Petikhasil.id, JAKARTA — Laut Indonesia menyimpan kekayaan yang melimpah. Namun, hingga kini sebagian besar hasil tangkapan dan budi daya masih dijual dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai ekonomi yang dinikmati nelayan, pembudi daya, dan pelaku usaha pesisir belum sebesar potensi yang dimiliki.
Di tengah tantangan perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, dan ketidakpastian ekonomi dunia, hilirisasi sektor kelautan dan perikanan menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Melalui hilirisasi, hasil laut tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah yang memiliki pasar lebih luas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) lapangan usaha perikanan atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp610,75 triliun pada 2025. Angka tersebut menegaskan bahwa sektor perikanan memiliki peran besar dalam perekonomian nasional.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga mencatat nilai ekspor produk perikanan sepanjang 2025 mencapai US$6,27 miliar atau tumbuh 5,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Neraca perdagangan sektor ini mencatat surplus US$5,60 miliar. Meski demikian, sebagian besar ekspor masih didominasi produk dengan tingkat pengolahan yang terbatas.
Baca Juga: Ikan Gabus dari Rawa, Sawah, hingga Parit, Fakta Unik Ikan Lokal yang Tangguh
Potensi Besar Belum Sepenuhnya Tergarap
Indonesia memiliki potensi sumber daya ikan yang sangat besar. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2022, potensi lestari sumber daya ikan mencapai 12,01 juta ton per tahun, dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebesar 8,6 juta ton.
Peluang serupa juga terlihat pada komoditas rumput laut. Produksi rumput laut nasional pada 2024 mencapai 10,80 juta ton. Namun, pemanfaatan lahan potensial untuk budi daya baru sekitar 11,65 persen. Kondisi ini menunjukkan ruang pengembangan sektor perikanan dan akuakultur masih terbuka lebar.
Di tingkat global, tren juga mengarah pada peningkatan peran akuakultur. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat produksi perikanan dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton pada 2022. Untuk pertama kalinya, produksi akuakultur melampaui perikanan tangkap sebagai sumber utama penyedia protein akuatik dunia.
Nilai Tambah Masih Menjadi Tantangan
Banyak hasil laut Indonesia masih dipasarkan dalam bentuk ikan segar atau beku. Padahal, komoditas tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti surimi, minyak ikan, kolagen, pangan fungsional, kosmetik berbahan laut, hingga bioplastik dari rumput laut.
Pengembangan industri pengolahan akan membuka peluang usaha baru di daerah pesisir. Tidak hanya nelayan yang memperoleh manfaat, tetapi juga pelaku UMKM, koperasi, perempuan pengolah hasil laut, hingga generasi muda yang ingin membangun usaha berbasis sumber daya lokal.
Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Infrastruktur rantai dingin belum merata, teknologi pengolahan masih terbatas, akses pembiayaan belum merata, dan hubungan antara riset, industri, serta pasar masih perlu diperkuat.
Baca Juga: Indramayu Siapkan Sentra Perikanan Pesisir
Jawa Barat Punya Peluang Besar
Jawa Barat menjadi salah satu provinsi yang memiliki potensi besar di sektor kelautan dan perikanan. Wilayah pantai utara seperti Indramayu, Cirebon, Subang, dan Karawang menjadi sentra perikanan tangkap maupun budi daya. Sementara itu, Kabupaten Pangandaran dan Sukabumi juga menjadi kawasan penting bagi perikanan laut di pesisir selatan.
Pengembangan industri pengolahan hasil perikanan di daerah-daerah tersebut dapat meningkatkan nilai jual komoditas sekaligus memperluas lapangan kerja. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya berhenti di tempat pelelangan ikan, tetapi juga mengalir hingga sektor pengolahan, distribusi, dan pemasaran.
Pada akhirnya, hilirisasi bukan sekadar membangun industri baru. Hilirisasi menjadi peluang agar hasil laut Indonesia memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat pesisir. Ketika ikan, udang, rumput laut, dan komoditas lainnya diolah menjadi produk bernilai tambah, kesejahteraan nelayan dan pembudi daya memiliki peluang untuk ikut tumbuh. Itulah fondasi penting dalam membangun ketahanan pangan sekaligus ekonomi biru yang berkelanjutan. (PtrA)






