Dari tempat itu, ia tidak hanya membesarkan ternak, tetapi juga menumbuhkan penghidupan bagi orang-orang di sekitarnya.

Kepada Petik Hasil, Selasa (14/4/2026), Ehen menuturkan bahwa jalan hidupnya di peternakan tidak dimulai dari keadaan mapan. Saat masih muda, ia justru menjual motor Karisma pemberian ayahnya untuk membeli sapi perah. Di saat banyak anak muda merasa bangga punya sepeda motor, Ehen memilih menukar kebanggaan itu dengan ternak dan tanggung jawab yang jauh lebih berat.

Baca Lainya: Majalengka Bangun Sentra Sapi Perah Baru untuk Dorong Produksi Susu Jawa Barat | Susu A2 Jadi Tren Baru Peternak Sapi Perah di Jawa Barat

Pilihan itu menjadi titik awal usaha yang kini memelihara lebih dari 100 ekor sapi di salah satu kandangnya. Dari keputusan yang tampak sederhana itulah, hidupnya pelan-pelan berubah.

Menjual motor, memilih kandang

Bagi Ehen, peternakan sapi perah bukan usaha yang bisa dijalani setengah hati. Ada ritme yang harus dijaga setiap hari. Pakan harus tersedia, kandang harus bersih, ternak harus sehat, dan susu harus tetap bermutu. Semua itu tidak memberi hasil instan.

Ehen menuturkan kepada Petik Hasil bahwa ia melihat sapi perah sebagai jalan hidup yang bisa ia tekuni dengan sungguh-sungguh. Dari beberapa ekor sapi, usahanya tumbuh sedikit demi sedikit. Ia tidak membangun peternakan dengan langkah besar yang cepat, tetapi dengan kerja yang sabar dan berulang.

Di dunia peternakan rakyat, cara seperti itu justru sering menjadi penentu. Bukan siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling tahan menjaga ritme.

Usaha yang ikut membuka kerja di desa

Hari ini, usaha itu bukan hanya menghidupi keluarganya. Di salah satu kandang miliknya, delapan orang bekerja setiap hari. Ehen juga dikenal sebagai Ketua Kelompok Tani Sukasari, Arjasari, yang ia dirikan pada 2015.

Menurut Ehen, kelompok itu dibentuk bukan semata untuk kepentingan usahanya sendiri. Ia ingin peternak lain di sekitarnya juga bisa tumbuh. Ada semangat berbagi pengalaman, membantu sesama peternak, dan membuka peluang kerja di desa.

Dalam konteks seperti itu, peternakan tidak lagi hanya soal memerah susu dan menyiapkan pakan. Ia juga menjadi ruang sosial. Dari satu kandang, lahir penghidupan bagi beberapa keluarga lain.

Di saat penciptaan lapangan kerja sering dibicarakan dalam angka-angka besar, kisah seperti ini terasa lebih nyata. Ehen dan keluarganya tidak menunggu perubahan datang dari luar desa. Mereka menumbuhkannya dari kandang sendiri.

Arjasari yang tidak banyak dikenal sebagai daerah susu

Cerita Ehen juga memperlihatkan satu hal yang sering luput dari perhatian. Tidak banyak orang langsung menyebut Arjasari saat bicara soal daerah penghasil susu sapi. Banyak warga Bandung lebih akrab dengan nama Lembang atau Pangalengan.

Padahal, Jawa Barat masih menjadi salah satu sentra susu sapi terbesar di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat produksi susu sapi segar Jawa Barat pada 2023 mencapai 679,7 juta kilogram. Angka itu naik menjadi 706,3 juta kilogram pada 2024, lalu kembali naik menjadi 714,3 juta kilogram pada 2025.

Di tingkat daerah, Kabupaten Bandung juga memegang peran penting. Open Data Jawa Barat mencatat Kabupaten Bandung menjadi penghasil susu sapi terbesar di Jawa Barat pada 2023 dengan produksi 68.867 ton.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa peternakan susu di Kabupaten Bandung sesungguhnya lebih luas daripada gambaran populer yang selama ini dikenal orang. Arjasari mungkin tidak terlalu sering disebut, tetapi dari kandang-kandang seperti milik Ehen, susu tetap mengalir sebagai bagian dari ekonomi desa.

