Petikhasil.id, CIREBON — Produksi garam rakyat di Kabupaten Cirebon belum mampu memenuhi kebutuhan industri dan pelaku usaha di daerah sendiri. Kondisi itu membuat banyak industri masih mengandalkan pasokan garam dari luar daerah seperti Madura dan Pati.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Pengolahan dan Pengawasan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Cirebon Teguh Budiman mengatakan kebutuhan garam di Cirebon mencapai sekitar 126 ribu ton per tahun. Sementara petambak lokal hanya mampu memproduksi maksimal 90 ribu ton.
“Kalau dihitung, masih ada kekurangan sekitar 36 ribu ton. Jadi kebutuhan industri di Cirebon memang belum bisa dipenuhi seluruhnya oleh produksi garam lokal,” kata Teguh.
Baca Juga: KKP: Harga Garam RI Tinggi akibat Kendala Logistik
Kebutuhan garam itu datang dari berbagai sektor usaha, mulai dari industri pakan ternak hingga UMKM pengolahan pangan. Di Cirebon sendiri terdapat empat pabrik pakan ternak yang membutuhkan pasokan garam dalam jumlah besar.
Namun, petambak garam di wilayah pesisir Cirebon masih menghadapi banyak kendala. Cuaca menjadi salah satu persoalan utama yang terus memengaruhi produksi.
Cuaca Ganggu Produksi Garam
Teguh menjelaskan produksi garam sangat bergantung pada panas matahari. Saat hujan masih turun pada musim kemarau, proses penguapan air laut tidak berjalan maksimal.
“Produksi garam kita tidak bisa kontinu karena sangat bergantung cuaca,” ujarnya.
Fenomena kemarau basah dalam beberapa tahun terakhir membuat hasil panen petambak menurun. Kualitas garam juga ikut terdampak karena kadar air sulit turun secara optimal.
Dalam kondisi normal, petambak bisa memanen garam beberapa kali selama musim kemarau. Namun ketika hujan masih sering turun, petambak harus mengulang proses produksi dari awal.
Selain cuaca, persoalan infrastruktur juga ikut menghambat perkembangan tambak garam di Cirebon.
Jalan Tambak Masih Minim
Menurut Teguh, banyak kawasan tambak garam belum memiliki akses jalan yang memadai untuk kendaraan angkut besar. Kondisi itu membuat biaya distribusi garam lokal menjadi lebih mahal.
“Jalan usaha garam kita banyak yang belum ada. Harusnya ada akses untuk mobil angkut supaya distribusi lebih mudah,” kata Teguh.
Saat ini, banyak petambak masih memakai kendaraan kecil untuk mengangkut hasil panen dari tambak menuju gudang atau pasar distribusi. Akibatnya, pengiriman garam menjadi kurang efisien dan membutuhkan biaya lebih besar.
Kondisi tersebut membuat harga garam lokal sulit bersaing dengan pasokan dari luar daerah yang memiliki dukungan infrastruktur lebih baik.
Teguh mengatakan industri akhirnya memilih garam dari Madura dan Pati karena pasokannya lebih stabil.
“Mereka ambil dari Pati dan Madura karena pasokan di sana lebih kontinu. Industri pasti memilih yang suplainya stabil,” ujarnya.
Padahal, Cirebon memiliki potensi tambak garam yang cukup besar. Kawasan tambak tersebar di beberapa wilayah pesisir seperti Kapetakan, Suranenggala, dan Mundu.
DKPP Kabupaten Cirebon kini mendorong pembangunan akses jalan menuju kawasan tambak garam. Pemerintah juga mulai mendorong penggunaan teknologi geomembran agar produksi garam tidak terlalu bergantung pada cuaca.
“Kalau infrastruktur dan teknologi produksi diperbaiki, peluang garam Cirebon sebenarnya masih besar,” kata Teguh.
Di tengah tingginya kebutuhan industri, garam rakyat Cirebon sebenarnya masih menyimpan potensi besar. Namun tanpa perbaikan infrastruktur dan dukungan teknologi, petambak lokal akan terus kesulitan mengejar kebutuhan pasar yang terus tumbuh. (PtrA)