Menjaga mutu, menjaga kepercayaan

Bagi peternak rakyat, mutu adalah hal yang tidak bisa ditawar. Susu segar harus cepat bergerak dan kualitasnya harus terjaga. Karena itu, kebersihan kandang menjadi bagian penting dari usaha sehari-hari.

Kandang milik Ehen dijaga tetap bersih dan tertata. Letaknya juga berada di kawasan Arjasari yang pemandangannya indah. Keluarga Ehen menyebut bentang alam di sana mengingatkan mereka pada Dieng.

Menurut penuturan Ehen, hasil susu dari usaha mereka rutin terserap oleh perusahaan pengolahan susu besar. Namun bagi mereka, yang paling penting bukan hanya kepada siapa susu dijual, melainkan bagaimana kualitasnya tetap dijaga agar kepercayaan pasar tidak putus.

Di tempat itu, pengunjung juga kerap datang. Ada pesepeda yang singgah, ada keluarga yang membawa anak-anak untuk melihat sapi, dan ada pembeli yang datang langsung untuk membeli susu segar.

Jefry dan jalan yang semula tidak direncanakan

Di balik usaha yang terus berjalan, Ehen juga sedang memikirkan keberlanjutan. Di usianya yang kini tidak muda lagi, ia sadar tongkat estafet suatu hari harus berpindah. Karena itu, ia berharap usaha ini dilanjutkan oleh anaknya, Jefry (26).

Namun jalan Jefry menuju kandang tidak datang begitu saja. Kepada Petik Hasil, Jefry bercerita bahwa dulu ia tidak terlalu tertarik masuk ke dunia peternakan. Ia sempat bercita-cita menjadi abdi negara dan ingin mendaftar TNI. Namun kesempatan itu lewat karena ia terlambat mendaftar.

Dari sana, arah hidupnya perlahan berubah. Ia memilih sekolah manajemen agar bisa membantu ayahnya mengembangkan usaha keluarga. Awalnya, ia belum benar-benar melihat peternakan sebagai masa depan. Tetapi setelah mulai terlibat, pandangannya berubah.

Regenerasi yang tumbuh dari pengalaman

Jefry menuturkan bahwa setelah dijalani, profesi ini ternyata jauh lebih menjanjikan daripada yang dulu ia bayangkan. Ada usaha yang nyata, ada omset yang mampu menghidupi keluarga, dan ada pekerjaan yang bisa membuka penghidupan bagi orang sekitar.

Pengalaman itu mengubah cara pandangnya. Apa yang dulu terlihat sebagai pekerjaan berat di desa, kini justru ia lihat sebagai usaha yang punya masa depan. Di tengah isu regenerasi petani dan peternak yang sering tersendat, kisah Jefry memberi gambaran bahwa anak muda sebenarnya bisa kembali ke sektor ini ketika mereka melihat sendiri hasilnya nyata.

Ia juga melihat bahwa peternakan tidak selalu jauh dari masyarakat. Menurut penuturan Jefry kepada Petik Hasil, pengunjung yang datang ke kandang bisa membeli susu segar langsung di tempat dengan harga sekitar Rp11 ribu per liter. Dari situ, peternakan tidak hanya menjadi ruang produksi, tetapi juga ruang perjumpaan antara peternak dan konsumen.

Baca Lainya: Majalengka Bangun Sentra Sapi Perah Baru untuk Dorong Produksi Susu Jawa Barat | Susu A2 Jadi Tren Baru Peternak Sapi Perah di Jawa Barat

Pada akhirnya, kisah Ehen dan Jefry bukan hanya tentang lebih dari 100 ekor sapi atau satu kandang yang mempekerjakan delapan orang. Nilai terbesarnya ada pada keberanian memilih jalan yang tidak populer, lalu merawatnya cukup lama hingga bisa menghidupi banyak orang.

Ehen menjual motor ketika muda untuk membeli sapi. Dari keputusan itu, ia membangun usaha, membuka lapangan kerja, dan menjaga agar desanya tetap punya penghidupan yang nyata. Kini, ketika Jefry mulai mengambil alih peran sedikit demi sedikit, cerita itu mengingatkan bahwa masa depan desa tidak selalu lahir dari hal yang gemerlap. Kadang ia tumbuh dari kandang yang bersih, susu yang diperah setiap pagi, dan kerja keras yang dijaga agar tidak putus di satu generasi. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *